Ini Cerita Makam Pangeran Diponegoro Ada di Makassar

207
Bagikan via
Lukisan Pangeran Diponegoro/INT

Siapakah Pangeran Diponegoro dan kenapa makamnya ada di Kota Makassar ?

Pangeran Diponegoro merupakan bangsawan dari Yogyakarta. Ia anak dari Sultan Hamengkubono ke III, Pangeran Diponegoro lahir dari rahim selir Sri Sultan, yakni Raden Ayu Mangkarawati.

Sebagai keturan ningrat, pangeran yang bernama kecil Raden Mas Ontowiryo ini lebih senang dengan suasana hidup beragama dan berbaur dengan masyarakat. Karena itulah ia meninggalkan istana keraton dan tinggal bersama neneknya Ratu Ageng Tegalrejoog . Di luar keraton, pangeran bergaul dengan siapa saja dengan begitu ia merasa nyaman.

Pangeran Diponegoro merupakan pahlawan nasional, yang memimpin perang Jawa melawan kolonial Hindia Belanda. Perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro juga terkenal sebagai perang yang korbannya paling banyak.

Dari cerita sejumlah keluarga Diponegoro, perang Jawa pecah tahun ( 1825-1830) karena niat jahat pemerintah Belanda yang ingin menguasai bangsawan Jawa.

Saat itulah Pangeran Diponegoro yang akrab disapa Dipanegara,  tidak tinggal diam. Bersama pasukannya ia memimpin perang mengusir penjajah dari tanah Jawa.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Dipanegara di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Dipanegara yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Dipanegara menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong.

Saat itu, Dipanegara menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Dipanegara membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

 

Penangkapan dan Pengasingan Pangeran Diponegoro

  • 16 Februari 1830 Pangeran Dipanegara dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

 

  • 28 Maret 1830 Dipanegara menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Dipanegara agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Dipanegara. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Dipanegara ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung

 

Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

  • 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.

 

  • 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Dipanegara, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.

 

  • 3 Mei 1830 Dipanegara dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.

 

  • 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

  • 8 Januari 1855 Dipanegara wafat dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar.

 

  • Andi Amriani/dari berbagai sumber

Leave a Reply