Ingin jadi Istri Sholehah? Jangan Lakukan 3 Hal Ini

43
Bagikan via

“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian….” (al-Ahzab: 33).

Keluar rumah tanpa sepengetahuan dan seizin suami, mungkin dianggap biasa oleh sebagian istri, khususnya yang tidak mengerti hak dan kewajiban istri sebagaimana yang diatur oleh syariat. Terkadang seorang suami pulang dari tempat kerjanya mendapati di rumah hanya ada pembantu dan anak-anak, sementara sang istri tidak tampak wujudnya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya, “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ yakni tetaplah kalian berdiam dalam rumah kalian, jangan kalian keluar tanpa ada kebutuhan.” (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 6/245)

Walaupun pembicaraan dalam ayat di atas ditujukan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun juga mengena pada wanita-wanita mukminah lainnya. Sebagaimana kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat 32—34 dari surah al-Ahzab, “Ini merupakan adab yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan wanita-wanita umat ini mengikuti mereka dalam adab tersebut.”

Dengan demikian, hukum asalnya wanita itu berdiam di dalam rumah. Ia baru diperkenankan keluar bila ada kebutuhan. Ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha:

Saudah bintu Zam’ah keluar rumah (pada suatu malam) guna menunaikan hajatnya—setelah diturunkannya perintah hijab. Dia seorang wanita yang berpostur tinggi besar, tidak samar bagi orang yang mengenalinya.

Ketika itu, ‘Umar ibnul Khaththab melihatnya. Ia (‘Umar) pun berkata, “Wahai Saudah, ketahuilah, demi Allah! Engkau tidak tersembunyi bagi kami (kami dapat mengenalimu), lihatlah bagaimana dengan keluarmu dari rumah.”

Saudah pun kembali pulang. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsedang berada di rumahku. Beliau tengah makan malam. Tangan beliau memegang tulang (yang telah dimakan dagingnya). Masuklah Saudah seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku tadi keluar untuk memenuhi sebagian hajatku maka Umar berkata kepadaku ini dan itu.”

Saat itu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian selesai dalam keadaan tulang masih di tangan beliau dan belum diletakkan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah diizinkan bagi kalian untuk keluar rumah guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian.” (HR. al-Bukhari no. 4795 dan Muslim).

Bukan hanya itu, dalam Islam juga diajarkan adab ketika suami sedang tidak berada di rumah. Apa saja hal tersebut, berikut ulasannya.

1. Menerima tamu non mahram ke dalam rumah

Saat suami tidak ada di rumah, sang istri dilarang menerima orang lain, terutama yang bukan mahram. Terlebih

Hal ketiga yang dilarang dalam sikap istri terhadap suami menurut Islam, saat suami tak ada di rumah yaitu menerima orang lain. Apalagi jika sang suami tidak suka dengan orang bersangkutan karena dianggap bisa membawa pengaruh buruk. Sang istri sebaiknya tidak menerima tamu sama sekali di rumah saat sang suami tiada di rumah terutama jika sang tamu seorang pria.

2. Tidak merawat diri

Saat sang suami sedang meninggalkan rumah, seorang istri harus memelihara dirinya dengan baik untuk menghindarkan dosa istri kepada suami. Caranya yaitu dengan tidak berhubungan dengan lelaki lainnya atau melakukan hal-hal lain yang menyebabkan suami marah.

3. Pergi meninggalkan rumah

Seperti yang diulas di atas, bahwa adab istri sholehah ialah tidak pergi keluar rumah tanpa sepengetahuan sang suami. Sekecil apapun keperluan yang harus diselesaikan di luar rumah, sang istri wajib melaporkannya pada suami dan meminta izin ke suami.

Penulis: Indrawati
Dari berbagai sumber

Leave a Reply