Had Pembatas Maksiat

54
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Had atau hudud ialah hukuman yang telah ditentukan syari’at yang berhubungan dengan maksiat terhadap batasan Allah Ta’ala. Had atau hudud dalam Islam terbagi menjadi enam bagian yakni had zina, qodzaf (penuduh orang lain berzina), minum minuman keras (khomer), pencurian, pembajakan, dan pelaku kejahatan, setiap dari kejahatan tersebut memiliki hukuman yang telah ditetapkan oleh syari’at.

Hudud merupakan pembenteng bagi maksiat dan sebagai pembatas bagi dia yang menerimanya, karena yang demikian itu akan mensucikannya dari kotornya 32 kejahatan serta dari dosa-dosanya, dan juga sebagai peringatan bagi selainnya untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan tersebut.

Hudud Allah ialah keharaman yang Dia larang untuk dikerjakan dan dilanggar, seperti: zina, pencurian dan lainnya, juga termasuk apa yang telah Allah batasi dan tentukan seperti hukum waris.

Sebagaimana juga termasuk batasan serta takaran yang membentengi dari hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, seperti hukuman zina, penuduh orang berbuat zina dan lain sebagainya dari apa-apa yang telah ditentukan syari’at dan tidak boleh untuk ditambah maupun dikurangi.

Hal ini tentu berbeda dengan proses qishas. Qishas ialah keputusan yang berada pada tangan wali orang terbunuh dan korban itu sendiri apabila dia masih hidup, baik itu yang berhubungan dengan pelaksanaan qishas ataupun pengampunannya. Sedangkan imam hanya sebagai pelaksana sesuai dengan permintaan mereka.

Oleh karenanya, dapat dipahami bahwa hudud ialah urusan yang diserahkan kepada hakim, dan tidak boleh dibatalkan jika telah sampai kepadanya. Begitu pula halnya kalau qishas bisa diampuni dengan pengganti, seperti diyat, atau juga bahkan diampuni seluruhnya tanpa pengganti. Hudud tidak diperbolehkan padanya ampunan dan tidak boleh pula syafa’at secara mutlak, baik itu dengan pengganti maupun tidak.

Had ini tidak boleh dilaksanakan kecuali terhadap orang yang telah baligh, berakal, sengaja, ingat, mengetahui keharamannya, berpegang pada hukum-hukum Islam, baik itu dari seorang Muslim ataupun kafir zimmi.

Dari Ali r.a bahwa Nabi SAW bersabda: “Akan diampuni dari tiga golongan: seorang yang tidur sampai dia terbangun, anak kecil sampai dia baligh, dan seorang gila sampai menjadi normal kembali” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Ketika turun ayat: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah” (Al Baqarah: 286), maka Allah berfirman: “Aku telah melakukannya” (H.R Muslim).

Hikmat Syariat Hudud

Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dan taat kepada-Nya, melaksanakan apa yang Dia perintah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Dia telah menetapkan beberapa hukum demi untuk maslahat hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia menjanjikan surga bagi orang yang beriltizam terhadap syari’atnya dan neraka bagi mereka yang menyelisihinya. Apabila seorang hamba terlalu terburu-buru dan melakukan sebuah dosa, Allah Ta’ala akan membuka baginya pintu taubat dan istighfar.

Akan tetapi jika seseorang bersikeras untuk melakukan maksiat kepada Allah dan menolak kecuali ingin menembus penghalang-Nya, melampaui batasan-Nya, seperti menjarah harta serta kehormatan orang lain, maka dia harus ditarik tali pelananya dengan menegakkan hukuman Allah Ta’ala.

Hal ini dilakukan untuk merealisasikan keamanan serta ketenangan terhadap ummat Islam, dan seluruh hukuman merupakan rahmat dari Allah dan kenikmatan bagi seluruh ummat manusia.

Proses Pelaksanaan Had

1. Pelaksanaan had boleh diakhirkan jika terhalang oleh sesuatu yang berdampak maslahat bagi kaum Muslimin, seperti ketika perang, atau juga berhubungan dengan maslahat yang kembali kepada korban, seperti penundaan yang disebabkan oleh musim dingin ataupun panas, atau juga karena sakit, bisa juga karena berhubungan dengan selainnya, seperti wanita hamil, menyusui ataupun lainnya.

2. Pelaksanaan had dilaksanakan oleh imam atau wakilnya dengan kehadiran sejumlah kaum Mukminin dan dilaksanakan di masjid.

3. Pelaksanaan had serta qishas boleh dilakukan di Makkah, karena tanah Haram tidak melindungi pelaku kejahatan. Barang siapa yang terkena kewajiban salah satu dari had Allah, baik itu cambuk, kurungan ataupun pembunuhan akan diterapkan kepadanya di tanah haram ataupun lainnya.

4. Cambuk dilakukan dengan menggunakan pecut. Orang yang dicambuk tidak dibuka pakaiannya, pukulan dilakukan pada tempat yang berpindah-pindah di tubuh, dengan syarat tidak memukul muka, kepala, kemaluan dan sesuatu yang mematikan, bagi wanita pakaiannya dikencangkan.

5. Apabila terkumpul beberapa had yang berhubungan dengan Allah Ta’ala dan dia termasuk dalam satu jenis, seperti perbuatan zina yang berkali-kali atau mencuri beberapa kali, maka yang demikian jadi disatukan, sehingga dia tidak dihukum kecuali hanya satu kali saja.

Dan jika terdiri dari beberapa jenis, seperti seorang yang belum pernah menikah berbuat zina, mencuri dan meminum khomer, maka dalam keadaan ini hukuman tidak disatukan, akan tetapi dimulai oleh yang paling ringan diantaranya, pertama kali dicambuk karena minum khomer, kemudian dilanjutkan oleh cambuk karena berzina, setelah itu barulah potong tangan.

6. Cambuk yang paling berat dalam had adalah cambukan karena berzina. Kemudian cambukan karena menuduh orang lain berzina (qodaf) kemudian barulah cambukan karena meminum khomer.

7. Apabila seseorang mengaku kalau dia berhak mendapat hukuman had kepada Imam, akan tetapi belum menjelaskannya, secara sunnah hendaklah dia ditutupi aibnya dan tidak menanyakan tentang aibnya tersebut. Berkata Anas bin Malik r.a: pada suatu waktu aku berada di dekat Nabi SAW, maka datanglah seseorang dan berkata: ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berbuat sesuatu yang mewajibkan had, laksanakanlah hukumannya terhadapku, berkata Anas: beliau tidak bertanya tentang pelanggarannya, dia berkata: sehingga tibalah waktu shalat dan diapun shalat bersama Nabi SAW, setelah beliau SAW selesai dari shalatnya, orang tersebut kembali menghadapnya dan berkata: ya Rasulullah, saya berhak untuk mendapat hukuman had, laksanakanlah terhadapku sesuai dengan kitab Allah, menjawablah beliau: “Bukankah kamu sudah shalat bersama kami?” dia menjawab: benar, beliau SAW melanjutkan: “Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu, atau beliau berkata: hukuman had terhadapmu.

*Berbagai Sumber

Leave a Reply