Abdullah bin Rawahah, Penyair yang Syahid di Medan Perang

164
Bagikan via

Ia adalah Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Harits bin Khozroj al-Ansari. Kunniah beliah adalah Abu Muhammad. Ibunya bernama Kabsyah bintu Waqid bin ‘amru bin al-Thinaabah dari bani Harits bin Khazraj. Pada zaman jahiliyah Abdullah bin Rawahah adalah seorag penulis (كاتبا ). Beliau juga adalah seorang yang suka melantukan syair-syair yang indah. Semenjak beliau memeluk Islam maka seluruh syairnya ia persembahkan hanya untuk Islam.

Adapun keislaman beliau ialah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sahabat yang mulia Mus’ab bin Umair rodhiyallahu ‘anhu ke kota Madinah untuk mendakwahkan Islam dan kalimat tauhid. Maka, saat itulah Abdullah bin Rawahah memeluk islam. Abdullah bin Rawaha juga adalah seorang sahabat yang mengikuti bai’at ‘aqobah pertama dan kedua.

Semenjak beliau memeluk Islam, ia telah mengikuti bebagai macam pertempuran bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya perang Badr, perang Uhud, perang Khondaq, perang Hudaibiyah, perang Khaibar, dan perang Mu’tah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan beliau dengan jihad. Beliau idak sekadar berjihad dengan pedang dan hartanya. Akan tetapi, ia juga berjihad dengan lisannya. Ia membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lantunan syair-syair pujiannya yang indah terhadap Islam yang membengkakkan telinga dan mencekam hati orang kafir yang mendengarnya. Dalam medan pertemuran beliau tidak hanya memegang pedangnya, akan tetapi beliau juga membawa dan menghunuskan syair-syairnya.

Ia dikenal sebagai penjaga stabilitas Islam di Madinah atas tipu muslihat Abdullah bin Ubay pemimpin golongan kaum munafik yang mencoba menghacurkan Islam. Pada saat ketika, turun wahyu Allah surat Asy-Syu’ara ayat 224, dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Mendengar ayat itu, Abdullah menjadi sedih. Namun, ia terhibur dengan turunnya ayat 227 surat Asy-Syu’ara,

“Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Beliau juga adalah mujahid sejati yang tak pernah mundur dalam medan laga. Di setiap pertempuran beliau selalu membakar semangat kaum muslimin dengan syair indah yang mampu menumbuhkan semangat dan jiwa Kesatria di hati-hati kaum Muslimin. Sehingga mereka tidak takut akan kematian. Rindu dengan syahid yang Allah janjikan.

Menjadi Panglima Perang

Abdullah bin Rawahah bukan hanya seorang penyair. Ia juga turut berjuang di medan jihad, Abdullah ikut serta dalam peperangan di Badar, Uhud, Khandak, dan Khaibar. Ketika itu, syair-syair Abdullah bin Rawahah menyemangati pejuang Muslim. Diantara syair yang beliau sering lantunkan ialah:

“Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikkan akan ditemui Rasul-Nya.”

Pada saat persiapan perang Muktah, Rasulullah menunjuk Abdullah bin Rawahah untuk menjadi panglima perang yang ketiga setelah Zaid bin Haritsah dan Jafar bin Abu Thalib. Apabila Zaid gugur, pemimpin pasukan muslim adalah Jafar bin Abu Thalib. Apabila Jafar gugur, pemimpin pasukan muslim digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Dalam perjalanan ke Muktah, syair-syair Abdullah memberikan semangat kepada pasukan Muslim. Pasukan Muslim pun semakin teguh pendiriannya untuk membela agalam Allah. Mereka tetap bersemangat sekalipun mereka melihat pasukan musuh yang jauh lebih banyak dibandingkan jumlah mereka. Jumlah pasukan Romawi saat itu mencapai sekitar 200.000 tentara. Beberapa di antara pasukan muslim ada yang mengusulkan untuk meminta pasukan tambahan kepada Rasulullah. Mendengar usul demikian, Abdullah bin Rawahah berkata dengan lantang,

“Wahai kawan-kawan ! Demi Allah, sebenarnya kita berperang bukan karena jumlah atau kekuatannya. Kita berjuang untuk agama Allah, salah satu dari dua kebaikan pasti akan kita capai, yaitu kemenangan atau syahid di jalan Allah”.

Pasukan muslim pun berteriak membenarkan ucapan Abdullah bin Rawahah. Pasukan muslim terus maju bergerak membela agama Allah.

Pertempuran yang tidak seimbang pun terjadi. Ketika itu, panji perang tentara Muslim dibawa oleh Zaid bin Haritsah. Zaid menyerbu tentara musuh dengan semangat tinggi. Pada pertempuran itu, Zaid mati syahid. Kemudian, panji dibawa pertempuran oleh Jafar bin Abu Thalib. Jafar mengibas-ngibaskan pedangnya pada barisan tentara musuh. Jumlah yang tidak seimbang menyebabkan Jafar harus menghadapi beberapa tentara sekaligus. Saat itulah, tangan kanannya terputus karena sabetan pedang. Ia pun memegang panji dengan tangan kirinya. Akhirnya, Jafar juga mati syahid. Abdullah bin Rawahah segera mengambil panji itu dan pergi menjauh dari medan perang. Namun saat itu, tentara Muslim dalam keadaan terdesak. Abdullah bin Rawahah pun kembali bertempur secara mati-matian.

Ia juga terus menyemangati pasukannya. Ia menyerang pasukan musuh dengan pedangnya dan berhasil menewaskan beberapa tentara musuh. Namun setelah beberapa lama bertempur, ia mati syahid.

Saat pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam (perang Muktah), Rasulullah Saw sedang duduk beserta para shahabat di Madinah membicarakan perang. Tiba-tiba Nabi terdiam, kedua matanya basah berkaca-kaca. Beliau mengangkat wajah dengan mengerdipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh karena rasa duka dan belas kasih. Seraya memandang sekeliling, ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau kemudian berkata :

“Panji (bendera) perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur hingga gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.”Rasulullah terdiam sebentar, lalu ia bersabda : “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia pun syahid pula.”

Rasulullah diam seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu bersabda : “Mereka bertiga diangkat ke tempatku di Surga.”

Dari berbagai sumber

Leave a Reply