Hukum Wanita Shalat Jamaah di Masjid

34
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Para ulama telah sepakat bahwa shalat seorang laki-laki lebih utama dilakukan berjamaah di masjid daripada di rumahnya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda,”Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Shalat berjamaah di masjid merupakan perkara yang lazim. Namun sesungguhnya Islam telah mengatur hal-hal khusus bagi wanita. Hal ini berasal dari hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, ‘Aisyah Radhiallahu Anha.

Kata beliau: “Rasulullah mengakhirkan shalat Isya hingga Umar berseru memanggil beliau seraya berkata: Telah tertidur para wanita dan anak-anak. Maka keluarlah Nabi. Ia berkata kepada orang-orang yang hadir di masjid: “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini selain kalian.” (HR Al-Bukhari No 566 dan Muslim No 638).

Abu Qatadah Al-Anshari Radhiallahu Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Aku berdiri untuk menunaikan shalat dan tadinya aku berniat untuk memanjangkannya. Namun kemudian aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun memendekkan shalatku karena aku tidak suka memberatkan ibunya.” (HR Al-Bukhari No 868).

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menyebutkan hadits: “Meskipun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” Dalam salah satu fatwanya: “Hadits ini memberi pengertian bahwa shalat wanita di rumahnya lebih utama. Jika mereka (para wanita) berkata: “Aku ingin shalat di masjid agar dapat berjamaah.”

Maka akan aku katakan: “Sesungguhnya shalatmu di rumahmu lebih utama dan lebih baik.” Hal ini dikarenakan seorang wanita akan terjauh dari ikhtilath (bercampur baur tanpa batas) bersama lelaki lain sehingga akan menjauhkannya dari fitnah.” (Majmu’ah Durus Fatawa, 2/274).

Jelaslah bahwa bagi wanita memiliki keutamaan shalat di rumahnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Shalat berjamaah dibandingkan shalat sendiri lebih utama dua puluh lima (dalam riwayat lain: dua puluh tujuh derajat).” (HR Al Bukhari No 645, 646 dan Muslim No 649, 650).

Dalam hal ini Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah menegaskan bahwa keutamaan 25 atau 27 derajat yang disebutkan dalam hadits khusus bagi shalat berjamaah di masjid dikarenakan beberapa perkara yang tidak mungkin didapatkan kecuali dengan datang berjamaah di masjid. (Fathul Bari, 2/165-167).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meriwayatkan dalam sabdanya: “Shalat seseorang dengan berjamaah dilipat gandakan sebanyak 25 kali lipat bila dibandingkan shalatnya di rumahnya atau di pasar. Hal itu dia peroleh dengan berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia keluar menuju masjid dan tidak ada yang mengeluarkan dia kecuali semata untuk shalat. Maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah melainkan diangkat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan.

Tatkala ia shalat, para malaikat terus menerus mendoakannya selama ia masih berada di tempat shalatnya dengan doa: “Ya Allah, berilah shalawat atasnya. Ya Allah, rahmatilah dia.” Terus menerus salah seorang dari kalian teranggap dalam keadaan shalat selama ia menanti shalat.” (HR Al Bukhari No 647 dan Muslim No 649).

Dengan demikian, shalat wanita di rumahnya tidak termasuk dalam keutamaan 25 atau 27 derajat. Akan tetapi mereka yang melakukannya mendapatkan keutamaan tersendiri, yaitu shalat mereka di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid.

Wanita Shalat di Rumah

Wanita tetap diperkenankan melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Namun shalat wanita lebih baik ialah ketika shalat di rumahnya. Dari Ibnu Umar, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.” (HR Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ath-Thabrani dan lainnya meriwayatkan dari Ummu Humaid, istri Abu Hamid as-Sa’idi Radhiallahu Anha: Ummu Humaid berkata, “Saya berkata (kepada Rasulullah), ‘Wahai Rasulullah! Para suami kami melarang kami shalat bersamamu (di masjid).

Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata, “Shalat kalian di tempat tidur lebih baik daripada shalat kalian di kamar kalian, shalat kalian di kamar kalian lebih baik daripada shalat kalian di rumah kalian, dan shalat kalian di rumah lebih baik daripada shalat kalian berjamaah (di masjid).”

Syaratnya

1.Terlebih dahulu minta izin suami atau mahrom. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,“Jika istri kalian meminta izin untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim).

Dalam Shahih Muslim No 442, Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.”

2. Tidak boleh menggunakan wewangian dan perhiasan yang dapat menimbulkan fitnah. Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya bersama kami.” (HR. Muslim).

Zainab istri Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam mengatakan pada para wanita, “Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman.”(HR Muslim).

3. Jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.

Dari Ummu Salamah: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid, supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.” (HR. Bukhari).

*Berbagai Sumber

Leave a Reply