Hukum Wanita Haid Masuk Masjid

242
Bagikan via

Haid dan nifas bukan penghalang bagi wanita haid untuk melakukan ibadah. Ada banyak aktivitas ibadah yang bisa dilakukan oleh wanita yang sedang haid atau nifas. Begitu pula ia butuh ilmu.

Bagaimanakah jika Muslimah mengalami haid sedangkan ia butuh siraman rohani atau pelajaran ilmu syar’i dan cuma ditemukan di masjid. Syekh Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya: apakah boleh bagi wanita haid menghadiri halaqah dzikir di masjid?

Ia menjawab: Wanita yang haid tidak boleh berdiam di masjid, sedangkan bila hanya lewat maka tidak mengapa dengan syarat yakin bahwa tidak akan mengotori masjid dengan darahnya. Apabila tidak boleh baginya untuk berdiam di masjid, maka tidak boleh juga baginya untuk masuk mendengarkan pengajian atau bacaan Alqur’an.

Kecuali apabila terdapat tempat di luar masjid yang dapat mendengar suara dengan perantara mikrofon, maka tidak mengapa untuk mendengarkan pengajian. Tidak mengapa seorang wanita haid mendengarkan dzikir dan ayat-ayat Alqur’an sebagaimana hadist Rasulullah bahwa ia bersandar di pangkuan Aisyah dan membaca Alqur’an, sedangkan saat itu Aisyah sedang haid.

Dalam perkara ini, mayoritas ulama melarang wanita haid duduk lama di masjid, meskipun untuk kajian Islam. Sementara sebagian ulama membolehkan wanita masuk masjid. Diantara alasannya:

Dalil pertama: Disebutkan dalam riwayat Bukhari, bahwa di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ada seorang wanita berkulit hitam yang tinggal di masjid. Sementara, tidak terdapat keterangan bahwa Nabi memerintahkan wanita ini untuk meninggalkan masjid ketika masa haidnya tiba.

Dalil kedua: Ketika melaksanakan haji, Aisyah mengalami haid. Kemudian, Nabi memerintahkan Sang Humairah untuk melakukan kegiatan apa pun, sebagaimana yang dilakukan jamaah haji, selain tawaf di Kabah. Sisi pengambilan dalil: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hanya melarang Aisyah untuk tawaf di Kabah dan tidak melarang Aisyah untuk masuk masjid. Riwayat ini disebutkan dalam Shahih Bukhari.

Dalil ketiga: Disebutkan dalam Sunan Sa’id bin Manshur, dengan sanad yang sahih, bahwa seorang tabi’in, Atha bin Yasar, berkata, “Saya melihat beberapa sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam duduk di masjid, sementara ada di antara mereka yang junub. Namun, sebelumnya mereka berwudhu.” Sisi pemahaman dalil: Ulama meng-qiyas-kan (qiyas:analogi) bahwa status junub sama dengan status haid, sama-sama hadats besar.

Dalil keempat: Diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berkata kepadanya, “Ambilkan sajadah untukku di masjid!” Aisyah mengatakan, “Saya sedang haid.” Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” (HR Muslim). Sebagian ulama menjadikan hadis ini sebagai dalil tentang bolehnya wanita haid masuk masjid.

Imam Al-Albani pernah ditanya tentang hukum mengikuti kajian di masjid bagi wanita haid. Ia menjawab: “Wanita haid boleh kajian di masjid. Karena haid tidak menghalangi wanita untuk menghadiri majelis ilmu, meskipun di masjid. Masuknya wanita ke dalam masjid di satu waktu, tidak ada dalil yang melarangnya. (Silsilah Huda wa an-Nur, volume:623).

Tunda Mandi Wajib

Allah Ta’ala telah memberikan kenikmatan kepada wanita dengan keberadaan haid. Haid merupakan suatu tanda bagi wanita tentang adanya kemampuan mempunyai keturunan. Oleh karenanya, wajib bagi Muslimah untuk mengetahui hukum berkaitan dengan haid, salah satunya ialah mandi wajib.

Rasulullah Shalallahu Alahi Wasallam bersabda,” Jika telah tiba masa haidmu maka tinggalkan shalat, dan bila selesai masa haidmu maka mandilah kemudian shalatlah.” (HR Bukhari).

Banyak Muslimah yang ketika masa haidnya telah berakhir menunda untuk mandi suci, tanpa ada udzur yang syar’i. Alasan menunda mandi wajib ini biasanya belum mau melaksanakan ibadah shalat dengan alasan bahwa mereka belum mandi suci. Oleh karena itu, wanita harus mengetahui akhir masa haidnya.

Akhir masa haid wanita dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu ketika darah haid telah berhenti. Tandanya jika kapas dimasukkan ke dalam tempat keluarnya darah setelah dikeluarkan tetap dalam kondisi kering, tidak ada darah yang melekat di kapas. Kedua, ketika telah terlihat atau keluar lendir putih agak keruh. Pada saat itu wanita diwajibkan segera mandi dan mengerjakan shalat jika telah masuk waktu shalat.

Amalan Wanita Haid

1. Membaca Alqur’an tanpa menyentuh lembaran mushaf

2. Boleh menyentuh ponsel atau tablet yang ada konten Alqurannya. Bagi wanita haid yang ingin menjaga rutinitas membaca Alqur’an, sementara tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, tablet atau semacamnya.

3. Berdzikir dan berdoa. Ulama berpendapat wanita haid atau junub boleh membaca dzikir seperti memperbanyak tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan dzikir lainnya. (Fatawa Syabakah Islamiyah, No 25881).

4. Belajar ilmu agama, seperti membaca membaca buku-buku Islam. Sekalipun ada kutipan ayat Alqur’an, namun para ulama sepakat tidak dihukumi sebagaimana Alqur’an, sehingga boleh disentuh.

5. Mendengarkan ceramah, bacaan Alqur’an atau semacamnya
6. Bersedekah, infak, atau amal sosial keagamaan lainnya
7. Menyampaikan kajian, sekalipun harus mengutip ayat Alqur’an. Karena dalam kondisi ini, ia sedang berdalil bukan membaca Alqur’an.

Penulis: Indrawati
Dari berbagai sumber

Leave a Reply