Kisah Perjuangan Cut Nyak Dhien

97
Bagikan via

Tokoh wanita satu ini di kenal sebagai salah satu pahlawan nasional wanita Indonesia. Ia dikenal dalam perlawanannya melawan penjajah kolonial Belanda. Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik.

Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orangtua ataupun guru agama), rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya).

Pada zamannya banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orang tuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari Uleebalang Lamnga XIII.

Ketika Perang Aceh yang meluas pada 26 Maret 1873, Cut Nyak Dien memimpin perang di garis depan. Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Wanita Aceh ini berani melawan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap. Setelah bertahun-tahun bertempur, pasukannya terdesak dan memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil. Dalam pertempuran tersebut Teuku Ibrahim gugur.

Dengan kondisi demikian tak lantas membuat Cut Nyak Dien patah semangat. Ia melanjutkan perjuangan dengan semangat berapi-api. Kebetulan saat upacara penguburan suaminya, ia bertemu dengan Teuku Umar yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan perjuangan.

Pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Kohler. Pada saat itu, mereka menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Cut Nyak Dhien yang melihat hal ini berteriak:

“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadah kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?.”

Peperangan terus berlanjut, Teuku Umar dan Chut Nyak Dhien terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar). Sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas.

Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak Teuku Umar sebagai informan. Sehingga pada saat itu, Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.

Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin pasukan perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh. Bersama dengan pasukan kecilnya ia mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di Medan daerah Aceh.

Keistimewaan Cut Nyak Dhien

1. Wanita muslimah yg mempunyai jiwa kepemimpinan dan kepahlawanan sejati

2. Berani mati membela kebenaran demi terciptanya kemerdekaan yang abadi untuk bangsa dan tanah air

3. Pemimpin perang Aceh pada tahun 1873

Biodata

Nama Lengkap: Cut Nyak Dhien
Tempat Lahir: Lampa]dang, Kesultanan Aceh
Tahun Lahir: 1848
Meninggal: 6 November 1908
Agama: Islam

Leave a Reply