Buah Hati Bicara Cinta? Bu, Kenalkan Makna Cinta Sejak Dini

71
Bagikan via

Pendidikan anak adalah tugas serta kewajiban orangtua untuk memberikan pembelajaran yang baik dan benar.

Namun, apa yang akan Anda lakukan jika sang buah hati Anda sudah berani menulis kalau dia cinta dengan temannya. Ketua Komunitas Menata Keluarga (eMKa) Makassar, Melly Kiong pun memberikan jawabannya lewat seminar parenting, beberapa waktu lalu.

“Saya pernah melihat anak seusia itu mencium kakaknya dengan menyatakan cinta. Perlu panik atau tidak? Antara perlu dan tidak. Biasanya perilaku anak berasal dari hasil menonton televisi, yang orangtua tidak bisa abaikan,” ungkapnya.

Melly melanjutkan, bahwa yang harus dilakukan orangtua adalah meyakinkan anak bahwa mereka belum mengerti yang namanya cinta atau pacaran. Dia hanya suka sama temannya, dan cari tahu mengapa dia suka. Jelaskan pacaran hanya untuk orang yang sudah dewasa seperti mama dan papa. Jadi ajak dia ganti tulisan kalau dia sayang semua teman temannya.

“Selalu tumbuhkan keyakinan kalau anak belum mengerti dan kasih tahu terlebih dahulu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Baru berikan konsekuensi dibelakangnya,” ungkapnya.

Mungkin ada beragam pendapat terhadap kasus tersebut. Tetapi yang namanya anak, meskipun secara umur, akalnya belum mampu bekerja secara dewasa, tetapi memori dan perasaannya sudah mulai aktif. Kita tidak bisa bayangkan, jika suatu saat dia dewasa dan menikah, kemudian menganggap masa sekolah dengan pacarnya itu dianggap sebagai masa paling indah.

Jelas ini suatu kekeliruan. Belum lagi, kalau kemudian ada kemungkinan yang mengarah hubungan masa kecil itu bersemi kala dewasa. Sementara satu di antaranya telah berumah tangga. Jelas ini bahaya. Mungkin, ini terlalu jauh, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa memori kebanyakan orang bersama pacar adalah memori yang sulit dilupakan.

Untuk itu, tugas orangtua di era modern ini tidak cukup pada soal anak berangkat sekolah atau tidak. Tetapi lebih jauh harus memantau pergaulan anak-anaknya, meskipun masih usia TK atau balita. Karena, pada masa tersebut, memori sudah aktif dan perasaan juga sudah bekerja.

Islam telah memberikan panduan jelas tentang hal ini. Pertama, orangtua mesti mengenalkan kepada anak-anaknya perihal jenis kelamin. Anak harus tahu bahwa dirinya perempuan atau laki-laki. Setelah itu, masuk satu penjelasan bahwa seorang perempuan dilarang berciuman atau berpelukan dengan teman laki-laki.

Kedua, anak diarahkan untuk memahami apa itu cinta dan kasih sayang. Berciuman dan berpelukan itu memang tanda cinta dan kasih sayang. Tetapi itu hanya berlaku dalam keluarga, anak kepada ayah, atau ayah kepada ibu. Ciuman dan pelukan itu tidak berarti cinta dan kasih bagi anak-anak yang beda jenis kelamin.

Pengertian ini mungkin dianggap terlalu berlebihan atau lebay dalam bahasa gaulnya, tetapi ini harus masuk dalam sistem kesadaran anak-anak kita sendiri, sebagai kandidat Muslim penerus generasi ummat.

Ketiga, selain membiasakan berjilbab bagi anak perempuan, setiap hari orangtua mesti memberikan atau menguji pemahaman anak perempuannya perihal jilbab. “Kenapa pakai jilbab,” misalnya suatu saat kepada anak yang sudah biasa berjilbab. Hal ini untuk mengetahui apakah anak sudah memahami atau sekedar terbiasa berjilbab saja.

Pilar utama yang dibenahi di keluarga:

Beberapa pilar utama yang harus dibenahi dalam mendidik anak agar bisa menjadi kebanggaan orangtua adalah:

1. Pondasi

Orangtua harus pandai dalam memikirkan solusi utama dalam mengatasi masalah anak. Buang anggapan bahwa anak masih kecil dan belum mengerti jika kita benar mau mendidik mereka.

2. Dinding

Kecerdasan emosional orangtua yang ter-Up-Graed menjadi mudah dalam mendidik. Setiap orangtua sangat ingin anaknya bahagia, namun butuh usaha yang keras untuk merealisasikannya.

3. Atap

Kecerdasan tertinggi yaitu kecerdasan spiritual. Kuncinya orangtua bisa rendah hati. Bahasa santun yang digunakan orangtua akan mengalir bagikan darah dalam tubuh anak anak.

4. Pintu

Pernikahan yang baik sebagai sumber kebahagiaan keluarga.

5. Jendela kanan ialah hubungan baik dengan orangtua adalah “JALAN”.

6. Jendela kiri adalah kontribusi asisten rumah tangga yang tak kalah pentingnya.

Ciptakan Keluarga Islami

Bagaimanakah wujud keluarga Islami itu? Jika Anda menemui goncangan menyangkut diri Anda dalam masalah pribadi, hubungan dengan suami atau isteri dan anak-anak, atau dalam berbagai kondisi yang menyertai keluarga, jangan panik atau merasa dunia hampir kiamat.

Sebab, justru dalam momen seperti itulah Anda dapat memperlihatkan komitmen sebagai seseorang sebelum dibuktikannya melalui amal kehidupan. Ada beberapa hal yang patut anda perhatikan dalam upaya menumbuhkan keluarga bahagia menurut ajaran Islam atau dalam menghadapi berbagai persoalan, diantaranya:

1. Fikrah yang jelas

Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Keluarga islami adalah paham hakekat pernikahan untuk kemajuan dakwah.

2. Penyatuan idealisme

Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.

3. Mengenal karakter pribadi

Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan.

4. Pemeliharaan kasih sayang

Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang.

5. Kontinuitas tarbiyah

Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama.

6. Penataan ekonomi

Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga.

7. Pembagian beban

Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga.

8. Mengharapkan rahmat Allah

Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hambaNya yang Shalih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan Tuhan harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.

Penulis: Indrawati

Leave a Reply