Kisah Pendakian di Lembah Bawakaraeng

25
Bagikan via

Lembah Ramma, sejak beberapa tahun lalu menjadi alternatif tempat wisata, terutama bagi orang-orang yang senang perjalanan petualangan. Selain keindahannya, perjalanan yang cukup lebih mudah ketimbang mendaki Gunung Bawakaraeng atau Lompobattang, membuat Lembah Ramma bisa dijangkau bahkan oleh mereka bukan pendaki ulung.

Dari Lembanna, perjalanan ke Lembah Ramma dimulai dengan menyusuri perkebunan. Kebun wortel, bawang, kentang, dan markisa adalah sebagian dari jejeran tanaman yang menghampar menghias sisi jalan. Lepas dari kebun, perjalanan memasuki hutan, mulai dari hutan yang pepohonannya jarang dan rendah sebagian, juga terdapat alang-alang hingga hutan rapat yang tanamannya besar.

Mendaki, menurun, melalui bebatuan, akar pohon besar, adalah tantangan yang dilalui menuju Lembah Ramma. Rambu dan petunjuk, memudahkan pengunjung menuju Ramma. Ada beberapa titik seperti pertigaan atau perempatan yang menjadi jalur pendakian ke puncak Bawakaraeng. Namun petunjuk sangat jelas mengarahkan pengunjung, jika akan ke Ramma.

Menantang dan mendapat pemandangan yang memesona, juga menjadi alasan Adan, seorang mahasiswa Universitas Bosowa berkunjung ke Ramma.

“Saya suka mendaki karena suasananya sangat berbeda dengan perkotaan. Dulu waktu masih jadi mahasiswa baru, hampir tiap pekan saya habiskan di Ramma,” ujarnya.

Setelah berjalan kurang lebih enam jam, akhirnya pendakian berakhir di sebuah lembah yang indah. “Awalnya sangat capek berjalan, namun setelah dijalani ternyata tidak sampai membuat kita mati. Cuman capek sebentar, habis itu jalan lagi. Memang hanya butuh kesabaran. Ini adalah pendakian pertama dan rasa capek mengalahkan keindahan Lembah Ramma dan juga Talung,” ujar Dian yang merupakan karyawan Baznaz.

Setelah melalui pendakian, puluhan pendaki akan dimanjakan dengan keberadaan Talung yang memiliki ketinggian sekitar 1700 hingga 1800 mdpl. “Ini menjadi tempat favorit kalau ke Ramma selain untuk beristirahat sejenak. Sejauh mata memandang, alam menyuguhkan kita gugusan pegunungan yang masih hijau.

Sesekali kabut seperti kapas juga menutupi sebagian lereng pegunungan,” kata salah seoarang pendaki Ramma, Firmansyah M Bayan.

Dari Tallung, terhampar pemandangan lembah hijau, pepohonan di lereng gunung, sungai-sungai yang meliuk-liuk, serta kabut.

Firman menambahkan, pesona keindahan itu terbayarkan. “Kalau sudah di sini capeknya jadi hilang, tempat ini juga menjadi magnet bagi saya untuk terus berkunjung ke sini,” tuturnya.

Rute Menuju Ramma

Perjalanan menuju ke Lembah Ramma dimulai dengan menyusuri perkebunan kampung Lembanna Kabupaten Gowa yang terletak sekitar 20 km dari Kota Makassar. Pengunjung bisa sampai di Lembanna menggunakan kendaraan mobil maupun motor, namun disarankan menggunakan kendaraan roda dua karena jalanannya sedikit agak curam.

Warga Lembanna sangat ramah dengan pengunjung. Pintu setiap rumah selalu terbuka bagi siapa saja, dan sekaligus dapat menjadi tempat menginap sebelum melanjutkan perjalanan. Biasanya pengunjung akan memberi sebagian bekal yang dibawa untuk dimasak dan sebagian lagi diambil dari kebun di sekitar rumah. Cukup memberi uang seadanya kepada pemilik rumah.

Jika tak ingin menginap di Lembanna, kawasan wisata Malino dapat menjadi alternatif. Di lokasi ini terdapat banyak penginapan, hotel, dan rumah makan. Harga sewa penginapan bervariasi mulai Rp200.000 hingga jutaan.

Meski dengan jalur terbilang menantang, alternatif wisata alam ini tetap ramai pengunjung utamanya di hari Sabtu hingga Ahad. Bahkan di momen tertentu pengunjung bisa membludak hingga ratusan orang.

Penulis: Indrawati

Leave a Reply