Kupikir Kasihmu Sementara

70
Bagikan via

Penulis Cerpen: Indrawati

Mengapa aku menjadi seperti ini, Tuhan? Suara tetesan penuh penyesalan terdengar dibalik pintu kamarku. Aku mulai gelisah, apa gerangan yang terjadi?

Mungkinkah ia sedang sakit? Entahlah, suara itu terdengar semakin mengalun tak karuan ditelingaku. Apa gerangan yang terjadi? Hati kecilku bertanya – Tanya.

Segera kubuka daun pintuku dan kulihat sesosok wanita sedang duduk bersimpuh diruang tamu. Kupandangi wanita itu, ternyata dia adalah teman kamarku Fani.

“Fan, kenapa? Kamu sakit?” Tanyaku padanya sambil menggenggam tangannya yang basah akibat dari tangisnya yang tumpah. Entahlah, Aku hanya berusaha menenangkannya.

“Aku tidak sakit.” Jawabnya dengan suara yang masih meninggalkan isakan tangisan yang terpendam.

“Lantas, mengapa kamu menangis?” Tanyaku lagi.

Aku tak tahu, suasana macam apa pada malam itu. Fani bagaikan benda mati yang tak mampu memberikan isyarat akan apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya tertuduk diam seribu bahasa. Kucoba mengorek lebih dalam, dan sepertinya aku berhasil menjebaknya dengan kata – kata yang kurancang sendiri.

“Oh yah Fan, dulu aku punya kenalan. Kami kenal lewat dunia maya namun entah mengapa dia begitu percaya padaku sampai – sampai dia curhat tentang pacarnya. Katanya sih, pacarnya akan serius dengan hubungan pacaran mereka, namun katanya sih tidak dapat restu oleh orang tua dari laki – laki itu, maka mereka pun putus. Nah, kamu tahu apa yang aku katakan padanya saat itu?” Tanyaku dengan nada serius.

“Aku jawab, artinya dia bukan jodoh kamu.” Nada suaraku mulai kunaikkan untuk membuatnya lebih semangat. Aku tak tahu pasti apakah dia menganggap ceritaku lucu atau malah membuatnya termotivasi menceritakan masalahnya.

“Sebenarnya aku malu menceritakan hal ini.” Aku terkejut, kalimat itu layaknya mengisyaratkan bahwa aku berhasil dengan kalimat rancanganku itu. Segera kuyakinkan pada Fani bahwa kita harus berbagi terhadap masalah yang menimpah kita agar terasa lebih ringan.

“Beberapa hari yang lalu aku menerima kiriman dari ibuku dikampung”. Belum sempat Fani meneruskan pembicaraannya, butiran bening dari kedua kelopak matanya mulai mengalir kembali. Aku jadi bingung, mengapa dia sedih padahal dia baru saja mendapatkan kiriman dari ibunya.

“Lalu?” Dengan rasa penasaran kucoba membuka tabir kehidupan yang tersimpan dalam hati Fani.

“Selama ini, aku jarang menelfon dan memberi kabar pada orang tuaku dikampung. Aku tak tahu kalau mereka begitu merindukanku. Aku hanya sibuk dengan pekerjaan dan duniaku saat ini. Padahal berkat orang tuakulah aku berada disini dan menikmati setiap gajiku tiap bulannya”, ungkap Fani dengan tangan yang terus menggenggam hpnya begitu erat.

Pikiranku melayang, apa gerangan hubungan antara kiriman dan jarangnya ia menelfon kekampung untuk memberi kabarnya. Dengan sedikit bergeser kesudut sampingnya kucoba meyakinkan Fani bahwa ia benar – benar harus berbagi denganku.

“ Fan, ceritalah agar kamu merasa legah, aku akan berusaha menjadi teman sekaligus saudara terbaik buatmu” tegasku pada Fani.

