Keutamaan dan Macam-macam Tawaf

31
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Diceritakan oleh Ibnu Abbas, ketika Rasulullah keluar dari Makkah, beliau bersabda:”Seandainya pendudukmu tidak mengusirku darimu, aku pun tidak akan keluar. Wahai Bani Abdi Manaf, seandainya sepeninggalanku kalian menjadi penguasa dalam urusan ini, janganlah sekali-kali mencegah seseorang melakukan tawaf di Baitullah Azza Wa Jalla pada waktu apa saja, siang maupun malam.” (Lihat Al-Azraqy: 11/155).

Atha’ menceritakan bahwa salah seorang amir pernah memberikan hadiah untuk Kabah sebanyak seratus wasaq, terdiri dari kiswah, parfum (wewangian), dirham, dinar, dan hamba sahaya, sebagai wujud pelayanan terhadap Kabah.

Lalu aku berkata kepada Ibnu Umar, “Aku belum pernah melihat hadiah semewah dan seagung hari ini!”

Kemudian Ibnu Umar ra berkata, “Sungguh, suatu tawaf yang dilakukan seseorang sebanyak tujuh putaran di sekitar Baitullah ini, lebih utama beberapa kali lipat daripada apa yang telah engkau lihat.” (Al-Fakihy: I/192).

Mengelilingi Kabah dalam satu arah yang sama membawa pesan tentang keselarasan, dinamisasi, dan berlanjutnya kehidupan (berkesinambungan). Seperti halnya perputaran planet-planet di angkasa raya yang mengelilingi matahari sebagai sumber cahaya dan energi.

Keteraturan dinamisasi mereka menjadi penentu terjadinya siang, malam, serta berlanjutnya kehidupan di muka bumi.
Makna ini diperkuat dengan jumlah tawaf sebanyak tujuh putaran.

Perputaran tujuh kali bisa diartikan sama dengan jumlah hari yang beredar mengelilingi kehidupan manusia setiap minggunya. Pergantian hari demi hari sesungguhnya merupakan pembentuk dari kehidupan di dunia ini.

Berdasarkan pemahaman tersebut, jamaah umrah dan haji sepatutnya bersyukur atas kehidupan dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Ta’ala seraya mengagungkan-Nya. Rasulullah bersabda: “Tawaf di Al-Bait (Kabah), Sa’i di Shafa dan Marwah, serta melempar jumrah, dijadikan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allah Ta’ala.”

Macam-Macam Tawaf

1. Tawaf Qudum

Tawaf ini disebut juga tawaf wurud (kedatangan), yang disyariatkan bagi pendatang dari luar Makkah sebagai penghormatan kepada Baitullah (Kabah). Menurut ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, hukum tawaf qudum adalah sunnah untuk didahulukan.

2. Tawaf Ziyarah

Tawaf ini disebut tawaf ifadhah atau tawaf fardh dan merupakan salah satu rukun ibadah haji.

3. Tawaf Wada’

Tawaf ini disebut pula tawaf shadr atau tawaf akhirul ‘ahd. Dalam ibadah umrah, sebagian ulama mengkategorikan tawaf ini termasuk sebagai sunnah.

4. Tawaf Nadzar

Sesuai namanya, tawaf ini menjadi wajib bagi orang yang telah bernadzar.

5. Tawaf Tahiyatul Masjidil Haram

Berlaku bagi setiap orang yang memasuki Masjidil Haram dan hukumnya sunnah.

6. Tawaf Tathawwu’ (tawaf sunnah)

Tawaf ini sunnah dan bisa dilakukan kapan saja, bahkan bisa pula dilakukan di waktu terlarang, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Namun tawaf sunnah ini tidak boleh dilakukan jika memang masih memiliki kewajiban lainnya.

*Berbagai Sumber

Leave a Reply