Masa Iddah Serta Tuntunannya

43
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Masa iddah adalah masa penantian setelah terjadi kata talak langsung. Sang istri tidak boleh dibiarkan begitu saja dalam kehidupan bersuami istri dan suami tidak boleh mengusirnya dari rumah, bahkan suami masih wajib memberikan nafkah lahir.

Allah Ta’ala berfirman,” Wahai Nabi apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kau ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu iddah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah diizinkan keluar, kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. (QS Ath-Thalaq:1).

Jadi, istri yang ditalak masih bersama suami dalam menjalani masa iddah,. Tetapi istri tidak lagi dibatasi dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam bersuami istri. Istri juga bukan wanita asing bagi suami. Istri berada dalam posisi di antara dua keadaan tersebut.

Masa iddah telah dikenal pada masa jahiliyah, bahkan ketika Islam datang masalah ini diakui dan dipertahankan. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa iddah itu wajib, berdasarkan Alqur’an dan sunnah. “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. (Al-Baqarah:228).

Dari Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bahwasanya seorang wanita dari Aslam bernama Subai’ah ditinggal mati oleh suaminya dalam keadaan hamil. Lalu Abu Sanabil bin Ba’kak melamarnya, namun ia menolak menikah dengannya. Ada yang berkata, “Demi Allah, dia tidak boleh menikah dengannya hingga menjalani masa iddah yang paling panjang dari dua masa iddah. Setelah sepuluh malam berlalu, ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan Nabi bersabda, “Menikahlah!” (HR Al-Bukhari No 4906).

Masa iddah diwajibkan pada semua wanita yang berpisah dari suaminya dengan sebab talak, khulu’ (gugat cerai), faskh (penggagalan akad pernikahan) atau ditinggal mati. Dengan syarat sang suami telah melakukan hubungan suami istri dengannya atau telah diberikan kesempatan dan kemampuan yang cukup untuk melakukannya.

Berdasarkan hal tersebut, berarti wanita yang dicerai atau ditinggal mati oleh suaminya sebelum digauli atau belum ada kesempatan untuk itu. Maka dia tidak memiliki masa iddah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. (Al-Ahzab:49).

Berdasarkan keterangan di atas dan berdasarkan penyebab perpisahannya, masalah iddah ini dapat dirinci sebagai berikut :

1. Wanita ditinggal mati suaminya

a. Wanita yang ditinggal mati suaminya ketika sedang hamil. Wanita ini maka masa menunggunya (iddah) berakhir setelah ia melahirkan bayinya, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla, “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (Ath-Thalaq:4).

b. Wanita tersebut tidak hamil. Jika tidak hamil, maka masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Al-Baqarah:234).

2. Wanita yang diceraikan

a. Wanita yang dicerai dengan talak raj’i terbagi menjadi beberapa :

– Wanita yang masih haidh. “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.”(Al-Baqarah:228).

Menurut pendapat yang rajih, quru’ artinya haidh, berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi :
“Sesungguhnya ummu Habibah pernah mengalami pendarahan (istihadhah/darah penyakit), lalu dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan Nabi memerintahkannya untuk meninggalkan shalat pada hari-hari quru’nya (haidhnya). (HR Abu Daud no. 252 dan dishahihkan syaikh al-Albani dalam Shahih Abi Daud).

– Wanita yang tidak haid, baik karena belum pernah haidh atau sudah manopause . Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya: “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. (At-Thalaq:4).

– Wanita Hamil

Wanita yang hamil bila dicerai memiliki masa iddah yang berakhir dengan melahirkan, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla : “Dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (Ath-Thalaq:4).

– Wanita yang terkena darah istihadhah

Wanita yang terkena darah istihadhah memiliki masa iddah sama dengan wanita haid. Kemudian bila ia memiliki kebiasaan haid yang teratur maka wajib baginya untuk memperhatikan kebiasannya dalam haid dan suci. Apabila telah berlalu tiga kali haid maka selesailah iddahnya.

b. Wanita yang ditalak tiga (talak baa’in).
Wanita yang telah ditalak tiga hanya menunggu sekali haidh saja untuk memastikan dia tidak sedang hamil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Wanita yang dicerai dengan tiga kali talak, masa iddahnya sekali haid.

3. Wanita Yang Melakukan Gugat Cerai (Khulu’).

Wanita yang berpisah dengan sebab gugat cerai, masa iddahnya sekali haid. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa istri Tsabit bin Qais menggugat cerai dari suaminya pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam lalu Nabi memerintahkannya untuk menunggu sekali haidh. (HR Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud no.1 950).

Hikmah Iddah

1. Untuk memastikan apakah wanita tersebut sedang hamil atau tidak.

2. Syariat Islam telah mensyariatkan masa iddah untuk menghindari ketidakjelasan garis keturunan yang muncul jika seorang wanita ditekan untuk segera menikah.

3. Masa iddah disyariatkan untuk menunjukkan betapa agung dan mulianya sebuah akad pernikahan.

4. Masa iddah disyariatkan agar kaum pria dan wanita berpikir ulang jika hendak memutuskan tali kekeluargaan, terutama dalam kasus perceraian.

5. Masa iddah disyariatkan untuk menjaga hak janin berupa nafkah dan lainnya apabila wanita yang dicerai sedang hamil.

*Berbagai Sumber

Leave a Reply