Catat! Ini Bulan Terbaik untuk Menikah

72
Bagikan via

Tidak ada istilah waktu dan tanggal sial untuk melakukan kebaikan seperti pernikahan. Dalam Islam tidak dibolehkan menetapkan tanggal pernikahan berdasarkan mitos-mitos tertentu.

Semua hari adalah baik. Namun ternyata ada waktu yang lebih baik dari yang lainnya. Dan waktu-waktu inilah yang biasa dioptimalkan untuk berbuat kebaikan.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan. Dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At taubah: 36).

Bulan Dzulhijjah juga disebut bulan haram, karena di bulan itu manusia dilarang melangsungkan peperangan sebab kedudukannya yang mulia. Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhu mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan, maka Allah menjadikannya haram dan mengagungkan kemuliaannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar dan begitu pula halnya dengan amal sholeh dan pahalanya.” (Tafsir Alqur’an al ‘Azhim, Ibnu Katsir).

Maka jelaslah bahwa pada bulan haram ada keistimewaan dengan balasan pahala yang lebih besar manakala melakukan kebaikan.

Pendapat Ulama:

Dalam QS At Taubah ayat 36, dijelaskan konsep waktu yang telah ditetapkan Allah Ta’ala, terdiri dari 12 bulan Qomariyah dalam setahun. Bilangan di bulan tersebut berisi empat bulan haram.

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy dalam kitab tafsirnya Taisiir al kariimi ar Rohmaan Fii Tafsiiri Kalaami al Mannaan mengatakan dinamakan ‘harom’ sebab kehormatannya bertambah dan haramnya melakukan peperangan pada bulan-bulan tersebut. Terkait hal tersebut beberapa ulama berselisih paham terkait bulan yang paling baik di antara ke empat bulan tersebut.

1. Syafi’iyah berkata: “Yang Paling baik adalah Rajab.” Pendapat tersebut kemudian dilemahkan oleh Imam Nawawi.

2. Menurut Al Hasan: “Bulan Muharram,” yang kemudian dikuatkan juga oleh Imam Nawawi.

3. Diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair, ia berpendapat: “Bulan Dzulhijjah.” Dan inilah yang lebih kuat. Demikian, sebagaimana dinukil dalam kitab Al Latha’if, karya Ibnu Rajab Al Hambali. Syaikh Ibnu Utsaimin: Pendapat ini adalah benar. Karena dalam bulan Dzulhijjah terdapat dua keistimewaan. Yaitu, Dzulhijjah termasuk bulan-bulan haji, yang padanya terdapat hari Idul Adha. Dan yang kedua, karena Dzulhijjah termasuk bulan-bulan haram.

*Indrawati/Berbagai Sumber

Leave a Reply