Lezatnya Coto, Ada pada Kekentalan Kuahnya

13
Bagikan via
Coto Makassar

Coto Makassar, kuliner andalan yang satu ini sudah sangat terkenal, tidak hanya di Indonesia tetapi di sejumlah negara-negara besar pun banyak yang memuji coto sebagai makanan terlezat yang wajib untuk di coba, jika berkunjung ke kota daeng.

Tidak heran, wisatawan nusantara  dan mancanegara ketika tiba di Bandar Udara Sultan Hasanuddin langsung menanyakan warung coto andalan kota ini. Ya, saking banyaknya yang menjual coto hampir di seluruh wilayah, maka mereka tentu menanyakan warung yang menyajikan kelezatan yang wah..dan sudah diakui oleh jutaan orang yang telah mencicipi coto.

Sayangnya untuk warung coto, di pinggir- pinggir jalanpun rasanya enak. Sehingga kadangkala susah untuk menilai. Namun, yang biasanya terkenal untuk menjamu tamu dari luar, hanya ada beberapa tempat yang di rekomendasikan seperti Coto Gagak di Jl Nuri, Coto Nusantara di Jl Nusantara dan Coto Ranggong.

Selain tempatnya luas dan bersih, warung coto ini menghadirkan rasa tersendiri pada kekentalan kuahnya yang biasanya ada pada bumbu.

Lalu, kenapa coto jadi kuliner incaran ?

Coto merupakan kuliner khas Makassar yang sudah ada sejak zaman kerajaan Gowa, masakan ini sebagai menu yang wajib hadir untuk menjamu tamu.

Dari tahun ke tahun rasa yang ada pada kuah coto tidak berubah, kekentalannya menggoda lidah ada pada bumbu kacang dan olahan rempah-rempah, yang sudah di takar. Bahan dasar coto, berupa daging has sapi seperti hati, jantung, lidah, babat, dan daging. Namun, banyak juga penggemar coto yang meminta ususnya.

Jangan kaget, ketika masuk ke warung coto pelayan yang menghampiri akan bertanya. “Mau pesan apa ? orang yang pertama kali masuk ke warung coto, pastilah bertanya dalam hati, inikan warung coto, ya mau pesan cotolah.

Untuk pesan semangkuk coto yang harganya berbeda dibeberapa warung saja ada beberapa pilihan, tergantung  si pemesan. Ada daging saja, daging hati, limpah, babat saja, hati jantung, atau campur.

Amy, salah seorang penggemar coto yang menetap di Bekasi ketika berkunjung ke Makassar, ia menyempatkan untuk cicipi coto. Di kota kelahirannya, ia sering makan coto meskipun harganya lebih mahal, katanya Rp50 ribu per mangkok.

Nah, ketika datang ke Makassar, ia menyempatkan untuk makan siang di warung coto. Dari situ ia membandingkan, rasanya lebih enak makan di Makassar dan harganya lebih murah.

“Kok beda ya, mungkin tergantung yang membuatnya,” katanya sambil menikmati coto yang ada di depannya.

 

Penulis : Andi Amriani