Perempuan dan Smarphone

27
Bagikan via

Syarief Kate
(Aktivis KAMMI Sulselbar)

Perempuan adalah sosok yang sangat ideal dan selalu menjadi bahan perbincangan hangat dari berbagai kalangan mulai dari kaum marginal sampai kalangan terpelajar atau akademisi. Perempuan seringkali menjadi topik menarik untuk menguat sisi kehidupan yang dijalaninya semenjak zaman jahiliyah sampai zaman yang serba modern seperti sekarang ini.

Perempuan pada zaman jahiliyah sangat tertekan dan derajatnya tidak diakui. Dimana pada saat itu perempuan sangat terpinggirkan bahkan tidak dianggap keberadaannya sama sekali. Kisah yang tidak asing lagi bagi semua kalangan pada saat Umar Bin Khattab mengubur anak perempuannya hidup-hidup agar tidak membawa malapetaka. Kisah tersebut cukup menggambarkan bagaimana kedudukan perempuan di zaman tersebut.

Semenjak peristiwa yang dialami Umar Bin Khattab, Islam kemudian muncul dengan membawa perubahan yang sangat luar biasa. Melalui wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, perempuan tidak lagi di lecehkan, akan tetapi derajatnya kemudian terangkat dan mendapat posisi strategis di kalangan manusia.

Perempuan terus mendapat perhatian hingga zaman sekarang. Namun, tantangan perempuan di era modern lebih berat lagi dimana para perempuan harus menghadapi zaman yang sangat riskan. Salah melangkah sedikit saja bisa menjadi boomerang. Karena semakin banyaknya pengaruh baik internal maupun eksternal seperti pengaruh media televisi dan dunia kerja.

Perempuan dan Smartphone

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi kian hari semakin berkembang. Hal tersebut tidak bisa dielakkan lagi. Bahkan setiap detik pasti kita mendengar ada teknologi baru terutama telepon pintar (baca : smartphone) yang muncul yang sangat inovatif dan interaktif.

Dalam setiap kemunculannya para devendor pun berlomba untuk meyakinkan komsumennya. Siapa yang memiliki karya yang lebih inovatif, kreatif dan sesuai kebutuhan, maka merekalah yang menguasai pangsa pasar.

Para vendor tidak hanya melirik kaum laki-laki dalam menyajikan informasi produknya, akan tetapi juga kalangan perempuan. Perempuan dalam hal ini memegang peranan yang sangat jitu dan kadang mengalami penindasan atau korban iklan.

Tiara, E mengungkapkan bahwa peranan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan perempuan tidak sebatas pada tataran perempuan sebagai pengguna maupun sebagai objek dari pengembangan teknologi, namun lebih dari itu perempuan telah berkembang menjadi subjek dari perkembangan teknologi informasi.

Sebut saja sekarang ini telah banyak perempuan yang mahir menggunakan perangkat teknologi informasi dalam pekerjaannya, misal sebagai pegawai bank, pegawai rumah sakit, pebisnis online, maupun sebatas sebagai pengguna (user) komputer maupun perangkat mobile lain yang telah menggunakan kecanggihan teknologi informasi.

Peranan perempuan pun kadang sudah disejajarkan dengan laki-laki, meski dalam tahap yang wajar-wajar saja. Sosok Kartini yang berkamuflase dalam genggaman smarphone dapat memperjuangkan dan melawan tindak kekerasan melalui kampanye di media sosial dan cetak. Akan tetapi, keberadaan perempuan dalam era informasi sangat urgen dan kompleks.

Olehnya itu, seorang perempuan harus menjaga imej dan integritas di era informasi yang cepat dan penuh dengan berbagai fitnah serta meningkatkan kualitas iman dan takwa.

Leave a Reply