Rasuna Said, Singa Betina dari Minang

40
Bagikan via

Oleh: Indrawati

Sejarah mencatat banyak perempuan hebat di Indonesia. Salah satunya ialah Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang memperjuangkan persamaan antara laki-laki dan perempuan. HR Rasuna Said dikenal sebagai sosok berkemauan keras dan memiliki pengetahuan yang luas. Namanya diabadikan di berbagai sudut negeri, tapi tak semua mengetahui jejak kehebatannya.

Hal menarik dari perjalanan politik Rasuna Said ialah konsistensinya dalam jalur politik berbasis nasionalisme, Islam, dan perjuangan kaum perempuan.

Sejarawan Universitas Andalas, Prof Gusti Asnan mengatakan gerakan yang dibangun Rasuna Said tidak sebatas tatanan politik berbasis kolonialisme. “Rasuna Said konsisten memperjuangkan kaum marginal dan perempuan.”

Perlakuan buruk terhadap kaum perempuan ditunjukkan lewat aktivitasnya di bidang politik hingga pendidikan. “Pidato politiknya tidak hanya menyerang kolonial, tapi juga ketidakadilan terhadap perempuan, dibabat semuanya. Kritis sekali,” ujar Gusti.

Kemampuan pidato Rasuna Said juga ditunjukkannya lewat tulisan. Ia tercatat pernah dua kali memimpin media cetak, yakni majalah Raya dan majalah mingguan Menara Poetri.

Akibat keberaniannya melawan pemerintahan Belanda, Pendiri Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) pada 1930 ini ditangkap karena alasan hate speech (ujaran kebencian) pada pemerintah Belanda.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai guru Diniyah Putri yang kemudian aktif berpolitik. Rasuna Said sadar jika perjuangan kaum marginal tidak cukup hanya menggeluti dunia pendidikan, tapi juga politik. Karir politiknya dimulai dari Sarekat Rakyat (SR) sebagai sekretaris cabang, yang kemudian bergabung di Soematra Thawalib dan mendirikan PERMI di Bukittinggi, setelah berhenti dari Diniyah Putri tahun 1930.

Pasca kemerdekaan, Rasuna Said diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Sebelum meninggal pada 2 November 1965 dalam usia 55 tahun, Rasuna Said dipercaya menjadi Dewan Pertimbangan Agung.

Sejarawan Universitas Andalas, Prof Gusti Asnan mengatakan kemampuan berorasi Rasuna Said luar biasa. Hal ini yang membawa perempuan kelahiran Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 14 September 1910 itu layak menyandang gelar Singa Podium.

“Kalau mendengar Rasuna Said berpidato, sangat mempesona, sulit untuk beranjak,” kata Gusti Asnan, Selasa, 19 April 2016.

Kemampuan ini yang membawa Rasuna Said selalu diikuti polisi mata-mata Belanda, Politike Inlichtingen Dienst (PID). Tak jarang, dalam setiap pidato di depan umum maupun rapat PERMI, anggota PID kerap memantau dan menghentikannya.

Puncaknya, saat berpidato di Payakumbuh dalam rapat umum PERMI, Rasuna Said ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Pengadilan kolonial menjatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan yang kemudian diasingkan di Penjara Bulu, Semarang. Karena sikapnya yang kritis itu, dia mendapat julukan Singa Betina.

Tentang Rasuna Said

1. Perempuan pejuang yang tidak hanya “bisa bicara,” namun mampu mengimplementasikan gagasannya dalam praktik. Selain orasinya yang memesona, Rasuna juga membuka berbagai sekolah dan turut mengajar.

2. Untuk sebuah idealisme, Rasuna berani menentang ombak. Ia rela menggadaikan kebebasannya di penjara.

3. Dalam konteks pemilu, tokoh Rasuna menjadi pelajaran berharga bagi para caleg perempuan. Rasuna dikenal cerdas, berani, dan lincah dalam mengartikulasikan ide-idenya.

DATA DIRI

Nama: Hajjah Rangkayo Rasuna Said
Lahir: 14 September 1910
Wafat: 2 November 1965
Profesi: Pahlawan Nasional
Agama: Islam

Karir:

1. Sekretaris Cabang Sarekat Rakyat
2. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS)
3. Anggota Dewan Pertimbangan Agung
4. Dewan Perwakilan Sumatera

*Berbagai Sumber

Leave a Reply