Rutin Ungkapkan Cinta, Ciptakan Suasana Romantis

32
Bagikan via
Ilustrasi pasangan suami istri yang bahagia/foto by gualiva.com

Biasanya dalam hubungan suami istri, ungkapan rasa cinta menjadi berkurang seiring usia pernikahan. Padahal ungkapan rasa cinta selalu dianjurkan kepada istri ataupun suami.  Agar keromatisan dalam keluarga senantiasa terjaga.

Uztads Salim A fillah mengungkapkan, menciptakan keromantisan merupakan salah satu hal untuk mencapai rumah tangga yang sakinah.  Salah satunya adalah senantiasa memuji pasangan.

Salim juga mengatakan, banyak yang berpikir bahwa seorang suaai tidak perlu mengungkapkan cintanya karena yang lebih penting adalah buktinya. Namun menurutnya, hal tersebut merupakan pemikiran yang salah karena Kepada Allah saja, kita perlu mengungkapkan rasa cinta kita kepada-Nya.

Di hadapan ribuan peserta, ia menegaskan, cinta itu bukan hanya bersifat kebatinan. Perlu diungkapkan dengan bahasa verbal. “Jangan hanya ketika belum menikah atau hanya pada saat pengantin baru bermesraan. Justru semakin lama usia pernikahan maka ungkapan cinta diperlukan,” ujanya saat menjadi pembicara pada tabligh akbar di Makassar.

Selain ungkapan cinta, Uztads kelahiran Yogyakarta ini juga mengungkapkan, dalam sebuah hubungan sumi istri, perlu menjaga kesucian diri.  Menurutnya, rumah tangga yang sakinah bukan berarti tidak pernah cekcok, tidak pernah bertengkar, ataupun tidak pernah bersuara tinggi.

“Dengan adanya istri maka suami terjaga dari perkara-perkara yang dilarang oleh Allah. Dengan adanya suami maka istri terhindar dari perbuatan keji, katanya Setelah menjaga kusucian di antara sumi dan istri, perlu menjaga terbangunnya ikatan. Yakni ikatan lahir dan batin. Dalam hal ini , tidak dengan yang lain tapi satu-satunya adalah dengan yang diikat halal. Dalam hal ini Istri atau suami.

“Tergoda bisa dimana saja. Makanya Rasulullah bersabda, jika di antara kalian bertemu dengan wanita yang jadikan syetan lalu tertarik dengan wanita itu maka pulanglah temui istri kalian karena pada istri kalian terdapat pahala. Meskipun pada istrimu tidak terdapat apa yang dimiliki wanita itu, hanya istrimu lebih suci,” tuturnya.

 Saling Memberi Semangat

ilustrasi pasangan saling memberi semangat/foto by infodunia

Dalam rumah tangga, seorang istri atau suami perlu memberikan dorongan atau semangat kepada pasangannya. Karena dengan adanya dorongan tersebut maka tercipta cinta yang bergelora.

Menurut Ustadz Salim, cinta yang berkobar-kobar menyalakan semangat. Dalam cinta yang yang kobar-kobar akan tercipta cinta yang disebut mawaddah.

Pengasuh program kajian pranikah ini juga menuturkan, ada banyak rumah tangga yang bermasalah justru bukan karena kurangnya cinta. Ada yang merasa sangat mencintai istrinya tetapi istrinya mengadu ke lembaga konseling. Ada istri yang merasa sangat mencintai suminya tetapi suminya mengadu ke lembaga konseling, dalam hal ini suami merasa ditindas.

Hal tersebut terjadi, menurut Ustadz Salimbukan karena kurangnya cinta.Bahkan masalah itu terjadi bukan karena bermaksud buruk tetapi justru karena bermaksud baik hanya kurang ilmu. Dalam hal ini kurangnya ilmu mengespresikan cinta.

“Dari kecil kita didoktrin, cintailah orang lain bila engkau ingin dicintai. Cintailah oranglain sebagimana engkau ingin dicintai,” jelasnya.

