Pasca Haid, Jangan Tunda Mandi Wajib!

61
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Allah Ta’ala telah memberikan kenikmatan kepada wanita dengan keberadaan haid. Haid merupakan suatu tanda bagi wanita tentang adanya kemampuan mempunyai keturunan. Oleh karenanya, wajib bagi Muslimah untuk mengetahui hukum berkaitan dengan haid, salah satunya ialah mandi wajib.

Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda,” Jika telah tiba masa haidmu maka tinggalkan shalat, dan bila selesai masa haidmu maka mandilah kemudian shalatlah.” (HR Bukhari).

Banyak Muslimah yang ketika masa haidnya telah berakhir menunda untuk mandi suci, tanpa ada udzur yang syar’i. Alasan menunda mandi wajib ini biasanya belum mau melaksanakan ibadah shalat dengan alasan bahwa mereka belum mandi suci. Oleh karena itu, wanita harus mengetahui akhir masa haidnya.

Akhir masa haid wanita dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu ketika darah haid telah berhenti. Tandanya jika kapas dimasukkan ke dalam tempat keluarnya darah setelah dikeluarkan tetap dalam kondisi kering, tidak ada darah yang melekat di kapas. Kedua, ketika telah terlihat atau keluar lendir putih agak keruh. Pada saat itu wanita diwajibkan segera mandi dan mengerjakan shalat jika telah masuk waktu shalat.

Amalan Wanita Haid

1. Membaca Alqur’an tanpa menyentuh lembaran mushaf

2. Boleh menyentuh ponsel atau tablet yang ada konten Alqurannya. Bagi wanita haid yang ingin menjaga rutinitas membaca Alqur’an, sementara tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, tablet atau semacamnya.

3. Berdzikir dan berdoa. Ulama berpendapat wanita haid atau junub boleh membaca dzikir seperti memperbanyak tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan dzikir lainnya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, No 25881).

4. Belajar ilmu agama, seperti membaca membaca buku-buku Islam. Sekalipun ada kutipan ayat Alqur’an, namun para ulama sepakat tidak dihukumi sebagaimana Alqur’an, sehingga boleh disentuh.

5. Mendengarkan ceramah, bacaan Alqur’an atau semacamnya
6.Bersedekah, infak, atau amal sosial keagamaan lainnya.

7. Menyampaikan kajian, sekalipun harus mengutip ayat Alqur’an. Karena dalam kondisi ini, ia sedang berdalil bukan membaca Alqur’an.

*Berbagai Sumber

Leave a Reply