Perempuan Pesisir Takalar Gantungkan Hidup dari Rumput Laut

141
Bagikan via
Petani rumput laut Takalar sibuk memasukkan ke dalam karung rumput lautnya/foto. Ani

 

TAKALAR—Memasuki desa Punaga, Kecamatan Moncongkomba, Kabupaten Takalar, hawa laut terasa menyengat, bau amis sepanjang perjalanan menusuk, dan sedikit mengganggu penciuman.

Masih terlalu pagi, matahari belum juga kelihatan. Biasanya di kota, pada hari libur, masih bermalas-malasan di tempat tidur, atau sedang senang-senangnya menikmati hangatnya teh panas sambil membaca koran. Pemandangan pagi itu, terlihat berbeda dengan kehidupan di kota.

Sepanjang pantai di Desa Punaga, terlihat sekelompok orang sibuk bekerja dengan pakaian yang kotor dan basah. Masih terlalu pagi, mereka sudah terlihat di laut. Perempuan dan laki-laki sibuk menggeluti pekerjaan yang sama, yakni mengumpulkan rumput laut.

Rumput laut terlihat segar hijaunya menutupi air laut, disana juga terlihat kayu sebagai pembatas. Masing-masing batasan ada pemiliknya. Mereka adalah petani rumput laut yang tinggal di daerah pesisir. Satu wilayah yang sudah di patok ternyata dikerjakan oleh beberapa orang.

Saat berkunjung ke Dedsa Punaga, saya tertarik menyapa sekelompok emak-emak ada sekitar lima orang. Masing-masing sibuk bekerja. Ada yang menarik rumput dari laut dan mengumpulkannya di daratan yang di alasi tenda.

Ada juga yang sibuk memasukkan ke dalam karung dan menyusunnya di dekat pohon. Perempuan satunya memilih-milih, antara rumput yang bersih dan yang dak layak jual, ternyata perempuan tersebut satu keluarga, ibu dan anak. Banyak pohon besar di di dekat emak-emak tersebut. Di bawah pohon seorang anak bayi tertidur lelap di atas ayunan. Ia seolah mengerti orang tuanya sedang bekerja.

Jumasiah Dg. Baji, perempuan paling tua diantara perempuan-perempuan yang ada di dekatnya. Namun, terlihat sangat kuat dan semangat bekerja. Ia menarik rumput dari laut dan mengumpulkannya di atas tenda biru.

Ternyata ia adalah ibu dari kedua perempuan yang duduk di atas pasir sedang memasukkan rumput laut di karung. Jumasiah nenek dari bayi yang di ayun di bawah pohon itu. Seorang nenek, yang seharusnya sudah tidak bekerja lagi, duduk di rumah menjaga cucunya masih terlihat kuat bekerja.

 Dg. Baji bercerita, ia menggeluti pekerjaan tersebut sudah puluhan tahun. Kehilangan seorang suami, membuatnya tergerak untuk menghidupi kelima anak-anaknya dengan menjual rumput laut. Mata pencaharian warga disini mengumpulkan rumput laut.

“Kami menjaga, merawatnya sampai bisa di panen seperti ini, waktunya tiga bulan. Selama tiga bulan tersebut, setiap hari kami harus ada disini, di pinggir laut,” katanya dengan dialek Makassar, Sabtu (5/1/2019).

Wajahnya terlihat lelah. Saat itu ia memang sedang istirahat sejenak, bajunya yang basah tetap melekat di tubuhnya. Setiap hari seperti itu, tidak ada waktu untuk beristirahat, dan ia mengaku menikmati pekerjaannya.

Ketika di tanya apaka ada anak laki-lakinya, kenapa tidak ikut membantu. Perempuan berusia 54 tahun itu, hanya se  rumah dengan anak-anak perempuannya. Yang laki-laki sedang mencari kerja di Marauke.

Sayang sekali, Dg. Baji tidak seberuntung petani rumput laut lainnya. Rumput laut yang dipanen olehnya hanya dijual Rp 20 ribu per kilo itu dalam kondisi kering, sedangkan yang masih basah dibeli seharga Rp3.500 saja. Sementara di luar, harga rumput lau sangat tinggi, apalagi jika sudah diolah menjadi kerupuk rumput laut.

Kendati demikian ia akui sudah lebih dari cukup penghasilan yang didapatkan dari hasil kerja kerasnya tersebut. Hasil rumput lautnya sudah bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari bersama anak dan cucunya.

Ketika ditanya bagaimana cara memasarkannya, ia dengan santai menjawab, ada pengumpul yang setiap saat datang mencari rumput laut. Kepada pengumpul rumput laut, petani menjual hasil usahanya tersebut.

*Ditulis : Andi Amriani

 

 

 

 

 

Leave a Reply