Saling Memahami

ilustrasi foto saling memahami/foto by beauty journal

Lelaki dan perempuan berbeda. Dalam hal ini beda anatoli di tubuhnya. Selain itu, beda metabolismenya, beda hormon yang bekerja padanya, beda pula fisioligisnya, dan beda psikologisnya. Maka bedapula cara mencintainya.

Karena perbedaan tersebut, menurut Uztads Salim, maka cara mencintai laki-laki berbeda dengan cara mencintai perempuan. Kalau istri mencintai suaminya seperti cara mencintai perempuan maka suaminya menderita. Sebaliknya, jikasuami mencintai istrinya seperti mencintai laki-laki mka istrinya menderita.

“Karena itu beda laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki dan perempuan ada belahan otak kanan dan otak kiri. Tapi jaingan yang menghubungkan keduanya, jumlahnya pada perempuan lebih banyak daripada lelaki,” tukas suami dari Dwi Indah Ratnawati ini.

Lebih jauh, ia menjelaskan koorsinasi otak kiri daripada otak kanan perempuan lebih bagus dari pada laki-laki. Salah satu contohnya, wanita multitasking.

Oleh karena itu, laki-laki lebih fokus. Maka laki-laki baru bisa mengerjakan sebuah pekerjaan jika urusan yang satunya selesai. Tetapi perempuan, bisa menyelesaikan beberapa urusan dalam waktu yang besamaan.

“Perempuan bisa masak nasi sambil masak sayur lodeh, sambil kasi makan anaknya, sambil menonton televisi, sambil update status, sambil terima telepon. Yang repot kalau istrinya mengira suaminya bisa multitasking seperti dirinya,” ungkapnya.

Begitupun ketika istri menghadapi masalah. Penangannya berbeda dengan perempuan. Ada istri mencurahkan segala isi hatinya kepada pasangannya, dapat solusi atau tidak, tak mengapa. Namun ketika suami mencurahkan isi hatinya itu lebih menginginkan ada penyelesaian.

Makanya, lanjut Uztads Salim, ketika ada suami yang pulang kerja dengan tampak ada masalah kemudian istri bertanya, kebanyakan suami menjawab takada masalah. Itu maksudnya agar ia tidak menambah beban istrinya dengan menceritakan masalah pekerjaannya.

Menurutnya, suami bermaksud baik karena itu masalah kantor. Istri sudah punya banyak masalah di rumah. Ia tidak perlu ikut pusing dengan menceritaksn beban suminya dari kantor. Karena istri sudah punya beban urus rumah anak.

Tapi yang jadi masalah, biasanya istri merasa tidak percaya. Seorang istri mau menyamakan dengan dirinya. Ketika istri curhat yang dia perlukan adalah suami yang mampu mendengar. Dengarkan, simak, ada kontak tubuh yang mendukung. Mengerti kita di posisinya. Berempati kepadanya.

“Insyaaalah istri yang merasa dimengeri, bisa mengerjakan 7 kali lipat pekerjaan laki-laki. Jadilah suami yang pandai mendengarkan curhat istrinya,” tukas suami dari Dwi Indah Ratnawati ini.

Istri Lebih Cerewet

 

Penulis buku ‘Bahagianya Merayakan Cinta’ ini juga menagaskan, perempuan lebih cerewet daripada laki-laki. Sehingga setiap hari laki-laki mencapai hanya tiga sampai lima ribu kata. Sedangkan perempuan bisa mencapai 40 hingga 80rb kata.

“Itu artinya wanita lebih cerdas secara linguistik. Bahasa sehari-harinya wanita lebih cerewet,” tukasnya.

Namun, ia menganggap wanita cerewet adalah hal yang baik. Menurutnya, istri tidak cerewet, maka anaknya berpotensi tidak cerdas. Karena kecerdasan seorang anak, ditentukan salah satu faktornya adalah kecerewatan ibunya.

“Maka cerewetlah para istri. Cerewet yang salehah,” tambahnya.

 

Yang harus dilakukan

  1. Jaga kesucian diri.
  2. Bangun ikatan lahir dan batin.
  3. Rasakan ketentraman bersama dia.
  4. Ciptakan keromantisan.
  5. Saling memahami
  6. Saling mensupport

 

 

editor   : Andi Amriani

 

 

 

Leave a Reply