Accera Kalompoang, Ritual Kerajaan Gowa Jadi Daya Tarik Wisata

334
Bagikan via
Pencucian benda-benda pusaka kerajaan gowa/foto internet

Upacara Adat “Accera Kalompoang” merupakan salah satu adat bersifat ritual dan sakral yang sangat diyakini dan dihormati masyarakat Gowa . Dimana pada kegiatan diperuntukkan untuk mencuci benda-benda kerajaan Gowa, yang biasanya rutin dikerjakan setiap tahun, dihari Idul Adha.

Di website ini, saya menuliskan cerita tentang Accera Kalompoang yang datanya diambil dalam buku kecil panduan uapaca adat Accera Kalompoang, buku  berwarna hijau tersebut dibagikan kepada peserta yang menghadiri upacara adat Accera Kalompoang, tanggal 20-21 Januari 2005 silam. Inti kegiatan Upacara Adat Accera Kalompoang,

  1. Allekka Je’ne

Upacara Allekka Je’ne pengertiannya, menjemput, mengambil dan mengantar air bertuah. Kegiatannya pada saat matahari sekitar sitorang bulo (antara jam 07.30-09.00),  pada saat itu dilakukan kegiatan awal, memohon doa kepada Rabbul Jalil dan bersalawat kepada Nabiullah. Seraya meminta restu kepada leluhur.

Selanjutnya rombongan dan  segenap perangkat upacar berangkat meninggalkan istana, diiringi irama gendang tunrung Pa’balle menuju Bungung Lompoa atau sumur bertuah, yang terletak disekitar kompleks makam Sultan Hasanuddin, diantara lokasi masjid Tua Katangka. Melewati batu Tumanurunga atau Batu Pallantikang, yang biasa digunakan sebagai tempat pelantikan raja yang berada di bukit Tamalanrea.

 

Pengambilan air di Bungung Lompoa mempergunakan timba yang bahannya terdiri dari unsur alam yang berifat nabati. Di samping Bungung Lompoa, terdapat tiga buah sumur bertuah yang memiliki fungsi tersendiri, konon kabarnya dalam riwayat penuturan lisan, diceritakan bahwa air bungung lompoa ipergunakan dalam pembersihan dan pencucian (allangiri). Air Bungung Barania dipkai untuk kesaktin dan kekebalan. Air Bungung Bissua dipergunakan untuk pengobatan.

Sebelum rombongan penjemput kembali ke istana Raja Gowa, air diarak mengelilingi tiga kali batu Tumanurunga. Setibanya diistana, sebahagian di tuangkan di wajan untuk bahan Appasssili dan selebihnya di semayamkan diatas Balla Lompoa untuk dipergunakan pada acara Allanggiri Kalompoang.

 

  1. Ammolong Tedong

Upacara Ammolong Tedong merupakan suatu upacara penyembelian hewan kurban, sesuai ajaran Syariat Islam yang bermakna sebagai penngakar da penolak, khususnya bahaya yang berhubungan denngan darah, sebagaimana penuturan yang disepakati secara teguh turun temurun.

Kegiatannya dimulai pada posisi matahari Allabbang Lino (pertengahan bumi), dilakukanlah appassili tedong (kerbau). Kemudian Apparurui Tedong atau perlakuan khusus pada hewan kurban, yang selanjutnya hewan kurban arak oleh rombongan mengitari areal istana dan setelah dimasukkan ke dalam tempat khusus ppenyembelihan. Untuk di potong dan sebagian darah ditadah dan disemayamkan untuk bahan upacara Allangiri Kalompoang, serta kepalanya diperuntukkan pada upacara Appidalleki.

  1. Appidalleki

Upacara Appidalleki pengertian harfiahnya adalah penyembahan sesajen kepada leluhur, yang diantar dengan doa syukur kehadirat Allah Subhan         Wataala. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat posisi matahari kembali diperaduannya, sesudah shalat isya dan takbiran, dimana upacara ini dihadiri kalangan keluarga Raja.

 

  1. Allangiri Kalompoang

Upacara Allangiri Kalompoang yang artinya Annyoso ataupembersihanbenda-benda utama pusaka kerajaan, dan selanjutnya dilanjutkan dengan acara menimbang atau penakaran benda pusaka milik kerajaan.

Upacara ini merupakan acara inti dari segala rangkaian aacara Accera Kalompoang, yang oleh masyarakat Gowa memberikan arti tersendiri atas pelaksanaannya. Annyossoro diartikan untuk meluluhkan segala sifat sifat kejelekan manusia, Allanggiri adalah menanamkan keyakinan akan kesucian, dan Annnimbang adalah pertanda baik buruknya, tingkat kehidupan rakyat dimasa datang dan berhasil tidaknya hasil bumi, ditentukan dari berat ringannya hasil penimbangan benda-benda kerajaan.

Upacara adat “Accera Kalompoang’ bagi masyarakat Gowa sangat dihormati dan dibesarkan sebagai suatu acara bersifat ritual dan sakral yang mengandung makna, mengangungkan kebesaran Allah atas segala limpahan rahmat karunia kepada hamba-hamba-NYA, seraya mengenang dan menghargai leluhurnya yang telah mewariskan peradaban budaya bagi pelanjutnya.

Mempererat ikatan bathin dan emosional pemerintah, dengan masyarakatnya dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Memperkaya khasanah budaya bhineka tunggal ika dalam pengembangan wisata dalam membangun kabupaten Gowa..

