Hukum Wanita Haid Masuk Masjid

37
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Haid dan nifas bukan penghalang bagi wanita haid untuk melakukan ibadah. Ada banyak aktivitas ibadah yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid atau nifas. Begitu pula ia butuh ilmu.

Bagaimanakah jika Muslimah mengalami haid sedangkan ia butuh siraman rohani atau pelajaran ilmu syar’i dan cuma ditemukan di masjid. Syekh Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya: apakah boleh bagi wanita haid menghadiri halaqah dzikir di masjid?.

Ia menjawab: Wanita yang haid tidak boleh berdiam di masjid, sedangkan bila hanya lewat maka tidak mengapa dengan syarat yakin bahwa tidak akan mengotori masjid dengan darahnya. Apabila tidak boleh baginya untuk berdiam di masjid, maka tidak boleh juga baginya untuk masuk mendengarkan pengajian atau bacaan Alqur’an. Kecuali apabila terdapat tempat di luar masjid yang dapat mendengar suara dengan perantara mikrofon, maka tidak mengapa untuk mendengarkan
pengajian.

Tidak mengapa seorang wanita haid mendengarkan dzikir dan ayat-ayat Alqur’an sebagaimana hadist Rasulullah bahwa ia bersandar di pangkuan Aisyah dan membaca Alqur’an, sedangkan saat itu Aisyah sedang haid.

Dalam perkara ini, mayoritas ulama melarang wanita haid duduk lama di masjid, meskipun untuk kajian Islam. Sementara sebagian ulama membolehkan wanita masuk masjid.

Diantara alasannya:

Dalil pertama: Disebutkan dalam riwayat Bukhari, bahwa di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ada seorang wanita berkulit hitam yang tinggal di masjid. Sementara, tidak terdapat keterangan bahwa Nabi memerintahkan wanita ini untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya tiba.

Dalil kedua: Ketika melaksanakan haji, Aisyah mengalami haid. Kemudian, Nabi memerintahkan Sang Humairah untuk melakukan kegiatan apa pun, sebagaimana yang dilakukan jamaah haji, selain tawaf di Kabah. Sisi pengambilan dalil: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hanya melarang Aisyah untuk tawaf di Kabah dan tidak melarang Aisyah untuk masuk masjid. Riwayat ini disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dalil ketiga: Disebutkan dalam Sunan Sa’id bin Manshur, dengan sanad yang sahih, bahwa seorang tabi’in, Atha bin Yasar, berkata, “Saya melihat beberapa sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam duduk di masjid, sementara ada di antara mereka yang junub. Namun, sebelumnya mereka berwudhu.” Sisi pemahaman dalil: Ulama meng-qiyas-kan (qiyas:analogi) bahwa status junub sama dengan status haid, sama-sama hadats besar.

Dalil keempat: Diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berkata kepadanya, “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” (HR Muslim). Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang bolehnya wanita haid masuk masjid.

Imam Al-Albani pernah ditanya tentang hukum mengikuti kajian di masjid bagi wanita haid. Ia menjawab: “Wanita haid boleh kajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk menghadiri majelis ilmu, meskipun di masjid. Masuknya wanita ke dalam masjid di satu waktu, tidak ada dalil yang melarangnya. (Silsilah Huda wa an-Nur, volume:623).

*Berbagai Sumber

Leave a Reply