Usaid bin Hudhair, Bacaan Al-Qur’annya Dicintai Malaikat

42
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Usaid bin Hudhair (أسيد بن حضير) kali pertama mendengar bacaan al-Quran adalah sewaktu beliau hadir ke majlis ta’lim Mus’ab bin Umair di kebun bani ‘Abd al-Asyhal. Hadirnya bukanlah diundang bahkan dengan tujuan untuk menghalang Mus’ab yang sedang berdakwah kepada penduduk Madinah setelah mendengar laporan daripada seseorang bahwa telah datang seorang pendakwah yakni Mus’ab dari Mekah berdekatan dengan kampung halaman mereka. Ketika itu Usaid bersama dengan Sa’ad bin Mu’az, yang mana mereka adalah pimpinan kepada kaum Aus. Justru sebagai ketua, Usaid bertanggungjawab terhadap segala yang berlaku dan tanpa lengah, dia mencapai tombaknya menuju ke tempat ta’lim Mus’ab bin Umair. As’ad bin Zurarah, nampak kehadiran Usaid lalu berkata kepada Mus’ab;

“Jika dia memeluk Islam, pasti ramai yang akan mengikutnya memeluk Islam. Oleh itu, berlaku benarlah dengan Allah ketika berhadapan dengannya. Terangkan Islam kepada beliau dengan sebaik mungkin.”

Usaid bin Hudhair berdiri ditengah-tengah jamaah. Dia memandang kepada Mush’ab dan sahabatnya, As’ad bin Zurarah, seraya berkata, “Apa maksud tuan-tuan datang kesini? Tuan-tuan hendak mempengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh. Pergilah tuan-tuan sekarang juga, jika tuan-tuan masih ingin hidup.”

Mush’ab menoleh kepada Usaid dengan wajah berseri-seri memantulkan cahaya iman. Dia berbicara dengan gayanya yang simpatik dan menawan, “Wahai pemimpin! Maukah anda mendengarkan yang lebih baik dari itu?”

Tanya Usaid, “Apa itu?”

Kata Mush’ab, “Silakan duduk bersama-sama kami mendengarkan apa yang kami perbincangkan, silakan ambil, dan jika anda tidak suka, kami akan meninggalkan anda dan tidak kembali lagi ke kampung anda.”

Kata Usaid, “Anda memang pintar!”

Lalu ditancapkannya lembingnya ke tanah, kemudian dia duduk.

Mush’ab mengarahkan pembicaran kepadanya tentang hakikat Islam, sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an di sela-sela pembicarannya. Rasa gembira terpancar di muka Usaid. Lalu dia berkata, “Alangkah bagusnya apa yang kamu katakan. Dan alangkah indahnya apa yang kamu baca. Apa yang kamu lakukan jika kamu hendak masuk Islam?”

Jawab Mush’ab, “Mandi (bersihkan badan), bersihkan pakaian, ucapkan syahadatain (bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah), sesudah itu shalat dua rakaat.”

Usaid langsung berdiri dan pergi ke telaga mensucikan badan, kemudian diucapkannya syahadatain, dan sesudah itu dia shalat dua rakaat. Mulai hari itu bergabunglah ke dalam pasukan berkuda Islam seorang bangsa Arab, penunggang kuda yang terkenal mengagumkan, pemimpin suku Aus yang diperhitungkan. Usaid digelari kaumnya “Al Kamil” (yang sempurna), kerana otaknya yang cemerlang, dan kebang ananya yang murni. Dia menguasai pedang dan qalam (pena). Sebagai penunggang kuda yang cekatan dia memiliki ketepatan memanah. Di samping itu dia dikenal sebagai pembaca dan penulis dalam masyarakat.

Dengan Islamnya Usaid, menyebabkan Sa’ad bin Mu’adz masuk Islam pula. Dan dengan Islamnya ke dua tokoh ini, menyebabkan pula seluruh masyarakat Aus masuk Islam. Maka jadilah Madinah sesudah itu menjadi tempat hijrah Rasulullah , dan tempat berdirinya pusat pemerintahan Islam yang besar.

Cinta Usaid kepada Islam berputik daripada keindahan Al-Quran yang dibacakan oleh Mus’ab sewaktu pertemuan mereka di kebun bani ‘Abd al-Asyhal. Beliau seterusnya tanpa lengah bersungguh-sungguh membacanya ditambah pula dengan suaranya yang merdu, jelas sebutan dan membuatkan penyampaiannya tersangatlah baik sehinggakan penghuni langit terus dahagakan mendengar bacaan beliau.

Pada suatu tengah malam, Usaid bin Hudhair duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur disampingnya. Kuda yang selalu siap sedia untuk berperang fi sabilillah, ditambat tidak jauh dari tempatnya duduk. Suasana malam tenang, lembut, dan hening. Permukaan langit jernih dan bersih. Bintang-bintang melayangkan pandangannya ke permukan bumi yang sedang tidur dengan perasaan kasihan dan penuh simpati. Terpengaruh oleh suasana malam hening dan kudus itu, hati Usaid tergerak hendak menyebarkan harum-haruman ke udara lembab dan bersih berupa harum-haruman Al-Qur’an yang suci. Maka dibacanyalah Al-Qur’an dengan suaranya yang empuk dan merdu membangkit kasih:

“Alif, Lam, Mim, Inilah kitab (Al-Qur’an) yang tidak ada keraguan padanya: menjadi petunjukbagi orang-orang yang iman kepada yang ghaib, yang menegakkan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Al-Baqarah : 1-4)

Mendengar bacaan tersebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Ketika Usaid diam, kuda itu diam dan tenang pula. Usaid melanjutkan membaca :

“Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang menang.” (Al Baqarah : 5).

Kudanya lari dan berputar-putar pula lebih hebat dari semula. Usaid diam, maka diam pula kuda tersebut. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Bila dia membaca, kudanya lari dan berontak. Bila dia diam, maka tenang pula kuda itu kembali.

Usaid khawatir anaknya akan terinjak oleh kuda, lalu dibangunkannya. Ketika dia melihat ke langit, terlihat olehnya awan seperti payung yang mengagumkan, dan belum pernah terlihat olehnya sebelumnya. Payung itu sangat indah berkilat-kilat, tergantung seperti lampu-lampu memenuhi ufuk dengan sinarnya yang terang. Awan itu bergerak naik hingga hilang dari pemandangan. Setelah hari pagi, Usaid pergi menemui Rasulullah . Diceritakannya kepada beliau peristiwa yang dialami dan dilihatnya semalam. Kata Rasulullah saw., Itu malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Al-Qur’an, hai Usaid. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.

Usaid bin Hudhair hidup sebagai seorang ahli ibadah. Harta benda dan jiwa raga yang dimilikinya diserahkan sepenuhnya untuk perjuangan Islam. Bagi Usaid tidak ada puncak keindahan dan kemenangan dalam perjalanan hidupnya selain bila cahaya Islam terus bersinar.

Pandangan hidup yang seperti itu mengantarnya memperoleh julukan sebagai, “Sebaik-baik laki laki, Usaid bin Hudhair!” kata Rasulullah SAW. Usaid ditakdirkan Allah sempat melihat kepemimpinan Khalifah Umar Al-Faruq yang tegas, adil dan bijaksana. Dan pada bulan Sya’ban tahun 20 Hijriyah, ia berpulang keharibaan Allah SWT menyusul syuhada-syuhada yang telah mendahuluinya.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab tidak mau ketinggalan turut serta memikul sendiri jenazah tokoh Anshar ini di atas bahunya menuju taman makam syuhada di Baqi.

*Berbagai Sumber

Leave a Reply