Adab Berbusana di Zaman Rasulullah SAW

58
Bagikan via

Islam adalah agama yang bersih dan mencintai kebersihan. Rasulullah dalam banyak haditsnya selalu menekankan pentingnya kebersihan, bahkan mengaitkannya dengan keimanan. Beliau bersabda kebersihan mengajak kepada iman, sedangkan iman akan bersama pemiliknya di dalam Surga. (HR Thabrani).

Salah satu aspek kebersihan yang menjadi perhatian Rasulullah SAW berkaitan dengan pakaian dan penampilan secara keseluruhan. Pernah seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dengan rambut dan jenggot yang kusut, lalu beliau mengisyaratkan kepadanya agar memperbaiki rambutnya. Orang itu melaksanakannya dan datang kembali menemui Nabi SAW dalam keadaan rapi.

Nabi SAW kemudian berkata kepada laki-laki itu: “Bukankah ini lebih baik daripada seseorang dari kamu yang datang dengan rambut kusut masai seperti setan?. Pada kesempatan yang lain, beliau pernah melihat seseorang dengan pakaian yang kotor. Beliau bersabda:

“Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu untuk mencuci pakaiannya?” (HR Abu Daud).

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia beradab yang berfungsi untuk menutup badan dari sengatan matahari dan hembusan angin. Pakaian juga berfungsi sebagai penutup aurat bagi bagi manusia beragama (Islam), yang dapat menghindarkannya dari kejahatan-kejahatan birahi (seksual). Pada perkembangan selanjutnya, pakaian menjadi simbol kebesaran yang membedakan status sosial seseorang.

Inilah yang terjadi pada masa Nabi SAW ketika pola berpakaian telah menempatkan manusia ke dalam kotak-kotak sosial. Mereka mengatur orang-orang miskin untuk mengenakan jenis dan model pakaian tertentu. Sementara para pemuka kaum dan penguasa mengenakan pakaian yang mewah, berbahan sutra, serta ujung bagian bawah menyeret-nyeret tanah saat berjalan ke sana kemari.

Nabi SAW diutus membenahi mentalitas mereka. Salah satunya dengan mengoreksi gaya berpakaian seperti ini. Suatu hari Nabi SAW melihat seorang laki-laki berpakaian terseret sampai tanah. Kemudian mereka berlari mengejar laki-laki, seraya berkata:

“Angkat pakaianmu, dan bertaqwalah kepada Allah”. Lelaki itu berkata: “Kaki saya bengkok, lutut saya tidak stabil ketika berjalan”. Nabi bersabda: “Angkat pakaianmu, sesungguhnya semua ciptaan Allah itu baik.”

Sejak saat itu, lelaki tersebut selalu memakai kainnya di atas pertengahan betis, atau di pertengahan betis. (HR. Ahmad).

Penulis: Indrawati
Sumber: Majalah Noor

Leave a Reply