Ukhti, Berhati-hatilah Menebar Senyum!

63
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Senyuman merupakan hal yang manusiawi dan disukai manusia, tak mengenal apapun agamanya. Dalam Islam pun, wajah yang penuh dengan senyuman menggambarkan akhlak yang baik. Bahkan Rasulullah mencontohkan ummatnya untuk senantiasa tersenyum kepada sesama manusia. Wajah yang penuh senyuman adalah akhlak Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sahabat Jarir bin Abdillah Radhiallahu Anhu berkisah:

“Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah menghindari aku jika aku ingin bertemu dengannya, dan tidak pernah aku melihat beliau kecuali tersenyum padaku.” (HR Bukhari).

Jika demikian, bagaimana hukum wanita yang tersenyum kepada yang bukan mahramnya?. “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah” (HR Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib.” Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib).

Dalam ilmu Ushul Fiqih, kata “saudaramu” mencakup orang yang masih saudara, baik wanita atau laki-laki, tua atau muda, mahram atau bukan mahram, dan termasuk saudara sesama Muslim. Oleh karena itu, hadits ini juga menunjukkan bolehnya wanita Muslimah tersenyum kepada laki-laki yang bukan mahram.

Namun dalam pergaulannya, wanita wajib menjaga pandangannya seperti diharamkannya melihat aurat laki-laki dan memandang laki-laki dengan syahwat. Allah Ta’ala berfirman:”Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya.”(QS An-Nuur:30-31).

Menjaga pandangan merupakan sarana terbesar dalam menjaga kemaluan. Ibnul Qoyyim Rahimahumullah dalam kitab Al Jawabul Kafi menjelaskan: “Asal seluruh bencana yang menimpah manusia berasal dari bencana. Pandangan akan melahirkan keinginan, dan keinginan akan melahirkan pemikiran. Dari pemikiran akan lahir syahwat (hawa nafsu), yang mendorong keinginan kuat hingga terjadi apa yang ia inginkan. Sayangnya, saat ini banyak wanita yang tidak mengamalkan nasihat ini.

Ibaratnya, apabila serigala hanya menginginkan daging domba, maka serigala manusia menginginkan sesuatu darimu yang lebih berharga daripada daging domba bagi serigala dan lebih buruk daripada kematianmu. Dia ingin sesuatu yang paling berharga padamu, yaitu kesucianmu. Kehidupan seorang puteri yang kehormatannya telah direnggut oleh laki-laki lebih buruk seratus kali daripada domba yang direnggut dagingnya oleh serigala. Benar, demi Allah. Tidak seorang pemuda pun yang melihat wanita tanpa berkhayal menelanjanginya dari pakaiannya, kemudian pemuda itu membayangkan tanpa busana.

Adab Bergaul

Tersenyumnya seorang Muslimah kepada orang lain asalnya adalah hal yang baik. Namun di sisi lain, Islam juga mengajarkan adab-adab bergaul antara lelaki dan wanita. Hal ini dilakukan agar terjadi keharmonisan dalam masyarakat Islam dan mencegah terjadinya kerusakan di dalamnya. Lalu, apakah senyuman seorang Muslimah kepada lelaki yang bukan mahramnya sesuai dengan adab Islami?

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (dari memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Amat mendalam pengetahuan-Nya tentang apa yang mereka kerjakan.” (QS An Nur: 31).

Wanita memang memiliki daya tarik walaupun ia tidak tersenyum. Karena setan akan selalu menghiasi wanita di mata lelaki, sehingga lelaki akan mudah jatuh pada godaan setan. Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda, “Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan akan menghiasinya.” (HR At Tirmidzi).

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari ketika menjelaskan judul dari Shahih Bukhari: “(Bab ucapan salam seorang laki-laki kepada wanita,dan wanita kepada laki-laki), dibolehkan dengan syarat selama aman dari fitnah.”

Waspada Fitnah

1. Kewajiban seorang wanita adalah menutupi wajahnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Dengan demikian seorang wanita jelas tidak diperbolehkan menebar senyuman kepada laki-laki yang bukan mahram.

2. Wanita selalu memiliki daya tarik, baik tersenyum atau tidak. Oleh karenanya, wanita dilarang melembut-lembutkan suaranya. “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS Al Ahzab: 32).

*Berbagai Sumber

Leave a Reply