Hama Pengganggu Jadi Sumber Pendapatan Masyarakat Laelo

87
Bagikan via

ECENG GONDOK (Eichhornia Crassipes)

Oleh : Andi Amriani

Bertahun-tahun, masyarakat yang tinggal di sekitar Danau Tempe, menganggap Eceng Gondok atau Eichhornia Crassipes sebagai hama pengganggu.

Konon kabarnya tumbuhan air yang mengapung ini, pertama kali ditemukan oleh seorang ahli botani Jerman, Carl Friedrich Philipp Von Martius. Secara tidak sengaja ketika sedang melakukan penjelajahan di Sungai Amazon, Brazil.

Di seluruh daerah di Indonesia, eceng gondok hanyalah tanaman perusak ekosistem. Perkembangannya sangat cepat, sehingga terkadang menghalangi mahluk hidup dalam air terkena sinar matahari.

Warga yang bermukim di sekitar Danau Tempe, Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan juga menganggap hal yang sama. Tidak pernah sedikitpun mereka memikirkan untuk memanfaatkan tumbuhan liar tersebut.

Mereka hanya bisa pasrah ketika eceng gondok mengganggu baling-baling perahunya,  ketika akan turun ke danau. Warga bahkan menikmati perkembangan tumbuhan tersebut yang hanya merusak pemandangan danau.

Darsam Belana, mahasiswa Magister Ekonomi Sumber Daya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas), yang baru saja menyelesaikan penelitian di Danau Tempe mengakui, warga sekitar danau juga menganggap eceng gondok sebagi tanaman perusak.

Namun di Lingkungan Baru Orai, Kelurahan Laelo, Kecamatan Tempe, eceng gondok merupakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Tahun 2014 mereka memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk dijadikan sebagai bahan baku, dalam membuat pupuk organik cair. Selain itu  juga dijadikan sebagai bahan baku pembuatan bio gas.

Pupuk organik cair ini, menurut masyarakat di Laelo lebih ampuh daripada pupuk urea, yang dahulunya sering digunakan untuk tanaman kedelai dan jagung milik mereka.

Dari hasil penelitian Darsam selama berbulan-bulan di daerah tersebut, terbukti bahwa memang terjadi peningkatan produksi,  sebelum menggunakan pupuk organik cair eceng gondok atau saat masih menggunakan pupuk urea.

Jumlah kepala keluarga yang menggunakan pupuk cair organik eceng gondok sebanyak 180 Kepala Keluarga (KK).  Rata- rata kepala keluarga mengelola satu hektar lahan, dan menggunakan pupuk cair dari eceng gondok tersebut.

Darsam Belana kembali menjelaskan bahwa  harga satu zak pupuk di Laelo sebesar Rp 120.000 rupiah. Jadi dengan adanya pupuk organik ini, petani di Laelo dapat menghemat Rp 21.600.000 Rupiah.

Cara mengolah eceng gondok menjadi pupuk cair juga tidak begitu sulit. Petani bahkan menjadikannya sebagai pekerjaan utama sama seperti bertani.

Setiap hari terlihat antusias dan semangat petani ke danau untuk mengambil eceng gondok , mengumpulkan hingga banyak. Setelah itu, mencincang menjadi potongan-potongan hingga kecil.

Potongan kecil dari eceng gondok di simpan dalam tong yang sangat besar, dan telah di pasang keran di bawahnya.

Eceng gondok dalam tong lalu di campur dengan cairan EM4. Setelah tercampur dengan rata, selanjutnya tong di tutup rapat hingga terfermentasi sampai 21 hari – 1 bulan.

“Setelah itu putar keran yang di tong tadi sehingga jadilah pupuk cair eceng gondok,” jelas Darsam Belana yang di temui di Warkop Pakopi BTP Makassar.

Tanaman Kedelai Meningkat 4,5 Ton

Pupuk cair tersebut tentunya sangat menguntungkan petani. Seperti yang diungkapkan Baharuddin Naje, (Kepala Gapoktan Kecamatan Tempe),tanaman kedelai masyarakat meningkat. Sebelum menggunakan pupuk cair, petani hanya memperoleh kedelai sebanyak 3 ton/Ha.

Saat ini tanaman kedelai petani pada musim panen menjadi 4,5 ton/Ha sehingga ada peningkatan 1,5 ton setelah menggunakan pupuk cair organik.

“Pemakaian pupuk organik cair baru dimulai sekitar setahun setelah program pemberdayaan dari LSM- LPPM (Lembaga Penelitian dan Pegabdian Masyarakat) masuk di Kelurahan Laelo,” terangnya.

Tidak hanya digunakan sendiri, dengan adanya hasil yang memuaskan tersebut, masyarakat Laelo juga menjual pupuk cair eceng gondok ke petani di daerah lain.

Di Laelo terdapat 10 kelompok yang beranggotakan lima orang. Sehingga ada 50 orang yang memproduksi pupuk organik untuk dijual.

Sekali produksi dapat menghasilkan 10 sampai 15 liter, proses fermentasi dari eceng gondok menjadi pupuk cair selama 21 hari sampai 30 hari.Hasil produksi kemudian dikemas dalam jeregen lima liter.

Setiap orang menghasilkan tiga jeregen pupuk ornaik cair. Harga pupuk organik per jeregen sebesar Rp150.000 rupiah. Pemasaran pupuk cair dilakukan oleh tiap-tiap kelompok, ada juga yang dijual secara perorangan. Selain di Kabupaten Wajo, juga didisrtibusikan ke Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara.

Grafis: Nilai Hasil Produksi Pupuk Cair Eceng Gondok di Danau
Tempe Tahun 2015

Sumber : data primer yang diolah 2015 Oleh Darsam Belana.