Bencana Melanda, Ini Hikmah yang Harus Dipetik

193
Bagikan via

 

Musibah merupakan peringatan dari Allah SWT sebagai ujian keimanan. Namun yang harus diingat, musibah tidak selamanya tanda kemurkaan Allah SWT. Saat musibah datang, manusia akan menyadari bahwa tidak ada perlindungan diri kecuali kepada Allah SWT saja. Ketika tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya, tidak ada pertolongan kecuali dari pada-Nya.

Allah SWT berfirman: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, nescaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (Surah At-Taghabun: 11)

Musibah akan selalu mengikuti manusia di dunia ini karena dunia adalah tempat ujian dan cobaan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya akan Kami ujikan kamu dengan sedikit daripada ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (Al-Baqarah: 155)

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa orang yang berhasil melewati cobaan dan ujian akan mendapatkan pahala, rahmat dari Allah SWT dan selalu mendapatkan petunjuk. Hati mereka tidak akan terlintas pemikiran kenapa Dia memilih diri atau keluarganya sebagai tempat ujian-Nya.

Allah SWT menyebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 156 bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik-Nya, termasuk orang-orang yang kita cintai, harta benda yang ditakuti akan berkurang dan hilang, seperti pangkat, kedudukan dan pekerjaan. Karena semuanya milik Allah SWT, cepat atau lambat pasti akan kembali kepada pemiliknya yang asli yaitu Allah SWT.

Ada pun diri kita hanyalah sekadar pemegang amanah untuk menjaganya atau memeliharanya. Karena bencana itu kekuasaan Allah SWT secara mutlak, sedangkan Allah tidak pernah zalim kepada makhluk ciptaan-Nya, maka dibalik bencana, musibah atau bala terdapat banyak hikmah bagi para hamba-Nya yang beriman.

Kematian yang menyayat hati akibat banjir atau tanah runtuh adalah ketentuan terbaik pada pandangan Allah, penguasa alam semesta.

Tidak ada yang akan terjadi di alam raya ini kecuali atas izin dan kehendak-Nya. Meskipun, perlu diingat bahwa kehendak-Nya tercermin pada hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya. Apabila seseorang tidak menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya yang tercermin dalam hukum-hukum alam itu, dia pasti mengalami kesusahan serta kesukaran. Dia akan mengalami bencana, baik pada dirinya maupun sekitarnya.

Di dalam Al Quran, banjir pernah menelan korban jiwa kaum ‘Ad, negeri Saba’ dan kaumnya Nabi Nuh. Peristiwa ini dapat kita telaah dalam beberapa ayat di antaranya Surah Hud ayat 32-49, Surah al-A’raf ayat 65-72, dan Surah Saba ayat 15-16. Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang coba disampaikan para nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.

Allah SWT berfirman: “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran”. (Q.S. Hud: 101).

Hikmah Musibah

1. Muhasabah atau introspeksi diri

Kita dianjurkan untuk mengevaluasi diri kita, apa saja kekurangan dan kesalahan yang perlu dibenahi. Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, dan gunung meletus adalah fenomena yang tidak bisa dikendalikan manusia. Ini bukti kelemahan manusia, dan seyogianya bencana alam menyadarkan mereka untuk kian merendah serendahnya di hadapan Allah SWT. Bila bencana itu disadari akibat kesalahan manusia, maka seharusnya bencana alam berdampak pada perubahan sikap kita menjadi lebih baik.

Muhasabah ini penting dilakukan baik oleh mereka yang menjadi korban maupun bukan korban. Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkutbah

Artinya: “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab. Karena sesunguhnya hal itu akan meringankan hisabmu (di hari kiamat).”

Bagi korban, bencana adalah fase penting memeriksa dosa-dosa sendiri, tingkat penghambaan kepada Allah, pergaulan sosial, dan sikap terhadap lingkungan alam selama ini. Bagi mereka yang bukan korban dan di luar lokasi bencana, hal ini adalah peringatan bagi diri sendiri untuk kian menjaga perilaku dan sifatnya baik kepada Allah, sesama manusia, dan juga alam sekitar.

2. Bersyukur dan optimis

Dari ‘Aisyah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang mukmin terkena duri atau yang lebih menyakitkan darinya kecuali Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan.” (HR. Tirmidzi)

Dalam konteks ini, bersyukur bagi para korban adalah ridha atas bencana yang menimpanya dan menilai penderitaan saat ini adalah cara Allah melebur dosa-dosanya dan menaikkan kualitas kepribadiannya. Sebagaimana ujian akhir semester bagi siswa sekolah untuk naik ke semester berikutnya, bencana merupakan ujian bagi para korban untuk bisa mendaki pada derajat yang lebih mulia.

Hadits tersebut merupakan cara Rasulullah memberikan optimisme kepada umatnya agar tidak larut secara terus-menerus dalam kesedihan, banyak mengeluh, apalagi sampai putus asa. Dalam penderitaan, kita mesti husnudh dhan (berprasangka baik) bahwa ada maksud khusus dari Allah untuk meningkatkan mutu diri kita, baik dalam ibadah (menghamba kepada Allah) maupun muamalah(hubungan sosial).

3. LAdang amal ibadah pasca bencana

Jika bencana adalah ujian kenaikan derajat, maka kenaikan tersebut hanya terjadi bila yang bersangkutan benar-benar lulus dari ujian. Bencana alam merupakan wasilah bagi para korban yang isinya menuntut manusia untuk sabar, ikhtiar, tawakal, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn, sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita kembali. Kualitas kepribadian mereka sebagai hamba meningkat manakala “materi ujian” dapat dilalui dengan baik dan benar.

Bagi mereka yang tidak menjadi korban, bencana alam adalah ujian untuk menunjukkan kepedulian kemanusiaan atas mereka yang sedang ditimpa kesulitan. Pertolongan berupa tenaga, pikiran, dana, harta benda, makanan, doa, dan lain sebagainya penting disalurkan. Syukur atas keselamatan diri kita dari bencana bisa ditunjukkan dengan kesediaan berbagi kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan. Bisa dengan menjadi relawan, donatur bantuan, atau keterlibatan lainnya yang dapat meringankan beban para korban.

“Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim).

*Indrawati/Berbagai Sumber

Leave a Reply