We Sangiang, Kisah Cinta di Tanah Bugis

65
Bagikan via

Digarap Lima Bulan Di Pentaskan Dua Jam

Cerita yang berlatar belakang adat di tanah Bugis ini, menampilkan kisah roman percintaan sehidup semati antara dua sejoli yang telah mengikat janji. Cerita Percintaan yang di pentaskan di Makassar waktu itu, menyerupai kisah cinta Romeo dan Juliet. Hanya saja We Sangiang ditulis ditulis oleh AM Muchtar sejak tahun 1981. Ceritanya sudah berkali-kali dipentaskan.

Teringat saat pertunjukan ini dipentaskan di Gedung Kesenian Kota Makassar. Alur cerita, ligting serta aktor yang berperan di atas panggung mampu membawa kisah ini seperti gambaran masa lalu yang hadir di depan mata. Dari atas panggung terlihat layar hitam sedikit demi sedikit mulai terangkat, dan dari balik tirainya terlihat tokoh utama dan beberapa dayang-dayang sedang bercanda. Dibawah panggung puluhan penonton terlihat serius mengamati setiap gerak yang dilakoni pemain teater, We Sangiang I Mangkutani.

Menurut sang penulis pentas teater yang sudah sangat istimewa dan sangat klasik untuk apresiasi seni budaya di Sulsel. Penggarapannya pun membutuhkan waktu selama lima bulan, sementara pementasannya hanya dua jam. Menurut Bahar Merdhu Pimpinan Produksi Teater We Sangiang, persiapan pementasan membutuhkan waktu yang sangat lama sebab sangat sulit mengumpulkan pemain yang mampu membawakan karakter dalam rokoh tersebut.

Dari awal pertunjukan hingga pertengahan, kemampuan pemain dalam berakting mampu menggugah jiwa suci pnonton. Sehingga sejumlah penonton terbawa emosi hingga meneteskan air mata. Dimulai dari kisah seorang putri Arung Mangkau’E ri Tana Ogi dan La Tenrifada, yakni We Sangiang I Mangkutani.

We Sangiang menjalin kisah asmara dengan salah seorang putra kerajaan batu Batu dari Wawobulu La Fadomi. Kisah cinta diantara keduanya itu terjalin sejak ia menginjak dewasa, yang kebetulan sejak kecil mereka bersahabat. Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, We Sangiang tetap memupuk dan menumbuhkan benih-benih cinta tersebut. Bahkan mereka sepakat untuk mengakhiri kisahnya dipelaminan.

Namun, yang terjadi. Sejak usia 8 tahun. Kedua orang tua We Sangiang telah menjodohkan putrinya dengan putra raja dari Kerajaan Luwu. Janji itulah yang terus diembannya hingga anaknya menjadi dewasa. Karena memegang teguh adat dan tidak akan mengingkari janji, orang tuanya pun menyampaikan hal itu ke We Sangiang. Apalagi ketika We Sangiang, Putri Raja Bone rela mati bersama kekasihnya La Paelori daripada harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.

Niat Raja Bone Arung Mangkau menikahkan putrinya segera, pun sampai ketelinga kekasih We Sangiang, dan saat itulah We Sangiang berjanji memilih mati daripada harus menghianati cinta suci yang telah dibinanya selama bertahun-tahun. Mendengar kekerasan hati sang putri, Arung Mangkau pun terpaksa menegakkan adat dan Si’ri.

Dia mengutus putranya, Kakak dari We Sangiang untuk menghabisi nyawa sepasang manusia yang memadu kasih tanpa restu orang tua tersebut. Hingga diakhir petunjukan, We Sangiang pun terpaksa bunuh diri melihat kekasihnya meninggal di ujung keris kakaknya sendiri. aniek