Bayi dan Balita Rentan Alami Meningitis, Yuk Kenali Gejalanya

96
Bagikan via
Bayi sehat/foto by youtube

Bayi dan balita paling rentan mengalami meningitis, tercatat lebih dari 50% kasus meningitis terjadi pada anak usia 0-3 tahun.

American Academy of Pediatrics menjelaskan, bayi yang berusia kurang dari dua bulan sangat berisiko mengalami penyakit ini.

Gejala meningitis pada bayi awalnya memang tidak terlihat mengkhawatirkan. Beberapa bayi mungkin hanya terlihat mengalami lelah dan lebih rewel. Namun setelah itu, meningitis bisa berkembang menjadi serius dengan cepat. Berbagai gejala kemudian akan bermunculan.

Seperti Ini Gejalanya

  • Bagian kepala membengkak, akibat fontanel (titik lunak yang berada di atas kepala) yang menonjol.
  • Tangan dan kaki dingin, namun suhu tubuh hangat.
  • Bayi menggigil padahal tidak terlalu dingin.
  • Leher bayi menjadi lebih kaku.
  • Rewel dan menangis terutama saat digendong.
  • Muntah terus menerus.
  • Menolak saat diberi makan.
  • Sangat mengantuk, hingga bayi sulit dibangunkan.
  • Ruam merah atau berwarna gelap pada tubuh bayi.
  • Teriakan tangisan bernada tinggi.
  • Jaundice (kulit berwarna kekuningan).
  • Hisapan dari mulut bayi yang melemah.

Atas dasar itulah orang tua harus memperhatikan kondisi anaknya. Jika bayi demam  dan mengalami ruam, segera cari perawatan medis. Jika dokter Anda mencurigai bayi Anda terkena meningitis, maka dokter akan melakukan  CT scan, pemeriksaan darah, tes urin, dan pungsi lumbal untuk mendeteksi keberadaan bakteri di cairan otak bayi.

Penyakit ini harus ditangani segera, jika tidak akan menyebabkan masalah kesehatan lainnya pada bayi, seperti tuli, buta, perkembangan yang terlambat, tidak dapat berbicara, masalah pada otot bayi, kejang, dan bahkan meninggal.

Penyebab meningitis

Penyebab yang paling sering terjadi adalah karena bakteri dan virus. Bakteri meningitis biasanya lebih berbahaya dibandingkan dengan virus meningitis, tapi keduanya tetap membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin.

Virus yang bisa menimbulkan meningitis

  • Non-polio enteroviruses. Virus ini paling sering menyebar melalui kontak dengan kotoran, ludah, atau ingus dari hidung.
  • Virus influenza. Virus menyebar melalui batuk, bersin, dan kontak dengan orang yang sedang terinfeksi influenza.
  • Virus herpes simplex (HSV). Seseorang dapat menyebarkan HSV ke bayi melalui ciuman, bahkan ketika orang yang terinfeksi belum memiliki gejala apapun. Bayi baru lahir juga bisa mendapatkan virus dari ibunya saat proses kelahirannya.
  • Virus varicella-zoster. Virus ini sangat menular dan menyebabkan cacar dan ruam. Virus ini seringnya menyebar melalui pernapasan, berbicara, atau adanya kontak dengan luka seseorang yang terinfeksi virus ini.
  • Campak dan gondong. Virus dari penyakit ini sangat menular dan bisa menyebar sewaktu berbicara, batuk, bersin.

Bakteri penyebab meningitis pada bayi

  • Streptococcus grup B. Ini ditularkan dari ibu ke bayi yang baru lahir.
  • Escherichia coli. Bakteri ini juga menyebar dari ibu ke bayi selama persalinan jika ibunya terkontaminasi bakteri ini dari makanan.
  • Streptococcus pneumoniae dan Hemophilus influenzae tipe b. Bakteri ini umumnya menyebar melalui batuk dan bersin.
  • Listeria monocytogenesis menyebar melalui makanan yang terkontaminasi. Janin dapat terinfeksi ini selama ibu mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri ini.
  • Neisseria meningitidis. Bakteri ini bisa menyebar melalui air liur orang dewasa ke bayi.

Memang tidak 100 persen pencegahan dapat dilakukan. Namun setidaknya yang paling penting adalah jangan pernah melewatkan pemberian vaksin untuk bayi Anda. Vaksin polio, campak , gondong, varicella (cacar air ), influenza, dan semua vaksin bayi lainnya sangat berguna untuk melindungi diri bayi dari serangan virus.

Selain melakukan vaksin lengkap, penting juga untuk selalu menjaga kebersihan bayi supaya mencegah penyebaran virus. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama setelah menggunakan toilet, mengganti popok, dan sebelum menyiapkan makanan dan minuman, dan pastikan anak selalu mencuci tangan
  • Hindari berbagi minuman, makanan, alat makan, sikat gigi dengan bayi.
  • Bersihkan permukaan mainan anak dan barang lainnya dengan desinfektan.

Bagi bayi yang baru lahir hingga usia dua bulan proteksi ekstra harus diberikan, seperti:

  • Jauhkan bayi dengan orang yang sedang sakit  atau yang sedang batuk, bersin, atau tidak enak badan.
  • Jauhkan bayi dari kerumunan yang sangat banyak orang
  • Cuci tangan sebelum menyiapkan segala peralatan bayi
  • Mintalah orang lain untuk mencuci tangan mereka sebelum memegang bayi dan untuk menghindari menyentuh wajah bayi.
  • Jaga bayi dari gigitan nyamuk terutama biasanya dari senja menuju ke waktu fajar. Jika bayi berada di luar, gunakan pakaian lengan panjang dan juga celananya, gunakan juga obat anti nyamuk yang paling aman untuk bayi.
  • Jangan biarkan bayi terkena asap rokok.

 

Editor     : Andi Amriani

Sumber   : hello sehat

 

Leave a Reply