Khadijah, Istri Penentram Hati Sang Rasul

93
Bagikan via

Siti Khadijah binti Khuwaylid adalah seorang janda kaya di Makkah. Ia dikenal sebagai wanita Quraisy yang mulia karena keturunan dan akhlaknya. Ia adalah wanita budiman, gemar membantu sesama, dan senantiasa menjaga kehormatan dirinya, sehingga mendapat gelar At-Thahirah (wanita suci).

Saat berusia 25 tahun, Abu Thalib mengajukan tawaran pekerjaan kepada keponakannya, Nabi Muhammad seraya berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya kita bukanlah keluarga yang berkecukupan. Bahkan, akhir-akhir ini kebutuhan semakin sulit didapatkan. Alangkah baiknya jika engkau pergi kepada Khadijah untuk meminta izin membawa barang dagangannya ke negeri Syam. Semoga dari usaha itu engkau akan peroleh keuntungan besar.”

Menanggapi permohonan Nabi Muhammad, Siti Khadijah langsung menyambutnya dengan senang hati karena ia telah lama mengenal Sang Nabi sebagai pemuda yang ramah, jujur, dan sopan. Terlebih lagi ketika Maisarah menceritakan bagaimana agungnya perangai Nabi Muhammad. Maka berubahlah rasa kagum itu menjadi rasa cinta.

Hubungan perdagangan antara Nabi Muhammad dengan Siti Khadijah akhirnya diteruskan ke jenjang pernikahan. Rupanya banyak hikmah dibalik kejadian tersebut. Dalam upacara yang sederhana, berlangsunglah akad nikah di antara keduanya. Pernikahan yang telah menorehkan lembaran sejarah Islam. Ketika itu, Nabi Muhammad baru berusia 25 tahun, sementara Siti Khadijah telah berusia hampir 40 tahun.

Meskipun kaya raya, Siti Khadijah tidak pernah menampakkan keangkuhan di hadapan suaminya, bahkan ia amat merendahkan hatinya. Itulah mengapa selama hidup bersama Siti Khadijah, Nabi Muhammad merasa bahagia dan tentram.

Suatu ketika saat Nabi sedang berdiam di Gua Hira, tiba-tiba malaikat Jibril melingkupinya seraya berkata: “Bacalah!” Nabi Muhammad menjawab sambil bergetar: “Aku tidak bisa membaca.” Jibril berkata lagi: “Bacalah!” Kembali Nabi Muhammad menjawab: “Aku tidak bisa membaca.” Untuk ketiga kalinya, Jibril berkata lagi: “Bacalah!” Dan lagi-lagi Nabi Muhammad menjawab : “Aku tidak bisa membaca.”

Seperti yang disebutkan dalam Alqur’an, Jibril kemudian berkata:” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan perantaran kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq:1-5).

Setelah itu Jibril menghilang. Nabi Muhammad merasa ketakutan dan segera meninggalkan gua. Sampai di rumah, Ia berkata kepada istrinya : “Selimuti aku, selimuti aku, selimuti aku.” Melihat keadaan suaminya, Khadijah segera menidurkan dan menyelimuti Sang Nabi seraya menenangkan hatinya.

Setelah istirahat, Nabi Muhammad menceritakan kejadian yang dia alami kepada istrinya. Siti Khadijah kemudian berkata: “Wahai Muhammad, tenangkanlah hatimu. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakanmu, sebab engkau adalah orang yang suka menolong, jujur, dan senantiasa menyambung tali persaudaraan.”

Waraqah bin Naufal seorang ahli kitab yang juga mendengar kisah Nabi Muhammad berkata: “Sesungguhnya suamimu (Khadijah) ini adalah calon Nabi dan Rasul Allah. Telah datang kepadanya malaikat Jibril yang juga pernah datang kepada Musa dan Isa.”

Penulis: Indrawati

Leave a Reply