“Beberapa hari yang lalu, ibuku mengirimkan sebuah bingkisan karton. Tapi, karena kesibukanku sehingga aku hampir lupa untuk membuka kiriman itu. Entah mengapa pada malam ini, aku ingin saja membuka bingkisan itu. Dan kamu tahu apa isi kiriman itu?” Tanya Fani dengan suara yang semakin melemah akibat dari isakan tangis yang tak bisa tertahankan.

Aku menggeleng pertanda aku tak mengetahuinya.

“ Kiriman itu berisi makanan kesukaanku. Namun makanan itu sudah tak layak untuk dimakan. Yang membuat aku sangat sedih karena ibuku menyelipkan surat ditepi bingkisan karton itu”. Ujarnya dengan jujur. Aku penasaran apa sebenarnya isi surat dari ibu Fani.

Dari sudut bola matanya terlihat keinginannya untuk menumpahkan semua buliran air bening yang sedari tadi dia tahan, dan akhirnya tumpahlah buliran air bening itu. Aku semakin penasaran akan cerita Fani. Dengan agak tersedu sedu Fani memberikan selembar kertas yang ada disampingnya. Isi suratnya seperti ini.

“ Fani anakku, semoga disana kamu sehat yah nak. Alhamdulillah ayah dan ibu juga sehat. Oh iya, ibu juga sudah masak makanan kesukaan kamu, makan yah nak karena selama kamu di Makassar Fani sudah tak pernah lagi makan masakan ibu. Ayah dan ibu rindu sekali padamu nak, kenapa ngga pernah menelfon ibu?”

Sekarang aku mengerti mengapa Fani menangis. Ternyata dia mulai menyadari bahwa kedua orang tuanya terkhusus ibunya sangat rindu padanya. Dia baru menyadari bahwa kunci kesuksesannya selama ini berkat doa yang tulus dari orang tuanya.

“Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menelfon orang tuamu, Fan.” Ucapku dengan nada suara yang lantang. Kulihat tangan Fani yang sedari tadi menggenggam handponenya mulai memilki kekuatan untuk sampai pada sebuah keinginan tertentu.
“Halo, assalamu alaikum. Ini Fani bu.” Ucap Fani dengan nada suara terbata – bata.

“Waalaikum salam nak, kenapa baru telfon? Sudah lama ibu ingin mendengar suaramu nak. Setiap kali ibu coba menelfon pasti tidak ada jawaban. Kamu sibuk yah nak? Kamu sudah makan kan masakan ibu?” harap ibu Fani .

Aku menatap Fani seolah tak mampu mengatakan sesuatu. Karena masakan ibunya tak sempat ia sentuh sedikitpun. Aku tahu dia pasti berpikir sama sepertiku yakni sesibuk apapun seseorang dia pasti memiliki waktu untuk menelfon dua malaikat dibumi yang paling dia sayangi. Namun, hari ini aku menyaksikan rasa penyesalan yang dialami oleh Fani.

“Ibu, aku minta maaf karena terlalu sibuk sampai jarang menelfon hanya untuk memberi kabar tentang keadaanku. Aku tahu mungkin ibu akan kecewa namun masakan yang ibu kirim belum sempat aku cicipi karena sudah tak layak makan”, ucap Fani dengan jujur. Aku bisa memaklumi. Aku tahu Fani tak ingin menambah beban dosa karena berbohong pada ibunya.

“ Oh iya nak, tidak apa. Kalau kamu pulang kampung, ibu akan masak enak buat kamu. Tapi, ibu hanya ingin agar kamu sesering mungkin menelfon ibu yah nak?” Harap ibu Fani.

‘Iya bu.” Jawab Fani

Pembicaraan itupun berakhir dengan wajah kepuasan batin dihati Fani karena sudah mampu mengungkapkan rasa penyesalan terhadap ibunya. Aku cukup senang melihat pemandangan itu. Akupun mulai menyadari bahwa seberapa besar kita, hal itu tidak terlepas dari dukungan dan doa dari orang tua. Aku juga mulai belajar dari kehidupan Fani tentang perasaan rindu seorang ibu terhadap anaknya begitu yang besar. Aku tahu itu.

Leave a Reply