Dikenal Teduh dan Sakral, Masjid Tua Katangka Awali Syiar Islam di Sulsel

94
Bagikan via

Masjid Tua Al-Hilal Katangka adalah nama resmi yang tercantum di plang halaman masjid yang berlokasi di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Namun, masyarakat luas lebih mengenal masjid tersebut dengan nama singkatnya Masjid Katangka.

Masjid yang berada di garis batas kota Makassar-Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ini memiliki nuansa yang teduh dan sakral. Di balik penampilannya yang bersahaja, masjid tua itu telah menjadi saksi perjalanan Islam di tanah Sulsel.

Asal penamaan masjid disebut masjid Katangka karena jenis pohon ini dulunya banyak tumbuh di lingkungan sekitar masjid itu. Kayu katangka pula yang menjadi bahan pembuatan masjid yang berdiri tahun 1603 tersebut.

Pengasuh Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Harun Dg Ngella, masjid Katangka dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabbia atau yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk Islam dan mendukung penyebarannya ke seluruh Sulawesi Selatan.

Saat itu, syiar Islam di Sulsel tak lepas dari peran tiga sosok ulama asal Minangkabau, yakni Dato Ri Bandang, Dato Patimang, dan Dato Ri Tiro. Ketiganya mengislamkan banyak kerajaan di jazirah Selatan Sulawesi, termasuk Gowa.

Harun Daeng Ngella (38), mengatakan, Masjid Katangka didirikan di lingkungan yang dulu masuk dalam kawasan benteng Istana Tamalate, pusat Kerajaan Gowa.

“Letak masjid berdekatan dengan istana raja dan wilayah ini dikelilingi tembok benteng. Namun, bangunan istana dan benteng sudah tak tersisa lagi,” katanya.

Bukan hanya itu, di sekeliling bangunan masjid juga terdapat makam sejumlah Raja Gowa dan keturunannya. Sekitar 500 meter arah selatan masjid terdapat pula kompleks makam Sultan Hasanuddin. Raja Gowa XVI yang merupakan cucu Sultan Alauddin itu adalah pahlawan nasional yang gigih melawan penjajahan Belanda pada abad ke-17.

Karena berada di “jantung” kerajaan, Masjid Katangka juga dibekali dengan “fitur” khusus, yakni dinding dengan ketebalan 1,2 meter.

“Pada masa itu, selain sebagai pusat peribadatan dan syiar Islam, masjid ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan semasa perang,” ujarnya.

Arsitektur

Pintu masuk bangunan utama masjid terletak di sisi timur dengan luas 144 meter persegi. Terdapat dua pintu, namun hanya satu yang sehari-hari difungsikan. Di sisi pintu utama itu tercantum prasasti kecil yang bisa dengan jelas terlihat oleh siapa pun yang memasuki masjid. Di bagian atas prasasti bertuliskan “Masjid Tertua di Sulsel”, sementara di bagian bawahnya tertulis “1603”.

Satu hal lain yang unik adalah sebuah ornamen kaligrafi di gapura kecil mimbar. Kaligrafi berhuruf Arab itu menggunakan bahasa Makassar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Harun, sebagai berikut:

“Mimbar ini dibuat pada hari Jumat tanggal 2 Muharam tahun 1303 Hijriah. Diukir oleh Karaeng Katangka bersama Tumailalang Lolo. Apabila khatib sudah berada di atas mimbar, kita tidak diperkenankan lagi berbicara masalah dunia”.

Selain mimbar, bagian menarik lainnya adalah empat pilar utama masjid yang berbentuk silinder cembung. Harun mengatakan, pilar itu mengadopsi gaya bangunan Eropa.

“Jadi, masjid ini memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Tiongkok, Eropa, Jawa, hingga lokal,” katanya.

Arsitektur serta sejarah yang melekat, membuat masjid Katangka menarik minat masyarakat untuk beribadah di sana. Salah satunya Baharuddin Nae (40), warga Makassar yang kerap mampir untuk menunaikan shalat di masjid itu meskipun rumahnya berjarak sekitar 3 kilometer dari masjid.

Baharuddin mengaku bisa lebih merasakan kekhusyukan saat beribadah di masjid tersebut. “Karena itu, setiap kali berkesempatan lewat masjid ini, saya selalu usahakan mampir untuk shalat,” kata wiraswasta ini.

Ia juga mengaku takjub dengan usia Masjid Katangka yang telah mencapai empat abad tersebut. Awalnya, saat pertama kali mengunjungi masjid tersebut untuk shalat Jumat enam tahun lalu, ia tak menduga usia masjid sudah setua itu.

Penulis: Indrawati

Leave a Reply