Renungan Tentang Kematian dari Kata-kata Imam Al-Ghazali

288
Bagikan via
ilustrasi kematianfoto alif.id

Jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggal mu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu  setipa masa.

Carilah hatimu di tiga tempat. Temui hatimu sewaktu bangun membaca Al-Qur’an, tetapi jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan shalat. Jika tidak ketemu juga, carilah hatimu ketika duduk tafakkur mengingati mati.

Jika kau tidak temui juga, maka berdoalah kepada Allah Swt, pintalah hati yang baru karena hakikatnya saat itu engkau tidak punya hati.

Jadikanlah kemauan yang sungguh-sungguh itu menjadi mahkotanya ruh, kekalahan menjadi belenggunya nafsu dan mati menjadi pakaiannya badan, karena yang akan menjadi tempat diammu adalah kubur, dan ahli kubur setiap saat menunggu, bilakah engkau akan sampai pada
mereka.

Yang jauh itu waktu, yang dekat mati, yang besar itu nafsu, yang berat itu amanah, yang mudah berbuat dosa, yang panjang itu amal sholeh dan yang indah itu saling memaafkan.

Kematian adalah sesuatu yang pasti dan dirasakan oleh setiap orang, kematian tidak bisa ditawar-tawar, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan kapan dan dimana saja.

Suatu hari, Iman Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya.

Iman AI-Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini..?”
Murid pertama   : “Orang tua”
Murid kedua       : “Guru”
Murid ketiga       : “Teman”
Murid keempat  : “Kaum kerabat”
Imam Al-Ghazali : ” Semua jawaban itu benar.

Tetapi yang paling dekat dengan ialah kematian, sebab itu janji Allah Swt setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali- Imran : 185).

Begadang mata untuk kepentingan selain Wajah-Mu adalah sia-sia dan tangis mereka untuk sesuatu yang hilang selain-Mu adalah kebatilan, dan hiduplah sesukamu karena kamu akan mati juga.

Yang dekat itu kematian. Ingat bahwa ajal selalu mengiringi langkah kita di sepanjang waktu.

Siksa buat ulama adalah kematian mata hatinya ketika mereka memburu dunia melalui amalan akhirat.

Yang paling dekat dengan kita adalah mati, yang paling dekat dengan kita adalah masa lalu dan yang paling besar di dunia ini adalah nafsu.

Teman sejati kita adalah amal ketika kita berada di liang lahat. tiada yang lain selain amal sholeh yang pernah kita perbuat di dunia semasa hidup kita.

Manusia yang baik adalah manusia yang terus- menerus mengintropeksi diri, selalu mengingat kematian serta setiap saat siap sedia dengan kematian yang akan menghampirinya.

Nafsu ialah pengaruh yang sangat besar bagi seorang manusia. nafsu juga tempat syaitan bertengger ketika seorang manusia marah tak terkendali di situlah syaitan mempermainkan hawa nafsu seseorang. Manusia yang hebat adalah manusia yang mampu melawan hawa nafsunya.

Manusia yang selamat di dunia dan akhirat adalah manusia yang senantiasa mengikuti perkataan mata  mata hatinya bukan mata kepalanya.

Karena pada hakikatnya mata hati seorang manusia tiadalah bisa berdusta bersifat mutlak (absolut) sedangkan mata kepala seorang manusia bersifat relatif.

Saya sebagai seorang manusia di saat menulis ini air mataku bercucuran membasahi pipiku, seakan-akan mata yang berkaca-kaca ini menumpahkan air mata yang tertahankan. Rasanya seperti suasanan bermuhasabah di malam
hari ini.

Semoga bermanfaat kepada para pembaca.

ditulis oleh :  Misna zain
Mahasiswi jurnalistik
UIN Alauddin Makassar

Leave a Reply