Pelindo IV Lepas Ekspor Kayu Merbau dari Sorong ke China

88
Bagikan via

 Makassar,timurindonesia– PT Pelindo IV (Persero) kembali melepas ekspor langsung perdana dari Pelabuhan Sorong, Selasa, 15 Agustus 2017. Sukses dengan direct export (ekspor langsung) dari empat pelabuhan di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Pantoloan, Jayapura, Bitung dan Balikpapan,

Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung, dalam ekspor langsung perdana tersebut, CV. Sorong Timber Irian (Alco Timber Group) mengirim sebanyak 30 TEUs berisi komoditas unggulan, Kayu Merbau ke Shanghai, China melalui Pelabuhan Makassar.

“Ini adalah pelepasan ekspor langsung kelima dari KTI yang dilakukan Pelindo IV. Sebelumnya, kami sudah melakukan ekspor langsung dari empat pelabuhan lainnya, yaitu Pelabuhan Pantoloan di Palu, Pelabuhan Jayapura di Papua, Pelabuhan Bitung di Sulut dan Pelabuhan Balikpapan di Kalimantan Timur,” terangnya.

Dari Pelabuhan Sorong, komoditas unggulan Kayu Merbau yang memang banyak diincar konsumen di China tersebut dikirim menggunakan perusahaan pelayaran lokal, PT Salam Pacific Indonesia Lines atau yang lebih dikenal dengan PT SPIL.

Selain pejabat Pelindo IV, turut melepas ekspor langsung perdana tersebut juga Gubernur Provinsi Papua Barat, Dominggus Mandacan. Kegiatan itu juga dihadiri beberapa pejabat setempat antara lain, Wali Kota Sorong, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sorong, Natanael, KSOP Kelas I Sorong, Bea Cukai Sorong, Karantina Sorong, Kapolres Sorong Kota, Kapolres Sorong PT SPIL dan Direktur CV. Sorong Timber Irian (Alco Timber Group), Henoch Budi Setiawan. *andi amriani

 

Komoditas Kayu Merbau

Komoditas Kayu Merbau memang berasal dari wilayah timur Indonesia, utamanya di Papua. Sebelum ada direct call dan ekspor langsung, komoditas ini diketahui para importir di luar negeri, berasal dari Surabaya karena titik pengirimannya dari Pelabuhan Tanjung Perak.

Namun, sejak Pelindo IV membuka “pintu” direct call dan menggagas ekspor langsung melalui Pelabuhan Makassar, rerata komoditas unggulan di KTI mulai dikirim langsung ke luar negeri dari beberapa pelabuhan kelolaan Pelindo IV melalui Pelabuhan Makassar, menggunakan perusahaan pelayaran global asal Hongkong, SITC.

Kayu Merbau banyak tumbuh di wilayah Papua. Jenis kayu ini mudah dikenal karena tekstur seratnya yang berwarna merah kecokelatan dan banyak digunakan untuk panelling, lantai parket, pintu dan jendela. Kayu jenis ini masuk kategori kayu keras dan dengan tekstur yang dimilikinya, membuat Kayu Merbau menjadi sebuah simbol ekslusifitas dalam interior.

Ketua Indonesia Sawmill and Wood Working Association/Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia (ISWA) Papua, Daniel Gerden beberapa waktu lalu di Makassar, permintaan Kayu Merbau untuk konsumsi luar negeri selalu tinggi.

Pengusaha asal Papua ini mengungkapkan, para pengusaha yang tergabung dalam ISWA Papua bisa mengirim ratusan kontainer dalam sebulan. Permintaan terbanyak berasal dari China, Korea, Taiwan dan beberapa negara lainnya. Dibandingkan dalam negeri lanjutnya, permintaan luar negeri yang paling banyak.

Daniel menyebut, rerata pengimpor Kayu Merbau di luar negeri menjadikan komoditas ini sebagai bahan untuk meubel, utamanya untuk lantai berbahan kayu. “Kalau di sini [dalam negeri] orang kebanyakan menggunakan keramik sebagai lantai. Tetapi di luar negeri, mereka kebanyakan memakai kayu sebagai lantai dan rerata memilih menggunakan Kayu Merbau karena lebih kuat.”

Dia juga menuturkan, sebenarnya potensi kehutanan, perkebunan, pertambangan, perikanan dan kelautan di Provinsi Papua masih cukup besar. Khusus komoditas Kayu Merbau saja kata Daniel, populasinya masih sampai 100 tahun lagi. Jenis kayu yang disenangi di banyak negara ini memang cukup populer dan banyak tumbuh di provinsi paling timur di Indonesia ini.

“Hampir semua hutan di daratan Papua ada tanaman Kayu Merbau dan saat ini, belum sampai 5% dari potensi yang ada, yang sudah dikelola. Bayangkan saja bagaimana besarnya potensi alam yang ada di Papua,” ujarnya. *andi amriani