Yuk, Kenalkan Alqur’an pada Anak Sejak di Kandungan!

8
Bagikan via

Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya Alqur’an dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)

Dikenal sebagai anak yang aktif, sejak kecil Kaisa selalu diajarkan untuk bisa mengatur waktunya dengan baik. Bahkan saat masih dalam kandungan, Kaisa selalu diperkenalkan dengan Alqur’an melalui bacaan yang selalu disyairkan oleh ibundanya. Ini merupakan kebiasaan yang harus diterapkan oleh ibundanya sebelum anaknya lahir kedunia.

Dengan wajah polos, Kaisa mengatakan bahwa dirinya mengenal Alqur’an sejak masih dalam kandungan. Jawaban yang spontan dari bibirnya membuat orang merasa jawaban itu suatu kemustahilan. Hal ini dibenarkan oleh ayahnya bahwa tidak ada yang mengajarkan Kaisa mengenai hal itu. Ini menunjukkan bahwa kekuatan membaca Al-Qur’an saat mengandung seorang bayi sangat berpengaruh bagi bayi tersebut.

“Survei membuktikan bahwa bayi yang masih dalam kandungan jika sering diperdengarkan Alqur’an maka akan semakin cerdas. Misalnya Kaisa yang memiliki kesibukan membaca dan menghafal Alqur’an di rumah maupun di sekolah,saat masih TK sudah bisa membaca dengan baik,” Ungkap Kamaluddin yang merupakan ayah dari Kaisa.

Mewajibkan anak untuk menghafal Alqur’an bukan berarti merampas hak anak dalam hal bermain. Namun, anak harus lebih dicintakan kepada Alqur’an dibanding lainnya. Seperti cita – cita yang diutarakan oleh Kaisa yang ingin menjadi ustadzah agar orang lain mencintai Alquran.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”

Mengajarkan anak tentang Alqur’an harus dimulai dari orangtua. Maksudnya menjaga diri saat masih remaja sehingga mendapatkan jodoh yang juga dapat menjaga dirinya agar anak yang dilahirkan nantinya bisa sejalan dengan yang diharapkan oleh orang tuanya. Sehingga yang harus dipahami oleh orangtua ialah kekayaan bukan berupa uang, benda atau jabatan. Tapi asset yang sesungguhnya ialah anak. Berikan waktu terbaik untuk menasehati, serta bercanda dengan anak sehingga tidak lupakan batin anak.

Metode penghafalan yang dilakukan oleh Kaisa diciptakan oleh ibundanya yang diberi nama metode Kaisa kinesthetic, sehingga tidak hanya mampu menghafal namun mampu menerjemahkan maksud dari Alqur’an tanpa harus terbebani.

Wajibkan anaknya hafal 30 juz

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia.

Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Menjadikan anak penghafal Al-Qur’an akan menjadi asset bagi orang tuanya. Kaisa yang berumur 6 tahun serta mengidolakan Nabi Muhammad SAW.

Agar Anak Hafal Alqur’an:

1. Paham bahwa Alqur’an mencerdaskan.
2. Tahu bahwa dengan menghafal Alqur’an bukan berarti akan menurunkan nilai akademik anak.
3. Bangunkan anak saat subuh untuk melakukan aktifitas kesehariannya, misalnya sholat shubuh berjamaah, mandi, sarapan, menghafal selama 30 menit sebelum berangkat sekolah.
4. Memberi penghargaan serta memberi motivasi ketika anak sedang malas untuk melakukan hafalan.
5. Memperbaiki kepedulian orangtua seperti berteman dengan siapa, serta tontonannya seperti apa.
6. Orangtua harus menjadi teladan untuk anaknya.
7. Harus ada pola komunikasi antara suami istri dalam mengarahkan anak. Seperti sikap ayah yakni harus memiliki sikap ketegasan mengenai kedisiplinan, tanpa harus menekan aktifitas mereka seperti menonton televisi. Pola komunikasi yang tegas akan melahirkan anak yang hebat.
8. Selalu memutar kaset murottal di rumah agar anak – anak tidak asing dengan Alqur’an.

Penulis: Indrawati

Leave a Reply