Wakaf Kekinian Masuk Kurikulum Pendidikan

71
Bagikan via
Direktur pemberdayaan zakat dan wakaf Kemenag, Fuad Hasan/Int

Makassarinside.com, Surabaya  — Kesadaran akan wakaf harus ditumbuhkan sejak dini, melalui jalur pendidikan. Untuk itu, Kemenag mendorong dilakukan pembaruan materi wakaf dalam kurikulum pendidikan sekolah dan perguruan tinggi.

“Pembaruan ini penting untuk membuka wawasan dan cakrawala generasi milenial tentang wakaf dalam konteks kekinian,” terang Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf M. Fuad Nasar saat mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada peluncuran Gerakan Indonesia Sadar Wakaf (GISWAF) di Surabaya, Senin (10/12).

Seperti dilansir dari laman kemenag.go.id, Peluncuran GISWAF dilakukan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Bank Indonesia dan Badan Wakaf Indonesia di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, UNIDA Gontor sekaligus memperkenalkan lahirnya International Centre for Awqaf Studies (ICAST) dan meluncurkan buku “Fiqih Wakaf Praktis (Dasar) Seri 1”.

Peluncuran GISWAF merupakan bagian dari rangkaian acara berskala nasional “Indonesia Economic Syariah Festival” (ISEF) yang ke-5 digelar oleh Bank Indonesia di kota pahlawan Surabaya dari 11 – 15 Desember 2018. GISWAF lahir dari semangat untuk memanfaatkan potensi ekonomi umat Islam di Indonesia yang besar. GISWAF memiliki program lanjutan selain berupa roadshow dengan menggandeng lembaga terkait, yang secara terarah dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada masyarakat terkait wakaf.

“Program penguatan literasi wakaf kepada kalangan generasi muda terutama mahasiswa sebagai elite generasi terpelajar dan calon pemimpin bangsa perlu diintensifkan, seperti lewat program wakaf goes to campus, program kajian, penelitian dan sebagainya,” jelas Fuad saat membacakan sambutan tertulis Menag.

Dikatakan Fuad, pengembangan nilai manfaat pengelolaan wakaf untuk pendidikan, ekonomi, pelestarian kebudayaan Islam, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan insfrastruktur sosial yang dibutuhkan masyarakat perlu mendapat perhatian dari para nazhir wakaf dan penggiat wakaf, di samping manfaat wakaf sebagai sarana peribadatan umat.

“Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki ketiga modal tersebut di atas, yakni Masjid, Pesantren dan Kampus. Para pendiri Gontor, almarhum Bapak K.H. Imam Zarkasyi, Bapak K.H R.Z. Fanani, dan Bapak KH Ahmad Sahad, Trimurti yang kita kenang dan hormati jasa-jasanya, telah memberikan contoh terbaik tentang bagaimana umat membangun wakaf, dan wakaf membangun umat lewat pendidikan,” urainya.

Fuad mengapresiasi kemitraan lintas otoritas yang terjalin semakin erat dalam mengawal agenda pengembangan wakaf yang terkoneksi dengan instrumen keuangan syariah lainnya. Dia menilai hal itu sebagai milestone penting untuk mendekatkan bahkan mengintegrasikan sektor komersial dengan sektor sosial keuangan syariah.

Peluncuran GISWAF dihadiri ratusan mahasiswa dan santri. Kegiatan ini diisi sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Syamsul Hadi Abdan, Wakil Rektor I UNIDA Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.,Ed, M.Phil, dan Ketua Badan Wakaf Gontor K.H. Akrim Mariyat, Dipl. Ad.Ed.

Dari Bank Indonesia hadir Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) M. Anwar Bashori dan Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah. Sementara Ketua BWI pusat diwakili Ketua BWI Perwakilan Jawa Timur Prof. Dr. Feishal Haq.

 

Leave a Reply