Puspaga Dirilis, Tempat Konseling Masalah Anak hingga Rumah Tangga

84
Bagikan via
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar, Tenri A Palallo saat memberi sambutan pada launching Puspaga di Jl.Boungeville Makassar. Dok.TimurIndonesia

Oleh: Nur Suhra Wardyah

MAKASSAR — Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Makassar resmi dirilis di Jalan Boungeville Raya, Toddopuli. Peresmian tersebut ditandai pemotongan pita oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Sulawesi Selatan, Askari.

“Puspaga ini menjadi penting, substansinya karena menjadi ruang bagaimana memberikan pola asuh yang baik kepada anak-anak kita,” jelas Askari, Jumat.

Menurut Kadis DPPPA ini, anak-anak merupakan investasi masa depan, sehingga menjadi kewajiban dalam pembentukan karakter yang bermula dari keluarga. Sementara jika hal ini tidak berjalan dengan baik, maka bisa membawa masalah baru di masa mendatang.

Karena itu puspaga hadir agar ketahanan keluarga bisa terwujud melalui pelayanan pola asuh anak dengan pemenuhan 10 hak anak. Seperti hakĀ untuk bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan, nama (identitas), kebangsaan, makanan, rekreasi dan akses kesehatan.

“Paling penting minimal warga sekitar dulu bisa mengetahui dan memanfaatkan Puspaga ini,” katanya.

Pemotongan pita oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sulsel, Askari pada launching Puspaga Kota Makassar. Dok.Timurindonesia.com

Dibekali dengan dua konselor yang merupakan psikolog, Puspaga ditujukan menjadi tempat konsultasi ibu-ibu jika ada anaknya bermasalah, ataupun problem solving untuk masalah yang ada. “Jika ada anaknya yang mau dikawinkan secara dini, segera konsultasi ke Puspaga,” tambah Askari.

Pasalnya, lima isu strategi tertinggi di Sulsel termasuk kawin dini. Olehnya Puspaga diharapkan mampu menjadi jawaban atas permasalahan anak dan perempuan dalam tatanan rumah tangga. Meminimalisir kekerasan pada perempuan serta pernikahan dini.

Hadir Kepala DPPPA Makassar, Tenri A Palallo, mengaku, persoalan anak dan perempuan bukan semata pekerjaan satu leading sektor, namun membutuhkan integrasi dan kerja sama dari semua pihak. Utamanya selter keluarga yang tersebar di antara warga Makassar.

“Tentu semua OPD terkait harus terintegrasi. Aktivis, selter warga bisa berkolaborasi dengan kepolisian, menyelesaikan persoalan dan dapat memenuhi hak anak,” ungkap Tenri.

“Mari kita menjaga kota kita, kita sama-sama berkarya untuk perbaikan Makassar dan anak perempuan kita,” ajak Tenri di hadapan puluhan selter yang hadir.

Leave a Reply