Hanzhalah bin Abu ‘Amir, Manusia Idaman Bidadari

15
Bagikan via

Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah bin Abu Amir di perang Uhud. Pada masa jahiliyah, ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuatnya geram dan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan.

Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.

Di tengah kesibukkan berdakwah, Hanzalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat ayahnya. Pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud, ia meminta izin kepada Nabi Shalallahu Alahi Wasallam untuk bermalam bersama istrinya. Nabi pun mengizinkannya.

Disaat sang pengantin asyik terbuai aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya. “Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad !!!”

Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Namun, tak lama kecamuk perang surut. Hanzalah syahid di medan Uhud.

Cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa. Tak hanya itu, hujan pun membasahi sekujur tubuh Hanzalah. Melihat pemandangan tersebut, sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah dan menceritakan peristiwa yang mereka saksikan.

Rasulullah pun meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.Setelah wanita yang dimaksud tiba, Rasulullah bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzalah sebelum kepergiannya ke medan perang?.” Dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!.”

Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir: “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”

Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata: “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

Penulis: Indrawati

Leave a Reply