Uwais al-Qarni, Pengembala Kambing yang Terkenal di Langit

103
Bagikan via

Pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu alahi wasallam, ada seorang pemuda dari Yaman yang telah lama menjadi yatim, tak punya keluarga kecuali ibunya yang tua rentah dan lumpuh. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, pemuda tersebut bekerja sebagai pengembala kambing.

Upah yang diperolehnya pun hanya cukup untuk menopang keseharian bersama sang ibu. Ia adalah sosok yang tak dikenal penduduk bumi, tapi sangat terkenal di langit. Dia adalah Uwais al-Qarni.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika mendengar seruan Nabi Muhammad. Islam telah mengetuk pintu hatinya untuk menyembah Allah Ta’ala. Sebab, peraturan yang terdapat di dalam ajaran Islam sangat menarik hati sosok Uwais yang selalu merindukan datangnya kebenaran.

Ketika terjadi pertempuran Uhud, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mendapatkan cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya.

Kabar ini terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Ini dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Sang Nabi, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti, musim berlalu. Namun kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu dengan Rasulullah tak dapat dipendam lagi. Uwais renung dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?. Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat memerlukankan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin agar diperkenankan menziarahi Nabi Shalallahu alahi wasallam di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, “Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.”

Dengan rasa gembira ia berkemas dan meninggalkan sang ibu bersama dengan tetangganya. Namun, sesampainya di Madinah, Uwais harus menelan pil pahit karena tak bisa berjumpa dengan Rasulullah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi Muhammad dari medan perang.

Namun karena ketaatannya kepada sang ibu yang menginginkan dirinya untuk segera pulang ke Yaman. Pesan ibunya telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu berjumpa Nabi. Dengan terpaksa, Uwais mohon pamit kepada Aisyah untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Ketika Rasulullah pulang dari peperangan, Nabi langsung menanyakan kedatangan seorang yang mencarinya. Nabi Muhammad Shalallahu alahi wasallam menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit).

Penulis: Indrawati

Leave a Reply