Para Orangtua, Waspada Kecanduan Gadget pada Anak

306
Bagikan via
anak-anak bermain gadget/internet

Di era globalisasi, tak heran jika berbagai kalangan terutama para remaja menggunakan Gawai (Gadget) untuk memudahkan komunikasi dan mendapatkan informasi secara cepat. Bahkan, beberapa kalangan tidak bisa lepas dari gadgetnya walau hanya 1 detik.

Gadget merupakan bagian penting, sampai-sampai terdapat istilah lebih baik ketinggalan dompet daripada harus ketinggalan gadget. Sebab, gadget telah menjadi budaya di tengah masyarakat. Hal tersebut bisa dilihat saat hendak makan yang didahulukan dengan momen memotret sebelum menyantap. Hingga lupa adab berdoa sebelum makan.

Bukan hanya itu, gadget selalu berinovasi dari masa ke masa. Gadget bisa membuat orang bertatap muka tanpa harus langsung bersentuhan secara fisik seperti Video Call (VC).

Hadirnya Gawai yang semakin canggih, tentu membuat remaja kecanduan atau ketagihan akan manfaat gadget. Terlebih, saat ini merk gadget dengan segala fiturnya yang menarik membuat remaja tidak ingin ketinggalan zaman.

Remaja yang kecenderungan menggunakan gadget tentunya akan berdampak pada lingkungan sosialnya yang hanya tertunduk pada gadget dan lupa di sekeliling. Seperti hal yang dialami mahasiswi asal Makassar, Hajratul yang mengatakan, susah lepas dari gadget.

“Dulu tidak ada ji gadget bisa ji kita hidup. Tapi sekarang kan berbeda mi kondisinya, hampir semua orang punya. Menurutku, gadget sekarang urutan kedua setelah uang,” ujarnya.

Profesor Marlene Lee yang mendalami Ilmu Psikologi di Singapura mengatakan, penyimpangan akibat teknologi bukan hal baru. Argumen tersebut mendapat sokongan dari psikiater Adrian Wang yang mengaku enggan mendiagnosa kecanduan seperti itu guna menghindari ‘memberi obat pada masalah sosial karena hal itu adalah masalah sosial yang lebih besar seperti keluarga dan kepercayaan diri’.

“Riset masih tahap dini sehingga banyak pertanyaan belum terjawab. Kecanduan teknologi sebenarnya memiliki kesamaan mekanisme dengan kecanduan lainnya,” ujar Marlene yang dilansir dari bbc.com.

Inovasi di Asia yang berhubungan dengan teknologi adalah keniscayaan. Psikolog berharap bahwa yang menular adalah sesuatu yang positif dan kreatif, bukan hanya kerisauan.

Sejalan dengan hal tersebut, Undang-undang Teknologi Informasi pun semakin diperketat pemanfaatannya di Pasal 40 Ayat 1 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008, yang menyatakan, pemerintahan memfasilitasi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-undang Teknologi Informasi juga mengatur UU menyebar informasi di media sosial, yang ada di Pasal 27 Ayat (1) Yang dimaksud dengan “mendistribusikan” adalah mengirimkan dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada banyak Orang atau berbagai pihak melalui Sistem Elektronik.

Sedangkan, yang dimaksud dengan “mentransmisikan” dalam pasal tersebut adalah mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang ditujukan kepada satu pihak lain melalui Sistem Elektronik. Yang dimaksud dengan “membuat dapat diakses” adalah semua perbuatan lain selain mendistribusikan dan mentransmisikan melalui Sistem Elektronik yang menyebabkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dapat diketahui pihak lain atau publik.

Dampak Gadget:

1. Dampak Negatif

– Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh
– Kurang bersosialisasi
– Dapat disalahgunakan oleh beberapa kalangan
– Efek radiasi
– Tidak konsentrasi saat belajar

2. Dampak Positif

– Sarana berjualan via online
– Menambah pengetahuan
– Memperbanyak teman
– Memudahkan komunikasi

Penulis: Irma
Editor: Indrawati

Leave a Reply