Tradisi Arak-Arakan Kanre Maudu di Paropo

57
Bagikan via

Berbicara tradisi Maulid di Sulsel pada umumnya dan Makassar pada khususnya, perayaan maulid biasanya dilaksanakan bervariasi dan dirayakan sesuai tradisi adat dan kepercayaan masing-masing kampung.

Keluruhan Paropo yang berada di Kecamatan Panakkukang, setiap tahun merayakan Maulid dengan menyebutnya arak-arakan Kanre Maudu Lompoa ri Paropo. Kegiatan tahunan ini, selalu menarik perhatian masyarkat, bahkan biasanya banyak wisatawan yang datang hanya untuk menyaksikan perayaan Maulid di kelurahan Paropo. Merekapun terlihat asyik dan bahagia menyaksikan perayaan yang begitu heboh.

Bagaimana tidak, pelaksanaannya disertai beragam atraksi budaya. Mulai dari ganrang bulo, tari pepe’pepeka ri makka, tari shalawat badar dan tari paraga.

Saya sendiri warga Makassar yang sudah lama tinggal dan menetap di Kota Daeng ini, sempat menghadiri acara perayaan Maulid di Paropo tahun 2012.  Karena merasa penasaran ingin melihat langsung perayaannya. Kalau tidak salah, pada waktu itu dilaksanakan hari minggu pagi tanggal 25 Februari 2012.

Kampung kecil yang sempit di daerah pinggiran Makassar, ternyata mampu menghadirkan sedikitnya 1.500 pengunjung pada acara Arak arakan kanre Maudu tersebut. Kegiatannta dikemas sedemikian menarik dan mendatangkan sejumlah pejabat Pemerintah Kota Makassar.

Waktu itu saya datang ke Paropo pukul 07.00 wita, masih terlalu pagi. Tetapi sudah sangat ramai, masyarakat yang menggunakan pakaian adat berkumpul di lorong kampung. Sebagian menggunakan seragam majelis Ta’lim, seragam tari bahkan ada juga yang menggunakan seragam sekolah.

Kebersamaan warga paropo terpancar saat berjalan keliling dari Jl Abdullah dg. Sirua, Jl Adiyaksa, Jl Toddopuli VII, Jl Borong Raya dan kembali ke Paropo. Menempuh perjalanan panjang dengan mengarak empat macam Kanre Maudu (nasi maulid).

Meskipun membawa nasi sambil berjalan, Namun tidak membuat mereka lelah. Sebaliknya mereka sangat bangga memperlihatkan kepada semua masyarakat bahwa di Paropo seperti ini pelaksanaan maulid.

Tidak heran, sejumlah pengemudi turut mengabadikan kegiatan yang terbilang unik itu. Kanre Maudu yang terdiri atas, empat macam songkolo di letakkan dalam tempat yang dibuat menyerupai rumah adat, disekeliling jendela rumah tergantung 75butir telur yang sudah diberi warna.

Di Arak Keliling Kampung

Nasi tersebut diarak 1.500 orang yang tergabung dalam 27 barisan, barisan pertama membawa gendang, pembawa gendang ini dijadikan sebagai simbol yang menggambarkan tingkah laku yang halus, sopan santun serta ucapan dan gerak yang menawan.

Barisan pembawa bendera membawa symbol persatuan dan kesatuan, satu kata dalam perbuatan. Barisan selanjutnya membawa 7 tombak, sebagai symbol keamanan, ketentraman, keragaman, dan kesejahteraan.Barisan usungan kanre Maudu, diusung empat orang melambangkan empat sahabat nabi dan Rasul Allah.

Waktu itu, saya juga sempat bertanya kepada salah seorang yang di tuakan, yang menurut masyarakat disana, dia adalah Pemangku adat Paropo ustadz Japri Baco.Beliau dengan santainya menjawab semua pertanyaan saya, ia menjelaskan secara detail.

Menurutnya, perayaan maulid sudah menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan warga Paropo. Tetapi arak-arakan nasi maulid atau Kanre Maudu dimulai sejak tahun 2000.  Sejak tahun itupula masyarakat paropo menyebutnya dengan nama Maudu Lompoa.

Menggunakan nama tersebut, perayaannya disertai atraksi budaya dan disaksikan masyarakat luas yang ada di Makassar.Dia juga menjelaskan maudu pertama kali, dilaksanakan di kabupaten Gowa utara dibawah kekuasaan Gallarang Mangasa. Paropo juga diakuinya masuk wilayah gowa.

“Kami menyebut ini sebagai kampung yang berada di gowa utara,” katanya yang dimintai komentarnya usai arak-arakan.

Japri lebih lanjut menceritakan, pada pelaksanaan maulid pertama semua masyarakat di dua kecamatan yakni kecamatan Panakkukang dan Manggala masuk ke paropo membawa kanre maudu. Tetapi sejak tahun 2000 tradisi itu tidak ada lagi, sehingga masyrakat Paropo merubahnya dengan pelaksanaan arak-arakan.

Dalam arak-arakan tersebut, masyarakat membawa empat macam kanre maudu, dan mengusung 75 telur yang beraneka warna. Keempat kanre maudu ini masing-masing memiliki makna tersendiri.

Untuk kanre maudu yang terbuat dari ketat hitam dijadikan sebagai simbol iman dan islam di kabupaten Gowa pada waktu itu masih kabur. Beras ketan putih atau songkolo putih disisipkan satu telur yang artinya masyarakat Gowa sudah siap menerima islam tetapi belum sempurna.

Songkolo yang dibuat berwarna kuning memiliki arti masyarakat Gowa sudah menerima islam dengan sempurna tetapi syarikatnya belum sedangkan songkolo berwarna merah menandakan bahwa masyarakat Gowa menerima islam dan telah memiliki syarikatnya.

Melaksanakan maudu lompoa dengan pelaksnaan karnaval yang dihadiri sedikitnya 1.500 masyarakat dinilai warga paropo bukan sesuatu yang gampang. Tetapi karena sudah mendarah daging dibenak warga, sehingga setiap pelaksanaan maulid, masyarakat tumpah ruah untuk berpartisipasi. Bahkan ada warga yang menunda tugasnya keluar daerah hanya untuk menghadiri perayaan maudu lompoa. *andi amriani