Antara Wajib dan Sunnah, Haji Dulu atau Menikah

156
Bagikan via

Dasar hukum dari haji adalah wajib, kecuali ada hal yang menjadikan tidak mampu berangkat baik secara finansial, fisik, waktu, dan lain-lain. Sedangkan dasar hukum dari menikah adalah sunnah, kecuali ada yang menaikkan derajat atau menurunkan derajat hukumnya. Misalnya jika untuk menjaga diri dan sudah tidak tahan, maka menikah menjadi wajib. Berbeda jika niatannya jelek, maka hukumnya haram.

Terkadang hukum agama perlu disesuaikan dengan kondisi sekitar. Khusus kasus di Indonesia, antara biaya menikah dan biaya haji di kota besar, lebih besar biaya menikah. Artinya, bila sanggup untuk menikah di kota besar, hampir tidak mungkin tidak bisa mendaftar haji. Setidaknya mendaftar kuotanya dulu, sehingga hanya tinggal masalah waktu yang menunda keberangkatan.

Bila kasusnya tidak ingin menikah dengan resepsi yang mewah, artinya secara prioritas finansial menikah jadi lebih realistis untuk dilakukan lebih dulu. Namun, kadang pemahaman masalah dasar hukum dan kewajiban sering “kalah” dengan budaya yang ada di sekitar. Menabung banyak untuk mengadakan resepsi yang dikategorikan besar, tapi biaya haji di nomor duakan.

Kembali lagi, yang mana pun didahulukan tidak masalah. Lihat yang lebih realistis dan sanggup didahulukan. Jika menikah lebih memungkinkan, maka menikahlah. Namun jika mendaftar haji lebih memungkinkan, dahulukanlah pelaksanaan ibadah haji.

Adapun yang masih remaja dan belum ada keinginan menikah, maka hendaknya mendahulukan haji, sebab ia tidak mendesak untuk mendahulukan haji atas nikah.” (Fatawa Manarul Islam, 2/375).

Namun bagi remaja yang sudah dewasa dan khawatir menunda pernikahan, maka segeralah melakukan haji. Sebab Allah Ta’ala akan memberikan kebaikan sebagai penggantinya. Karena haji merupakan fardhu dan syariat Islam yang agung.

Perintah Berhaji

Dalam Islam dikenal dengan “hajjatul Islam” yaitu kewajiban haji wajib dilakukan sekali seumur hidup. Setelah itu, jika melaksanakan haji lagi hukumnya sunnah saja. Namun menurut kesepakatan jumhur ulama, haji diwajibkan bagi yang memiliki kemampuan. Berikut perintah wajibnya haji dalam Alqur’an dan As-Sunnah:

1.Dalil Alqur’an

Allah Ta’ala berfirman: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali Imron: 97).

Ayat ini menjelaskan tentang wajibnya haji. Kewajiban ini dikuatkan lagi pada akhir ayat (yang artinya), “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. Di sini, Allah menjadikan lawan dari kewajiban dengan kekufuran. Artinya, meninggalkan haji bukanlah perilaku Muslim, namun perilaku non muslim.

2. Dalil As-Sunnah

Dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah pernah berkhutbah di tengah-tengah kami. Beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji bagi kalian, maka berhajilah.”

Lantas ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun (kami mesti berhaji)?” Beliau lantas diam, sampai orang tadi bertanya hingga tiga kali. Rasulullah lantas bersabda: “Seandainya aku mengatakan ‘iya’, maka tentu haji akan diwajibkan bagi kalian setiap tahun, dan belum tentu kalian sanggup.” (HR Muslim).

3. Dalil Ijma’ (Konsensus Ulama)

Para ulama pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al ma’lum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan kafir.

Antara Wajib dan Sunnah

Melihat perkara haji yang menjadi kewajiban bagi ummat Muslim, membuat beberapa ulama memiliki pendapat tersendiri ketika di hadapkan dengan dua pilihan, apakah melaksanakan haji atau menikah terlebih dahulu.

Menurut Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab Al Mughni, “Jika dia membutuhkan pernikahan dan khawatir dirinya kesulitan (karena belum menikah), maka hendaknya dia mendahulukan pernikahan, karena (ketika itu, pernikahan) wajib baginya dan tidak dapat diabaikan seperti memberi nafkah. Jika ia tidak khawatir, maka hendaknya dia mendahulukan haji, karena (ketika itu) pernikahan adalah sunnah, maka tidak didahulukan dari haji yang wajib.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah dibolehkan menunda haji hingga setelah pernikahan bagi orang yang mampu. Khususnya pada zaman sekarang, para pemuda menghadapi tantangan dan godaan, baik yang kecil maupun besar?”

Beliau menjawab, “Tidak diragukan lagi pernikahan jika sudah ada dorongan syahwat, lebih diutamakan menikah daripada haji. Karena jika seseorang telah memiliki dorongan syahwat yang kuat, maka perkawinannya ketika itu merupakan keharusan dalam kehidupannya. Dia seperti makan dan minum. Karena itu, dibolehkan bagi orang yang membutuhkan pernikahan sedangkan dia tidak punya harta.

Oleh karena itu, jika seseorang membutuhkan pernikahan, hendaknya mendahulukan pernikahan dari haji. Karena Allah Ta’ala mensyaratkan wajibnya haji dengan ‘kemampuan’. Allah Ta’ala berfirman: “Dan karena Allah, diwajibkan bagi manusia menunaikan haji ke Baitullah, bagi yang mampu menempuh perjalanannya.” (QS Ali Imran: 97).

Tidak Dibolehkan Jika:

1.Menikah karena iri melihat teman seangkatan sudah mulai menikah
2.Menikah karena bosan dengan pertanyaan klise kapan mau menikah?
3.Menikah karena menganggap setelah menikah semua masalah akan hilang

Penulis: Indrawati

Leave a Reply