Pertamina Disanksi Pulihkan Lingkungan

52
Bagikan via
Beaventura21

Kebocoran Pipa

JAKARTA – Insiden tumpahan minyak di Teluk Balikpapan Kalimantan Timur berbuntut panjang. Pertamina RU V Balikpapan diwajibkan melakukan pemulihan lingkungan akibat kebocoran pipa yang mencemari laut dan permukiman warga.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyatakan sudah menyiapkan sanksi administratif untuk PT Pertamina (Persero) terkait minyak tumpah di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Kita akan menjatuhkan sanksi administratif dengan melakukan pemulihan lingkungan akibat kebocoran pipa. Ini sesuai dengan hasil audit dan pengawasan lingkungan hidup terkait pencemaran tumpahan minyak,” katanya di DPR, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Menurut dia dari hasil audit, ada lima poin penting yang menjadi temuan terkait insiden tersebut. Siti menyebut, dokumen lingkungan tidak mencantumkan kajian perawatan pipa dan dampak penting alur pelayaran pada pipa tersebut.

Pertamina juga diketahui tidak memiliki sistem pemantauan otomatis dan peringatan dini terjadinya kebocoran. Selain itu, inspeksi atas kondisi pipa yang dibocor tidak memadai dan hanya dilakukan untuk sertifikasi.

“Sistem pengawasan Pertamina lemah dan lambat dalam mengantisipasi insiden tumpahan minyak ini. Jadi mereka mendapatkan sanksi utamanya terkait lingkungan. Untuk masalah lain-lain seperti pidana, bukan ranah LHK,” jelasnya.

Hingga saat ini, penanggulangan tumpahan minyak di Teluk Balikpapan terus dilakukan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan, luas areal yang tercemar akibatan kebocoran pipa itu mencapai 30.000 meter persegi.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menduga pipa ini patah akibat jangkar kapal yang buang sauh di Teluk Balikpapan. Direktur Jendral Perhubungan Laut, Kemenhub, Agus H Purnomo menjelaskan kapal berbendera Panama berada di lokasi hingga membuat pipa milik PT Pertamina (Persero) bocor.

Dia memaparkan, kapal yang akan memuat batubara tersebut tiba sandar di dermaga pukul 05.55 Wita. Berdasarkan izin persetujuan berlayar, kapal yang tersebut memuat 14 ribu metrik ton emas hitam.  Sekitar pukul 21.00 WIB, kapal mulai berlayar. Diperkirakan, disaat bersamaan jangkar kapal melorot dan jatuh ke laut karena kondisi cuaca yang buruk.

Bambang mengatakan awak kapal telah mengetahui bahwa di lokasi tersebut terdapat pipa gas milik Pertamina. Namun jangkar kapal itu, menurutnya, tak sengaja melorot sehingga membuat insiden ini terjadi.

“Dalam pelayaran ini, kapal ini diperkirakan, jangkarnya lolos. Ada miskomunikasi nakhoda sama penjaga jangkar. Jadi jangkar melorot,” katanya. ariani