Berbakti Kepada Orang Tua Jalan Menuju Surga

27
Bagikan via
Seoarang anak sedang bercerita kepadaa kedua orang tuanya/INT

Rasulullah telah mengabarkan bahwa orang tua merupakan pintu surga yang paling Tengah. Ia adalah pintu yang terbaik dan termulia di surga. Namun banyak dari kita yang justru menyia-nyiakan pintu surga tersebut.

Bahkan kita melihat sendiri bahwa manusia yang paling mudah untuk kita sakiti adalah orang tua kita. Mulai dari tidak mentaatinya, membantah, bersuara keras, menghardik bahkan memukul hingga membunuh orang tua telah menjadi kabar berita yang memilukan hati, baik hal itu terjadi di sekitar kita maupun di media cetak dan elektronik.

Nasehat dan kasih sayang mereka terasa pedis di telinga dan dianggap sebagai penghalang kebebasan anak sehingga selalu ingin berontak dan melawan. Laa haula walaa kuwwata illa billah…

Padahal kasih, cinta dan pengorbanan orang tua kepada Anaknya, sungguh hal yang tidak bisa dilukiskan. Bagaimana seorang ibu yang harus menjalani hari demi hari dengan kepayahan selama mengandung 9 bulan. Berani mempertaruhkan nyawa tatkala melahirkan dengan menahan sakit dan derita.

Merawat dengan penuh kesabaran, ketabahan dan harapan yang tinggi, semoga buah hatinya tumbuh dengan baik dan kelak menjadi penyejuk mata. Yang ia rela untuk makan tidak kenyang asalkan anaknya kenyang, yang rela tidak tidur agar anaknya bisa terlelap tidur.

Ia rela mencuci dan membersihkan najis anaknya yang mungkin anaknya merasa jijik dan marah jika membersihkan najis orang tuanya ketika telah renta. Oleh karenanya, seorang ibu mampu merawat 9 anak namun 9 anak belum tentu mampu merawat seorang ibu.

Di sana ada pula seorang lelaki yang menjadi sumber dan asal bagi sang anak. Dialah sang ayah yang senantiasa berjuang siang malam untuk keluarganya. Dialah sosok yang mengajarkan arti kehidupan, memperkenalkan agamanya  dan mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia yang begitu keras. Dialah sosok yang kebanyakan anak-anaknya tidak memahami akan dirinya.

Ia menyembunyikan duka laranya, tangisnya, resah gelisahnya, letihnya dan berusaha tegar di hadapan keluarganya. Dia menanyakan kabar tentang anak-anaknya lewat lisan dan suara halusnya ibu. Dialah yang memberikan uang saku lewat tangan lembutnya ibu.

Yang selalu memandang anaknya dari jauh dengan tawa kecil dan senyum lebar, namun berwajah tegas ketika mendekat untuk mendidiknya. Demikianlah seorang ayah, yang ia tidak pandai mengungkapkan kata cinta dengan lisannya namun dengan perbuatan dan pengorbanannya.

Ini hanya secuil dari jasa dan keadaan seorang ibu dan ayah. Masih banyak yang tidak bisa disebutkan. Maka alangkah ruginya seorang anak yang tidak mampu melihat dan membuka pintu surga lewat ibu bapaknya. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ﷺ ,«رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ»، قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»

“Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).” *[HR. Muslim (2551)]*

Maka barangsiapa yang masih memiliki kedua orang tua atau salah satu dari mereka, hendaknya ia menjaganya dan berbakti kepadanya. Karena jangan sampai ketika ia sudah meninggal baru kita merindukan senyuman dan pelukannya. Sebab kadar nikmat itu disadari dan diketahui, ketika nikmat itu telah hilang.

 

*[Disadur dari: [Mujibaatul Jannah fii Dhauis Sunnah karya Dr. Abdullah bin Ali Al-Ja’itsan  (hal. 47-50)]*

 

 

Leave a Reply