Mahasiswa Aceh Terpesona dengan Indahnya Budaya ‘Tabe’

13
Bagikan via
Mahasiswa Aceh/dok

Tabe atau permisi dalam bahasa Indonesia, merupakan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita di suku bugis Makassar.

Kata itulah yang tertanam dari lahir hingga tua di hati masyarakat Bugis Makassar, dari anak, remaja hingga mereka tua agar bersikap sopan dan santun terhadap siapa saja yang mereka jumpai.

Setiap daerah tentu memiliki budaya yang berbeda dengan daerah lain, yang lahir dari leluluhur dan di lestarikan oleh anak cucu.

Seperti halnya Tabe’ yang merupakan sikap permisi untuk mendahului jalan orang lain, atau ketika hendak lewat didepan orang baik yang lebih tua ataupun anak muda.

Biasanya mengucapkan kata Tabe’ selalu diikuti dengan gerakan, tubuh sedikit membungkuk, tangan kanan lurus ke bawah dan kepala menunduk.

Makna dari gerakan ketika mengucapkan kata Tabe’ tentu saja tidak boleh sombong, harus menghargai dan menghormati orang yang berada di hadapan kita.

Tidak heran, jika prilaku tabe’ membuat sebagian orang yang datang ke bugis atau makassar terpesona, dan menghadirkan sedikit rasa penasaran. Seakan mereka ingin tahu lebih dalam makna dari Tabe’.

Sesungguhnya Tabe’, ya kita harud berbuat sesuai dengan kenyataan yang ada. Sehingga kata Tabe dan gerakan tangan kanan ke bawah harus seiring dan sejalan.

Kemudian prilaku tabe” ini membuat Safori, salah seorang mahasiswa PPL asal Daerah Istimewa Aceh, sangat terkesan.

Ya, selama PPL di SDN Mamajang 1 ini mengakui sangat terkesan dengan budaya Tabe’, ketika berjalan di depan orang lain. Selain ramahnya guru, budaya tabe yang di ajarkan ke murid juga sangat kental. “Terus terang sangat terkesan,” jelasnya.

Filosopi Budaya Tabe

Seperti dikutip dari blog Andikilawatii.blogspot.co.id dijelaskan bahwa, Tabe’ adalah minta permisi untuk melewati arah orang lain, dengan kata-kata “tabe”. kata tabe tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah mengarah ketanah atau ketanah makna dari perilaku orang bugis seperti demikian adalah bahwa kata tabe simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati.

Makna lain dari budaya tabe’ adalah satunya kata dan perbuatan (Taro Ada Taro Gau),bahwa orang bugis dalam kehidupan sehari-hari harus berbuat sesuai dengan perkataan. Antara kata tabe dan gerakan tubuh(tangan kanan) harus seiring dan sejalan. sehingga suatu pemaknaan yang dalam orang bugis jauh lebih dalam lagi.

Rumusan Sikap tabe’ adalah serupa dengan sikap mohon ijin atau mohon permisi ketika hendak melewati orang-orang yang sedang duduk berjajar terutama bila yang dilewati adalah orang-orang yang usianya lebih tua ataupun dituakan. Sikap tabe’ dilakukan dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut.

Sikap tabe’ dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian. Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya tabe’ ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki, yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang lewat.

Sekilas sikap tabe’ terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Sulawesi Selatan khususnya pada Suku Bugis. Sikap tabe’ dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal. Apabila ada yang melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabe’ maka yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama.

 

Editor : Andi Amriani

diolah dari berbagai sumber

Leave a Reply