Benda-benda kebesaran kerajaan Gowa yang akan dibersihkan (allangiri kalompoang) sebagai berikut :

  1. Pannyanggayya

Pannyanggayya atau barangan (Poke atau tombak) adalah bahannya dari rotan dan berambut ekor kuda. Panjangnya 2,22cm yang dipakai pada acara khusus kerajaan.

  1. Lasippo ;

Lasippo adalah benda kerajaan yang berbentuk parang dan besi tua. Senjata sakti ini dipergunakan oleh raja sebagai, pertanda untuk mendatangi suatu tempat yang akan dikunjungi. Panjangnya 62cm, lebarnya 6 cm.

  1. Tatarapang

Tatarapang (I Daeng Ri Tammacinna) adalah sejenis keris emas, pakai permata dari besi tua sebagai pelengkapnya. Dipaakai dalam upacara kerajaan. Beratnya 986,5 gram, panjangnya 51 cm dan lebarnya 13cm.

  1. Salokoa

Salokoa atau mahkota adalah terbuat dari barang emas murni yang terbuat dari butiran permata berlian dan lain-lain. Ukuran garis tengahnya 30 cm, jumlah permata 250 batang, berat 1.768 gram. Bentuknya menyerupaikerucut bunga teratai yang memiliki lima helai kelopak daun. Merupakan salah satu benda kebesaran Kerajaan Gowa yang digunakan sebagai mahkota bila ada pelantikan raja Gowa pertama ( Tumanurungan abad 14).

 

  1. Sudangan

Sudanga adalah berbentuk kalewang yang merupakan senjata sakti sebagai atribut raja yang berkuasa, dipakai pada pelantikan raja. Panjang 72 cm, lebar 4 cm, daun 9 cm. Benda ini dibawa oleh Karaeng bayo, suami Tumanurunga, saudara dan Lakipadada.

 

  1. Ponto Janga-Jangaya

Ponto janga-jangaya adalah terbuat dari emas murni dengan berat 985,5 gram. Bentukanya seperti naga yang melingkar sebanyak 4 buah. Dinamai mallimpuang berkepala naga 1 dan tunipattuang yang berkepala naga 2. Benda ini merupakan benda gaukang (kebesaran Raja) yang dipakai pada pergelangan tangan. Benda ini berasal dari Tumanurunga.

  1. Kolara

Kolara adalah rante kalompoang. Bahannya dari emas murni. Rantai ini merupakan atribut raja yang berkuasa. Ada 4 macam, ada yang panjang 51 cm, 55 cm 2 macam, 49 cm. Dengan berat keseluruhan 2.182 gram.

 

  1. Bangkarak Ta’roe

     Bangkarak Ta’roe atau subang merupakan perhiasan yang terbuat dari emas murni dan bentuknya  seperti anting-anting. Benda ini berjumlah empat pasang, yang merupakan perlengkapan wanita dari pihak raja, jika ada kegiatan upacara. Panjang 62 cm, lebar 5 cm dan berat 287 gr. Benda ini berasal dari Tumanurunga.

  1. Kancing Gaukang

Kancing gaukang (kancing buleang) adalah sejenis murni. Ada empat bua, alat ini merupakan perlengkapan kerajaan. Beratnya 277 gram. Garis tengah 11,5 cm, pusaka dari Tumanurunga.

  1. Tobo Kaluku

Tobo kaluku atau (rante manila) adalah sejenis emas sebagai perlengkapan  dalam upacara, khusus kerajaan. Beratnya 270 gram, panjang 212 cm. Benda ini pemberian dari kerajaan Sulu (philiphina selatan sekitar abad XVI).

  1. Mata Tombak

Mata tombak ini terdiri dari tiga jenis diantaranya, Tama’dakkaya adalah sejenis mata tombak yang dapat dipergunakan sebagai senjata sakti pada masa kerajaan Gowa. Panjangnya 49 cm dan lebar 3 cm. I jinga’ adalah jenis mata tombak dari besi hitam, berfungsi sebagai senjata sakti pada masa kerajaan Gowa. Panjangnya 45 cm dan lebarnya 3 cm. I’Bule adalah adak sumpit dari besi hitam berfungsi sebagai senjata sakti pada masa kerajaan Gowa. Panjangnya 31 cm dan lebanya 1,3 cm, senjata ini berasal dari Karaeng Loe di Bajeng.

  1. Kancing Gaukang ;

Kancing Gaukang (Kancing Bulaeng) adalah sejenis emas murni. Ada empat buah, alat ini merupakan perlengkapan kerajaan. Beratnya 277 gram.Garis tengah 11,5 cm. Pusaka dari Tumanurunga.

  1. Berang Manurung

Berang Manurung adalah sejenis senjata kalewang/parang panjang. Parang ini disebut Parang Manurung, karena kedatangannya secara gaib dibilik penyimpangan benda-benda pusaka.

  1. Penning Emas

Penning Emas adalah terbuat dari emas murni, yang merupakan pemberian dari kerajaan Inggris sebagai tanda persahabatan dengan kerajaan Gowa pada tahun 1814. Bentuk bulat berat 401 gram, panjang 18 cm dan lebar 13 cm.

  1. Medali Emas

Medali Emas adalah terbuat dari emas murni, bentuknya bulat. Berat 110 gram, Rantai 110 cm garis tengah, ,5 cm. Medali ini pemberian dari kerajaan Belanda sebagai tanda persahabatan.

 

Andi Amriani

sumber : dinas pariwisata kabupaten Gowa

Leave a Reply