Gurihnya Lammang Makanan Khas Nusantara

61
Bagikan via
Ka'do Bulo, makanan khas nusantara

MAKASSAR— Lammang, makanan khas nusantara ini tergolong unik. Saat ingin mencicipinya tentu membutuhkan waktu beberapa menit untuk membela bambunya dan mengeluarkan beras tersebut. Waow, aromanya sudah menghipnotis saat ketan dikeuarkan dari bambu.

Banyak yang tergoda hanya dengan melihat bambu tersebut di bakar. Kemudian menghadirkan rasa penasaran ingin mencicipinya, gurih dan lezat begitulah kira-kira yang dirasakan ketika makan Lemang. Kuliner ini terasa nikmat jika di santap saat hangat.

Makanan kaya rasa ini, hampir dimiliki seluruh daerah yang ada di Indonesia. Di Makassar orang biasa menyebutnya Lammang, di melayu lemang sementara di Batak disebut lomang.

Masing-masing daerah mengklaim kuliner tersebut sebagai makanan khas daerahnya. Padahal jika dilihat dari wikipedia, kuliner ini juga ada di Samarinda yang di produksi dan di perdagangkan oleh orang-orang Banjar.

Cara mengonsumsi Lemang berbeda-beda dari daerah ke daerah. Ada yang senang menikmatinya dengan cara manis ditambah selai, kinca, serikaya.  Atau dengan cara asin dengan rendang, telur, dan lauk-pauk lainnya, atau ada juga yang memakannya dengan buah-buahan.

Lemang dijadikan makanan perayaan oleh suku Dayak yang disajikan pada pesta-pesta adat mereka. Bagi suku Melayu, lemang biasa disantap saat hari raya Idul Fitri atau lebaran Idul Adha.   Orang Minangkabau juga menyukai lemang, bahkan kota seperti Tebing Tinggi dikenal dengan julukan “Kota Lemang”. Lemang juga merupakan makanan orang asli Negrito yang ada di Kelantan dan suku Semai.

Di Sulawesi-Selatan, hampir semua daerah ada Lammang, kuliner ini banyak di jual daerah Gowa tepatnya di Bili-bili kecamatan Parangloe. Selain gowa juga ada di daerah Jeneponto dan Maros.

Harga masing-masing daerah bervariasi, di Gowa misalnya pedagang Lammang menjual dengan harga Rp20 ribu. Sedangkan di Maros, pedagang Lammang bisa anda jumpai sebelum permandian Bantimurung, disana ada beberapa ibu-ibu terlihat membakar Lammang. Mereka menjual dengan harga Rp 25 ribu per biji.

Salah seorang Dosen Komunikasi Fakultas Dakwah UIN Alauddin, Haidir Fitra Siagian yang juga penggemar makanan nusantara ini mengakui kelezatan Lammang. Karena ia dari suku Batak tepatnya di kampung Sipirok, orang menyebut Lomang. Setiap dua pekan penjual terlihat berjejer di pasar Sipirok.

Lanjutnya, ia dan teman-temannya tahun 2010 pernah berkumpul dan membuat lammang. “Sebagai tuan rumah, saya berada di garda terdepan saat memasak lammang. Berdekatan dengan api yang membara. Panasnya luar biasa, sampai mata pun kena asap,” katanya.

 

Ada  di Kawasan Asia Tenggara

 Masih menurut Haidir, makanan khas ini juga bisa anda nikmati ketika berada di tiga negara tetangga yakni, Malaysia, Singapura dan Thailand. Jelang Idul Adha di jalanan menuju Kampus UKM Malaysia, banyak sekali penjual lammang. Ia bahkan biasa melihat kuliner ini di jual di Terminal Larkin Johor Baru,  sebelum menyeberang ke Singapura, dapat menikmati di warung sebelah kiri.

Bahkan ketika berkunjung ke Thailand, ia juga melihat sejenis Lammang di jual, sama-sama terbuat dari beras ketan dan santan, namun berbeda cara memasaknya. “Bulan lalu ketika saya ke Bangkok dan Pattaya, makanan ini disajikan dengan mangga masak, warna kuning, diolesi pula dengan susu. Oleh pihak restoran diberikan sebagai menu penutup, walau tak dipesan, sifatnya sebagai hadiah,” katanya.

  • Penulis : Andi Amriani

 

 

 

 

Leave a Reply