Kisah Wanita Muhajiriyah Beriman Nan Istimewa

161
Bagikan via

Saudah binti Zam’ah adalah seorang wanita Quraisy dari Bani ‘Amir. Ia termasuk wanita martabat, mulia, serta memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Semasa hidupnya ia merupakan sosok yang ikut berjihad di jalan Allah serta menjadi wanita pertama yang berhijrah ke Madinah.

Setelah kematian Khadijah, terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj. Malaikat Jibril membawa Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam ke Baitul Maqdis menuju langit ke tujuh. Di sana sang Rasul menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala. Ketika kembali ke Makkah, Rasul menceritakan perjalanan menakjubkan tersebut, namun kaum musyrikin tidak mempercayainya bahkan mengolok Rasul.

Dalam kondisi tersebut, tampillah Saudah binti Zum’ah yang juga ikut berjuang mendukung Rasulullah, kemudian menjadi istri Rasulullah yang kedua setelah Khadijah wafat.
Khaulah binti Hakim mendatangi Rasulullah dan menawarkan Saudah binti Zum’ah untuk menjadi pendampingnya.

Rasulullah pun mengingat nama Saudah yang sejak keislamannya banyak memikul beban perjuangan dalam menyebarkan Islam. Rasulullah memilih janda yang hanya dikenal oleh beberapa orang bukan untuk memenuhi nafsu duniawi, namun yakin bahwa Saudah bisa menjaga keluarga dan rumah tangganya setelah Khadijah wafat.

Rasulullah menikahi Saudah bukan karena harta dan kecantikannya, karena memang Saudah tidak tergolong wanita cantik dan kaya. Rasulullah melihat semangat jihadnya di jalan Allah Ta’ala, kecerdasan otak, keimanan, keikhlasan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta senantiasa menjalani kehidupan yang patut diteladani.

Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim As Salimah menawarkan Saudah. Sampai akhirnya Rasul mengulurkan tangannya yang penuh rahmat agar Saudah mendampingi sang Nabi menghadapi kerasnya kehidupan.

Pandai Bercanda

Saudah binti Zama’a merupakan seorang istri yang bisa menyenangkan hati Muhammad Shalallahu Alahi Wasallam dengan candaanya. Dalam riwayat Ibrahim An Nakha’i, Saudah berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam,

“Wahai Rasulullah tadi malam aku shalat di belakangmu, ketika ruku’ punggungmu menyentuh hidungku dengan keras. Maka aku pegang hidungku karena takut jika keluar darah.”

Mendengar hal tersebut, Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam pun tertawa . Ibrahim berkata, Saudah biasa membuat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tertawa dengan candanya. (Thobaqoh Kubra 8:54).

Saudah memiliki kelembutan serta kesabaran yang dapat menghibur hati Rasulullah. Ia tidak berharap dirinya sejajar dengan Khadijah di hati Rasulullah. Saudah merasa cukup puas dengan posisinya sebagai istri Rasulullah dan Ummul Mukminin. Wajah yang tak begitu cantik, tubuh yang gemuk, serta usia yang tua telah
digantikan dengan sikap lembut serta tutur katanya yang baik. Apapun yang dilakukan, semata-mata untuk menghilangkan kesedihan Rasulullah.

Keutamaan Saudah

1. Bermimpi Dijatuhi Bulan

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radiallahu Anhu berkata, “Saudah bermimpi melihat bulan jatuh kepadanya. Ia ceritakan mimpinya tersebut kepada As Sakran bin Amr Radhiallahu Anhu. Suaminya berkata: ‘Jika mimpimu benar, maka tidak lama lagi aku akan meninggal dunia dan engkau akan menikah sepeninggalku.’ Sejak saat itu As-Sakran jatuh sakit dan tak lama ia meninggal dunia, setelah itu Saudah dinikahi Rasulullah.”

2. Ayat Alqur’an turun terkait kasus Saudah binti Zam’ah

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya. Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS An-Nisa’:128).

3. Kekaguman Aisyah kepada Saudah binti Zam’ah

Aisyah berkata:“Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang aku sangat ingin menjadi kulitnya (maksudnya seperti dia) daripada Saudah binti Zam’ah.” (HR Muslim).

Penulis: Indrawati
Dari berbagai sumber

Leave a Reply