Kisah Sukses Petani Kakao Berkat Bantuan PT Mars

192
Bagikan via
Kusnadi, petani kakao yang berhasil tingkatkan omzet asal Luwu Raya/foto oshin

Laporan : Nur Suhra Wardyah

Namanya Kusnadi, ia menetap di Luwu Raya. Sehari-harinya bekerja keras untuk membiayai keluarganya dengan bertani kakao. Pekerjaan yang tidak mudah dan juga tidak begitu sulit jika digeluti dengan serius dan dikerjakan dengan penuh kesabaran.

Kakao merupakan komoditi yang nilainya sangat tinggi jika di ekspor ke beberapa negara. Namun, untuk menjadi komoditi yang mahal dan memberikan keuntungan besar pada petani, tentu saja dengan hasil yang baik dan layak diterima di pasaran.

Nah, untuk mendapatkan hasil yang baik inilah pastinya membutuhkan pemahaman dan kerja keras petani. Petani yang notabene hanya tahu menanam dan hanya sekadar merawat, tentu membutuhkan pembinaan dari berbagai pihak. Seperti itulah yang dialami oleh pria berusia 36 tahun itu.

Ia mengisahkan, sebelum bertemu dengan PT Mars Symbioscience Indonesia, lelaki yang memiliki lahan sebanyak 0,7 hektar ini hanya mampu memeproleh hasil kerja kerasnya selama setahun sebesar 500 kg. Jumlah tersebut tentu saja tergolong sangat sedikit jika dibanding dengan usaha dan luas lahan yang dimilikinya.

Namun, setelah tiga tahun dibina oleh perusahaan yang bergerak di bidang industri kakao khususnya Sulawesi-Selatan, ayah dari dua orang anak inipun mampu meningkatkan produksi kakaonya menjadi 1,5 ton. Jumlah tersebut sudah dirasakannya selama tiga tahun terakhir ini.

Sejumlah wartawan dari berbagai media berkunjung ke kebun kakao milik petani Kusnadi di Luwu Raya/dok.oshin

Saat ditemui sejumlah awak media dari berbagai daerah, Kusnadi yang saat itu berada di kebunnya, Desa Bulo Landong, Kecamatan Lamasi Timur, Rabu (26/9/2018)  terlihat sangat bahagia menceritakan kisahnya. Ia mengaku manfaat yang diberikan PT Mars sangat besar kepada petani.

Selain bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga duduk di bangku kuliah, omzet yang didapatkan Kusnadi dari hasil komoditi tersebut juga menjadi daya tarik bagi petani di kampungnya. “Banyak yang belajar dari saya, jadi tetangga saya yang dari petani kayu menjadi petani kakao,” ungkap datar.

Diceritakan oleh Kusnadi, bentuk pembinaan yang diberikan PT Mars, pendampingan dilaksanakan dua kali sepekan selama tiga bulan, yang selanjutnya ada follow up berupa bimbingan tekhnis langsung di lapangan oleh Cacao Doctor yang telah dibentuk PT Mars dalam memaksimalkan pembinaan.

“Jadi kami diajari sistem pemupukan, pemengkasan, dan yang paling penting ialah belajar kalender kakao musiman, sehingga kami bisa sesuaikan waktu perawatan yang tepat buat kebun kami,” jelasnya.

Ternyata, sebelum PT Mars, ia dan petani lainnya telah dibina pemerintah, hanya saja efektivitasnya tidak begitu tinggi.

“Sebelum PT Mars membina, kami pernah ikut sekolah lapang namanya. Hanya sekali sebulan selama tiga bulan. Ini tidak begitu berpengaruh,” tandasnya.

Pria yang telah bertani sejak 1993 ini pun telah melakukan peremajaan atau tanam kembali sejak tahun 2013 dengan klon yang diterapkan ialah BR 25 (S2) dan M45 (MCC02).

Hasilnya juga kebanyakan dijual basah kepada PT Mars dengan pertimbangan efisiensi biaya dan tenaga yang tidak begitu besar, ditambah keamanan yang lebih bisa dijamin dengan menjual cepat.

Diketahui, harga kakao saat ini dalam timbangan basah hanya dihargai RP10.252 perkilo, sementara timbangan kering senilai Rp31.800 perkilo. Harga ini bersifat fluktuatif yang mengacu pada kurs dollar.

 

 

Editor : Andi Amriani

Leave a Reply