Menyulap Lahan Tandus Jadi Perkebunan Organik

99
Bagikan via
Tanaman Organik Bukit Tabarano

Bukit Agro Tabarano Wasuponda Lutim

oleh : Andi Amriani

 

Bertahun tahun sebuah lahan di desa Tabarano, tepatnya Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur tidak pernah tersentuh oleh tangan manusia. Lahan yang luasnya sekira 10 hektar itu, terlihat sangat menyeramkan.

Puluhan tahun, Bukit Tabarano, hanya sebuah padang tandus ditumbuhi ilalang dan beberapa pohon endemik berupa dengen dan kulahi.

Tidak ada tanaman yang tumbuh, penduduk pun tidak berani untuk menanam ataupun berkebun di wilayah tersebut. Sebab tanahnya mengandung mineral berat silika dan besi.

Sifat tanah di pebukitan Tabarano lempung, seperti tanah liat yang terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat.

Lempung membentuk gumpalan keras dan menyusut saat kering, membesar dan lengket apabila basah terkena air.

Kondisi seperti itulah yang membuat tanah rusak, pecah-pecah dan membentuk kerutan-kerutan bila kering.

Tingkat keasaman rata rata dibawah 5, karena itu, masyarakat kesulitan untuk mengolah menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

Beberapa tumbuhan endemik yang bisa tumbuh subur dilahan itu, hanya pohon kulahi dan pohon dengen. Selain itu padang rerumputan jenis ilalang beruas tebal dan keras.

Ichman, penduduk yang bermukim di sekitar bukit Tabarano dan juga memiliki lahan, mengakui dulunya masyarakat sekitar mengolah lahan untuk budidaya padi, lahan kering dan area pengembalaan ternak.

Kisaran tahun 80an masyarakat mulai mengolah lahan untuk tanaman cengkeh, namun tidak berlangsung lama karena pebukitan Tabarano kerap kali terbakar dimusim kemarau panjang.

Pebukitan di Tabarano sebagian tidak diolah hanya ditumbuhi rerumputan bagaikan padang berbukit teletabis.

Lalu, Februari tahun 2017, masyarakat mulai jenuh melihat kondisi Tabarano. Penduduk mulai memikirkan langkah untuk pengembangan lahan tersebut.

Berbagai carapun di tempuh, mencari informasi, mengumpulkan data-data bahkan hingga mengikuti berbagai kegiatan penyuluhan.

Lalu, muncullah ide, mengembangkan dengan Introduksi teknologi pertanian melalui pendekatan ramah lingkungan dan organik di wilayah tersebut, salah satunya dengan kompos.

Kompos dapat mengikat air secara jangka panjang dalam tanah selain itu mampu memperbaiki struktur tanah.

Dengan meningkatkan kandungan bahan organik melalui kompos, tentunya akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Sehingga aktivitas mikroba dalam tanah bermanfaat bagi tanaman.

Pikiran masyarakat sekitarpun sudah mulai terbuka. Beberapa bulan terakhir hasil dari kerja keras mereka pun mulai kelihatan. Bukit yang tadinya seram sudah mulai cerah, beragam aktivitas terlihat.

Bukit Agro Tabarano membuka ruang bagi siapa saja untuk belajar membuat kompos (gratis), selain itu bukit agro tabarano juga memproduksi kompos untuk kebutuhan petani dengan harga terjangkau atau ditukar dengan kotoran ternak atau hijauan (rumput dan dedaunan pohon).

Tak hanya itu, dilokasi ini terdapat pula green house pembibitan, taman kelinci, taman bunga, sayur mayur organik dan proses kompos.

Pengunjung dapat membawa pulang sayuran organik dan pupuk kompos dengan harga terjangkau.

Selain itu, ketika berkunjung ke Tabarano, sejenak mata akan disuguhkan pemandangan serba hijau, pesona alam yang indah, udara yang sejuk di pagi dan sore hari menghadirkan kesegaran tersendiri hingga lupa akan lelah.

Perkebunan organik di sepanjang lokasi menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk berkeliling di areal perkebunan.

Tak hanya itu, dilokasi ini terdapat pula green house pembibitan, taman kelinci, taman bunga, sayur mayur organik seperti sayuran, kacang panjang, tomat dan proses kompos. Serunya lagi, pengunjung dapat membawa pulang sayuran organik dan pupuk kompos dengan harga terjangkau.