Bella’Pitunrupa, Tradisi Menyambut 10 Muharram

87
Bagikan via

Sudah menjadi tradisi masyarakat di Makassar dalam  menyambut 10 muharram , masyarakat membuat bubur tujuh macam yang diistilahkan bella pitunrupa (Bubur Syura).

Bubur tersebut diantaranya, bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu. Untukbubur santan  dihias beragam buah-buahan dan lauk pauk. Hiasan tersebut sengaja diberikan beragam warna sehingga kelihatan indah.

Membuat bubur pitun rupa merupakan tradisi turun temurun yang hingga saat ini masih terus dibudayakan oleh masyarakat Bugis-Makassar. Tradisi tersebut dipercaya sebagai ucapan rasa syukur terhadap kemenangan nabi Muhammad dalam menyebarkan ajaran islam.

Menyambut datangnya 10 Muharram biasanya sudah dipersiapkan sejak tiga hari. Beras yang akan dibuat bubur sudah dibersihkan dan sehari sebelumnya sudah dicuci.Bahan-bahan membuat bubur Syurah  juga dipersiapkan sehari sebelum datangnya 10 Muharram.

“saya sudah 30 tahun menyambut 10 Muharram dengan tradisi membuat bubur syurah. Biasanya saya membuat bubur dengan jumlah yang banyak 81 piring tetapi kali ini saya hanya membuatnya 41 piring saja,” ujar Dg. Sunggu salah seorang warga Rappocini yang setiap tahunnya disibukkan dengan membuat bubur Syurah saat 10 Muharram tiba.

Ibu yang berusia 65 tahun ini, terlihat tengah sibuk menata bubur bur di ruang tamu rumahnya. Bubur yang berjumlah 41 piring tersebut disusun selang seling antara bubur merah, bubur putih dan bubur ketan hitam.

Selain bubur terdapat pula tiga sisir pisang raja. Setelah menyusun bubur diatas karpet, ibu dari sembilan orang anak inipun mengisi empat gelas air putih sambil menunggu imam mesjid untuk berdoa untuk keselamatan.

Dg. Sungguh yang siang kemarin menggunakan sarung sutra kuning, baju coklat dipadukan dengan kerudung putih mulai membakar dua batang lilin putih, kemudian mempersilahkan imam yang dipanggilnya guru, untuk membaca doa. Hanya berselang lima menit, H. Sikki pun mulai berdoa.

Menurut Dg. Sunggu, kebiasaan dari nenek moyangnya ini sudah berjalan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan sebagai generasi penerus, sangatlah tidak wajar dan merasa tidak nyaman jika tradisi tersebut tidak dilanjutkannya. Atas dasar itulah pihaknya sengaja menyisihkan uangnya untuk membeli bahan membuat bubur syurah.

Sambil mengenang cerita dari kedua orang tuanya yang kala itu dirinya masih remaja,biasanya  kedua orang tua Dg. Sungguh membuatbubur tujuh macam dengan jumlah seratus piring. Bubur yang sudah dibaca itu kemudian dibagikan ke seluruh sanak keluarga dan para tetangga, dengan harapan berbagi kebaikan dengan yang lain. Bukan hanya keselamatan bagi dirinya sendiri tetapi juga mendoakan keselamatan keluarga dan para tetangga.

Dg. Sungguh juga mengaku kerap kali mendengar cerita dari neneknya bahwa tujuan merayakan 10 Muharram dengan membuat bubursyurah ini, sebagai bentuk tolak bala, agar seluruh keluarga dijauhkan dari marabahaya.

“Mungkin karena mengingat pesan dari orang tua, sampai saya kadang merasa takut jika tidak membuat seperti ini,” katanya kemarin di rumahnya Jl Rappocini Raya. Selain membuat bubur, Dg. Sungguh juga mengakui dihari 10 Muharram ini merupakan hari baik jika membeli peralatan rumah tangga atau pakaian dalam. Alasannya hampir sama, dianggap sebagai hari kemenangan.

Penulis : Andi Amriani

Leave a Reply