Ibu Agung Tak Sadarkan Diri, Ayahnya Berusaha Tegar

261
Bagikan via
Suasana rumah duka Anthonius Gunawan Agung, Operator ATC, Minggu (30/9/2018) malam

Selamat Jalan Anthonius

MAKASSAR—Suara isak tangis terdengar nyaring dari ruang tengah rumah Anthonius Gunawan Agung. Nampak, lelaki dan beberapa perempuan dewasa, wanita tua duduk di dekat Peti yang didalamnya terbaring seorang pahlawan penyelamat pesawat Batik Air.

Ada empat buah lilin besar berwarna putih memancarkan cahaya terang di ruang berukuran 3×6 centimeter tersebut. Beberapa pelayat berpakaian serba hitam berdiri di samping peti jenazah. Beberapa pot yang berisi bunga warna-warni juga terpajang di samping lilin.

Dihalaman rumah, puluhan teman-teman almarhum pun memadati kursi yang telah disediakan. Mereka berkumpul untuk menyampaikan duka cita kepada keluarga Agung, sapaan akrab Anthonius.

Sejak mengetahui anaknya tewas akibat gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala-Palu, Ibu kandung lelaki berusia 22 tahun ini lemas tak berdaya. Matanya bengkak, air mata bahkan terlihat sudah tidak mengalir lagi. Ia hanya bisa mendengar kerabat yang datang menghampiriny,  tetapi tidak mampu bercerita banyak. Kepergian anaknya sungguh membuatnya terpukul.

Disisi lain, ayah Agung  Johanes Tola juga terlihat sedih tapi masih lebih tegar dari istrinya. Raut wajahnya nampak jelas kalau ia memendam kesedihan atas kepergian putranya.

“Agung itu anak yang pendiam, sopan dia tidak banyak tingkah yang paling saya sesalkan karena terakhir saya bertemu dengan dia satu tahun yang lalu,” katanya saat ditemui timurindonesia, di rumahnya Minggu (30/9/2018).

Keluarga, sahabat, dan kerabat Agung datang melayat, Minggu (30/09/2018) malam/ dok. gusti

Johanes dan Agung jarang bertemu, dan hari itu ia menyaksikan anaknya sudah tidak bisa menyapanya. Menurut hitungannya, setelah dia lepas pendidikan langsung dikontrak beberapa bulan dan penempatan kerjanya di Palu.

Sejak tinggal di Palu, baru sekali melihat anaknya sekitar setahun yang lalu. Itupun tidak lama karena anaknya sangat disiplin dalam hal pekerjaan. Johanes meneteskan air mata, tangan kanannya berusaha menghapus lalu melanjutkan ceritanya.

“Saat saya mendengar terjadi  gempa di Palu, saya teringat Agung. Tidak lama setelah itu ada kabar bahwa anak saya masuk salah satu daftar korban gempa,” katanya dengan nada sedih.

Sambil menarik nafas, ia mengatakan terakhir komunikasi dengan anaknya via telephone beberapa waktu lalu. Itu pun cuma lewat Ibunya karena dia lebih dekat dengan Ibunya, ketimbang sama saya,” Katanya.

Teman Anthonius foto didepan peti jenazah, Minggu (30/09/2018)/dok.gusti

Terpisah, sepupu Anthonius, Anastasia yang baru tiba dari Jayapura menambahkan, sudah lama tidak melihat adik sepupunya yang pendiam itu. Seingatnya dua tahun yang lalu sempat ketemu, setelah itu tidak lagi. Hari ini ketemu tapi dalam bentuk lain.

Dari cerita Aanstasia itupula, diketahui bahwa rumah yang di Makassar ditinggali omanya. Kedua orang tua Agung menetap di Jayapura karena bekerja sebagi guru. “ Om dan tante lebih banyak menghabiskan waktunya di Jayapura daripada disini,” katanya.

Pihak keluarga dan kerabat Agung sudah melakukan pelepasan jenazah di gereja setempat pukul 10.30, dan telah dikebumikan di Pekuburan Pannara, Panaikang, Makassar, Senin (1/10/2018) siang.

 

 

Laporan : Gusti

Editor     : Andi Amriani

 

 

Leave a Reply