Bolehkah Memandang Lelaki yang Bukan Mahram?

89
Bagikan via

Dalam lingkungan saat ini, sulit rasanya untuk menjaga diri dari berbagai kemaksiatan yang menyelimuti setiap jengkal langkah kita. Walaupun bukan tidak bisa. Di antara usaha untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat adalah dengan menjaga mata kita atau penglihatan kita dari hal-hal yang tidak diperbolehkan.

Lalu bagaimana dengan memandang lelaki bukan mahram bagi Muslimah, apakah boleh? Berikut beberapa tulisan yang diolah dari muslimahzone.com.

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An Nuur: 31).

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan makna ayat ini: “Firman Allah Ta’ala (yang artinya) Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya maksudnya terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah untuk dilihat selain suami-suami mereka.

Oleh karena itu banyak para ulama yang berpendapat bahwa wanita tidak diperbolehkan memandang lelaki yang bukan mahram dengan syahwat, demikian juga jika tanpa syahwat hukum asalnya adalah haram.

Pandangan dengan Syahwat

Jumhur ulama berpendapat bahwa jika seorang wanita memandang lelaki dengan syahwat, maka hukumnya haram. Karena hal tersebut termasuk zina mata. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya” (HR. Al Bukhari).

Ibnu Bathal menjelaskan: “zina mata, yaitu melihat yang tidak berhak dilihat lebih dari pandangan pertama dalam rangka bernikmat-nikmat dan dengan syahwat, demikian juga zina lisan adalah berlezat-lezat dalam perkataan yang tidak halal untuk diucapkan, zina nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan. Semua ini disebut zina karena merupakan hal-hal yang mengantarkan pada zina dengan kemaluan” (Syarh Shahih Al Bukhari, 9/23).

Di antara bentuk memandang dengan syahwat adalah memandang untuk menikmati ketampanan lelaki, atau kegagahannya, atau bahkan lebih dari itu semisal memandang disertai fantasi-fantasi yang tidak dihalalkan agama.

Dari berbagai sumber

Leave a Reply